Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2016

Pesantren Al-Mukhtariyyah Gelar Haul Pendiri

Subang, Pondok Darussalam Jatibarang. Jelang bulan ramadhan tiba, Pesantren Al-Mukhtariyyah dan segenap Bani Mukhtar rutin mengadakan haul Abah Mukhtar, seorang tokoh yang mendirikan Tajug Al-Mukhtar pada tahun 1950-an, tahun ini adalah haul yang ke 27. Kegiatan tersebut digelar pada jum`at (5/6) kemarin.

Kegiatan Haul Abah Mukhtar tersebut digelar di dua tempat, di Tajug Al-Mukhtar diisi dengan pengajian satu khataman Alquran dan dilanjut dengan tahlilan di komplek pemakaman.

Pesantren Al-Mukhtariyyah Gelar Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Mukhtariyyah Gelar Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Al-Mukhtariyyah Gelar Haul Pendiri

H. Aep Robayat (50), selaku cucu pertama pasangan Abah Mukhtar dan Ibu Aisyah dalam sambutannya mengungkapkan bahwa Abah Mukhtar merupakan sosok yang berhasil memberikan contoh yang baik untuk anak, cucu dan para santrinya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Abah Mukhtar adalah seorang yang rajin beribadah, tiap hari kalau mau subuh ambil wudlu ke kali yang ada di bawah sana, pakai sotop (lampu yang dimasukan ke dalam kaleng dan dapat memberi penerangan laiknya lampu senter) ujar Aep di hadapan ratusan hadirin yang terdiri dari keturunan Abah Mukhtar, santri Pesantren Al-Mukhtariyyah Kalijati dan Pesantren Al-Karimiyyah Patokbeusi.

Abah Mukhtar, tambah Aep, adalah sosok yang supel, tidak punya musuh, kalau pun ada yang benci, ia tidak pernah membencinya. Selain itu, ia pun seorang yang sederhana, makan pun seadanya, bukan berarti miskin.

Pondok Darussalam Jatibarang

Hal itu, tambah dia karena hartanya digunakan pendidikan, Abah punya usaha oncom, minyak sayur dan berladang dan hasilnya untuk menyekolahkan anak-anaknya, dan Alhamdulillah semua anak-anaknya berhasil menjadi guru, pungkasnya.

Redaktur : Abdullah Alawi

Kontributor : Aiz Luthfi

Keterangan foto Abah Mukhtar dan jamaah usai mengadakan pengajian di Mushola Al-Mukhtar pada tahun 1970-an. Ia kedua dari kiri, menghadap ke kanan, memakai baju putih.

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45623/pesantren-al-mukhtariyyah-gelar-haul-pendiri

Pondok Darussalam Jatibarang

Rabu, 27 Agustus 2014

Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi)

Pondok Darussalam Jatibarang - Berbagai studi tentang pesantren menunjukkan, meski pelan pesantren senantiasa mengalami perubahan. Namun karena sangat pelan, perubahan-perubahan itu baru bisa dikenali melalui waktu yang panjang. Dalam ilmu sejarah hal demikian dikenal sebagai longe-durée, yaitu sejarah jangka panjang terkait dengan perubahan struktural yang lambat sekali. Di sini diperlukan ketelitian dan ketelatenan dalam mengikuti denyut-denyut kecil perubahan itu.

Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi) - Pondok Darussalam Jatibarang
Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi) - Pondok Darussalam Jatibarang


Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi)

Perubahan di pesantren senantiasa dikaitkan dengan figur kiai. Dalam studinya, Manfred Ziemek (1983) misalnya, membuktikan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berpengaruh penting bagi perubahan sosial masyarakat desa. Demikian juga dengan Hiroko Horikoshi (1987). Ia menyoroti peran kiai sebagai aktor penting dalam perubahan sosial.

Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi) - Pondok Darussalam Jatibarang
Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi) - Pondok Darussalam Jatibarang


Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi)

Menurutnya, kiai berperan penting sebagai penyaring informasi untuk memacu perubahan pesantren dan masyarakat sekitarnya. Kiai juga bertindak sebagai mediator dan cultural broker (makelar budaya).

Meski peneliti-peneliti tersebut berhasil membuktikan perubahan-perubahan di pesantren dan peran kiai dalam proses perubahan itu, namun perubahan itu tetap dalam konteks pengembangan peran pesantren. Aspek-aspek ideologis pesantren masih tetap dalam bingkai kulturalnya.

Namun, dalam waktu yang panjang, perubahan dalam pesantren tidak selalu menuju ke arah yang dikehendaki. Ada perubahan-perubahan menuju ke arah yang mengkhawatirkan, yaitu metamorfosis sejumlah pesantren menjadi kekuatan wahabisme. Hal ini diamati secara cermat dalam desertasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ditulis M. Suparta, sekarang menjabat sebagai Irjen Depag RI. Desertasi ini diujikan pada akhir Agustus tahun 2008.

Studi tentang perubahan orientasi pesantren ini mengambil fokus dua pesantren, yaitu Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Desertasi yang diujikan pada 20/9/08 itu memperlihatkan bahwa perubahan orientasi keilmuan kiai mempunyai pengaruh besar untuk mengubah wajah pesantren yang pada gilirannya mempengaruhi wajah keagamaan masyarakat.

Dua pesantren yang distudi desertasi ini termasuk pesantren tua, yakni Pesantren Maskumambang berdiri tahun 1859 oleh Kiai Abdul Jabbar (w. 1907), dan pesantren al-Fatah didirikan pada 1912 oleh Kiai Siddiq (w. 1950). Pada awalnya, dua pesantren ini dapat dikatakan sebagai tipikal pesantren NU yang mengembangkan paham ahl al-sunnah wa al-jama'ah (aswaja).

Namun dalam perjalanannya, kedua pesantren tersebut berganti wajah. Pesantren Maskumambang berganti wajah dari pesantren salafiyah-aswaja menjadi modern-wahabi. Sedang al-Fatah Magetan berubah dari salafiyah-tarekat-aswaja menjadi pesantren berwajah majlis tabligh.

Perubahan itu merupakan hasil dari interaksi dua pesantren ini dengan dunia luar. Pesantren Maskumambang bergerak ke arah wahabi pada generasi kedua, yang diwakili figur Kiai Ammar Faqih (w.1965) setelah dia belajar ke Mekah dan Madinah dan persentuhannya dengan karya Muhammad bin Abdul Wahab, Kitab al-Tauhid ketika menjalankan ibadah haji. Perubahan orientasi Pesantren Maskumambang semakin jelas ketika Kiai Nadjih Ahjad mengganti posisi Kiai Ammar Faqih.

Sedang pesantren al-Fatah Magetan berubah wajah menjadi majlis tablig setelah Kiai Uzairon belajar ke Mesir dan Kiai Noor Tohir belajar ke Mekah. Kedua pengasuh al-Fatah tersebut berkenalan dengan majlis tablig yang didirikan Maulana Muhammad Ilyas bin Muhammad Ismail al-Kandahlawi (w. 1944). Hubungan itu dilanjutkan dengan kunjungan jama'ah tabligh dari India dan Pakistan ke al-Fatah Magetan pada 1984 dan 1988.

Peristiwa ini pada 1989 sempat memunculkan ketegangan antara Pesantren al-Fatah dengan PCNU Magetan. Ketika itu, Kiai Uzairon menjabat sebagai Rais Syuriah, dan Kiai Noor Tohir sebagai Katib Syuriyah PCNU Magetan. Forum tabayyun itu ternyata tidak menemukan titik temu.

Kiai Uzairon dan Kiai Noor Tohir akhirnya menyatakan keluar dari NU dan memilih mengembangkan majlis tabligh. Sejak itu, Pesantren al-Fatah semakin menjauh dari komunitas NU dan semakin mantap mengembangkan karakter keberagamaan majlis tabligh dengan khuruj (keluar menyebarkan agama) menjadi ciri khasnya.

Karena peristiwa ini, banyak wali santri yang berontak. Wali santri banyak yang tidak bisa menerima pilihan pengelola Pesantren al-Fattah. Akhirnya, sekitar 500 santri ditarik orang tuanya dan dipindahkan ke pesantren lain.

Penulis yakin, metamorfosis dan perubahan orientasi pesantren demikian tidak hanya dialami Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Masih banyak sejumlah pesantren NU yang ikut tergerus gelombang wahabisme. Kalau Ketua Umum PB NU, Hasyim Muzadi, menyatakan Islam Indonesia diserang ideologi trans-nasional, kasus Maskumambang dan al-Fatah bisa menjadi contoh riil.

Bahkan, kini medan pertarungan itu tidak hanya melalui pesantren. Masjid-masjid sebagai basis kehidupan sosial keagamaan masyarakat juga menjadi ajang kontestasi. Dari berbagai informasi yang penulis peroleh, masjid-masjid yang dikelola warga NU banyak sekali yang “diserobot” kelompok wahabi dan aliran puritan lainnya.

Dari kenyataan tersebut, ada beberapa hal yang layak dicatat. Pertama, jika selama ini NU mengklaim mempunyai soko guru yang kokoh, yaitu pesantren, ternyata kini pesantren telah mengalami metamorfosis yang melahirkan wajah baru pesantren yang jauh dari karakter ke-NU-an. Meski saya tidak percaya semua pesantren NU akan terbawa arus ini, namun jika tidak diwaspadai bukan tidak mungkin paham keagamaan NU akan semakin dipandang asing di negerinya sendiri. NU juga akan semakin kehilangan legitimasi pesantren.

Kedua, pelajaran berharga dari Pesantren Maskumambang dan al-Fatah adalah ternyata jaringan tokoh-tokoh pesantren yang dibangun melalui belajar di luar negeri, terutama Mekkah dan Madinah mempunyai pengaruh besar dalam mengubah wajah pesantren. Memang tidak sumua alumni Mekkah dan Madinah menjadi wahabi, namun mengabaikan hal ini juga bukan sikap yang baik.

Ketiga, NU memang punya lembaga yang secara khusus membidangi soal pesantren, yaitu Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyah (RMI). Lembaga ini perlu diorientasikan untuk melihat perkembangan pesantren-pesantren NU dari sisi orientasi ideologisnya. Hal ini memang bukan perkara mudah. Meski NU mengklaim mempunyai basis pesantren, tapi pesantren di lingkungan NU mempunyai otonomi penuh yang tidak bisa dicampuri dan diintervensi pengurus struktural NU. Pesantren NU lebih bisa digerakkan melalui hubungan guru-murid, daripada hubungan struktur NU.

Memang, perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak. Arus perubahan terkadang juga tidak terduga. Dan kini, pesantren di hadapkan pada berbagai pilihan perubahan. Harus diakui, di sini umat Islam, termasuk warga NU dan pesantren, sering tergagap dalam menghadapi berbagai arus perubahan. Saya yakin, pesantren memang tidak akan bisa hilang dari bumi Indonesia. Masalahnya adalah pesantren jenis apa yang akan hidup. Inilah tantangan yang harus dihadapi. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Rumadi, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/setelah-pesantren-berubah-wajah-dari-nu-ke-wahabi.html

Sabtu, 12 Juli 2014

IPNU NTB Rayakan Harlah Sekaligus Rakerwil

Mataram, Pondok Darussalam Jatibarang. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat merayakan hari lahir (Harlah) yang ke-62 dan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) bersama Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang IPNU se-NTB (19/02/16).

Acara harlah ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Asep Irpan Mujahid dan dihadiri juga oleh ketua PWNU NTB Tgh A Taqiudin Mansur dan jajaran pengurus.

IPNU NTB Rayakan Harlah Sekaligus Rakerwil (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU NTB Rayakan Harlah Sekaligus Rakerwil (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU NTB Rayakan Harlah Sekaligus Rakerwil

Asep Irpan dalam sambutannya mengatakan, "IPNU hari ini harus kita jaga dan kita tingkatkan kualitasnya."

Dikatakan juga, karena IPNU hari ini adalah NU di masa depan, kalau IPNU hari ini main-main maka NU ke depan juga hasilnya juga akan main-main, tegasnya

Pondok Darussalam Jatibarang

Ketua PWNU NTB juga mengatakan bahwa IPNU hari ini jauh lebih berkembang dari sebelumnya, terbukti dengan program-program yang di laksanakan oleh IPNU terutama di NTB, terangnya. Red: Mukafi Niam

Pondok Darussalam Jatibarang

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66024/ipnu-ntb-rayakan-harlah-sekaligus-rakerwil

Pondok Darussalam Jatibarang

Rabu, 09 Juli 2014

PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menyerahkan kertas kerja organisasi selama 15 tahun periode kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atau masa khidmah 1984 hingga 1999 ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Saat ini kertas kerja itu telah tertata rapi di ruang perpustakaan di lantai 2 kantor PBNU.

PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI

Menurut Kepala Perpustakaan PBNU, H Satiiri Ahmad, penyerahan arsip PBNU yang selanjutnya disebut Kertas Kerja Gus Dur itu dilakukan setelah melalui tahap identifikasi awal oleh pihak ANRI.

Pondok Darussalam Jatibarang

Selama sekitar lima bulanan sudah dilakukan proses akuisisi. Ada tim dari ANRI yang datang untuk melakukan identifikasi, misalnya apakah naskah ini asli atau foto copy, katanya kepada NU Onine, Senin (19/12).

Pondok Darussalam Jatibarang

Kertas kerja Gus Dur akan diserahkan secara resmi kepada pusat arsip Indonesia itu sebelum pelaksanaan Muktamar ke-33 NU, awal Agustus 2015 mendatang.

Wakil Sekjen PBNU H Abdul Munim DZ mengatakan, kerjasama dengan ANRI kali ini adalah tahap kedua. Tahap pertama, tahun 1983 silam beberapa saat sebelum kantor PBNU direnovasi, KH Moenasir Ali (sekjen PBNU waktu itu) menyerahkan arsip dari kantor di jalan Kramat Raya Jakarta Pusat ke pihak ANRI.

Kerjasama dengan pihak ANRI diteruskan oleh Gus Dur pada 1985. Arsip yang diserahkan oleh KH Moenasir Ali itu adalah kertas kerja PBNU selama periode 1952 hingga 1982. Secara berkala PBNU meninjau proses pengelolaan arsip NU di gedung pusat ANRI Jalan Ampera, Jakarta Selatan.

Saat ini arsip PBNU yang telah diserahkan ANRI untuk tahap pertama sudah selesai dikatalogisasi. Pihak ANRI sudah melakukan tematisasi, dan memberikan catatan-tatatan serta deskripsi untuk membantu pembaca dalam memahami konteks sejarah pada saat arsip itu dibuat.

Pada 20 November 2014 lalu, ANRI bekerja sama dengan PBNU menggelar kegiatan Ekspose Inventaris Arsip NU 1952-1982. Kegiatan dibuka langsung oleh Deputi Bidang Konservasi M. Taufik yang diikuti dengan dialog seputar kebijakan pengolahan arsip NU di ANRI dan peta arsip NU. Dari PBNU waktu itu diwakili oleh Wakil Sekje Abdul Munim DZ dan Kepala Perpustakaan Satiri Ahmad.

Arsip NU di ANRI berisi bermacam-macam dokumen surat-menyurat, hasil muktamar, pertemuan alim-ulama, sidang pleno, administrasi keanggotaan, hingga catatan keuangan, kepengurusan, dan badan otonom dan lembaga NU.

Arsip yang dipindahkan dari kantor PBNU pada masa khidmah 1952 hingga 1982 ke gedung ANRI juga memuat informasi mengenai amal usaha dan peran NU terkait pendidikan, ekonomi, politik, sosial, ketenagakerjaan, keamanan, pertahanan, dan hubungan luar negeri baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, revolusi hingga masa kemerdekaan RI.

Arsip ini merupakan etalase NU. Melalui kerja sama dengan ANRI, diharapkan publik akan melihat NU secara positif, kata Munim DZ. (A. Khoirul Anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57112/pbnu-akan-serahkan-kertas-kerja-gus-dur-ke-anri

Pondok Darussalam Jatibarang

Sabtu, 24 Agustus 2013

Kurangajar, Tengku Zulkarnain Tuduh Islam Nusantara Itu Proyek Ada Uang

Pondok Darussalam Jatibarang - Betul nian kata tuan Fahri Hamzah dalam twitternya beberapa waktu. Apa itu? Ia menyebut dengan tanda tanya kalau orang bertato lebih berbahaya daripada orang yang berjenggot. Duh, tuan Fahri memang selalu membuat tweet yang lumayan ngawur kali ini ada benarnya banyak walau salahnya sedikit. Lihat cuitan Tuan Fahri al-wakil partai emboh di DPR RI itu.

Foto Bu Susi (atas) bertato, dan (bawah) berjenggot, adalah Patrialis Akbar Tweet Fahri tersebut sebenarnya sudah tergambar jawabanya pada foto di atas. Bu Menteri Susi yang bertato ternyata tidak lebih berbahaya eksistensinya daripada yang berjenggot itu. Justru kalau Fahri mau melek sedikit, bukan merem-merem melek, ia akan tahu bahwa yang berjenggot kadang (kalau tidak mau disebut sering) lebih berbahaya daripada yang berjenggot.

Kurangajar, Tengku Zulkarnain Tuduh Islam Nusantara Itu Proyek Ada Uang - Pondok Darussalam Jatibarang
Kurangajar, Tengku Zulkarnain Tuduh Islam Nusantara Itu Proyek Ada Uang - Pondok Darussalam Jatibarang


Kurangajar, Tengku Zulkarnain Tuduh Islam Nusantara Itu Proyek Ada Uang

Buktinya adalah Tuan Tengku Zulkarnain, pria berjenggot yang selama ini disebut ulama. Baru-baru ini, Tengku Zulkarnain membuat fitnah murahan kalau Islam Nusantara adalah proyek yang ada duitnya. Itu ia katakan ketika menjawab akun twitter Masnita Djisla yang heran karena sejak ngaji dari kecil tidak pernah mendengar istilah Islam Nusantara. Ini tweetnya:

Tweet Tengku Zulkarnain atas Islam Nusantara Tuduhan langsung yang tanpa konfirmasi tersebut dilontarkan Tengku Zulkarnaen dalam kapasitasnya sebagai, katakanlah, ulama sebelah. Ia tidak menyebut uangnya darimana, jumlah besaran berapa, dan mengapa isu Islam Nusantara sampai dibahas oleh petinggi negara-negara Eropa, Amerika hingga Timur Tengah. Wah, dananya bisa ribuan triluan itu.

Orang berjenggot wedus gibas begitu sepertinya tidak pernah mempelajari makna Islam Nusantara, yang sejak dijadikan tema Muktamar NU ke 33 di Jombang pada tahun 2015 lalu tetap menggema di jagad intelektual muslim dunia hingga saat ini, tanpa pengawalan, tanpa konsolidasi dan fokus gerakan seperti demo GNPF dalam aksi 212 atau 411.

Pondok Darussalam Jatibarang

Para penggerak kajian Islam Nusantara, terutama kalangan muda NU hingga kini tetap bergairah karena ia bukan aliran apalagi madzhab. Islam Nusantara adalah kajian Islam tanpa melupakan konteks budaya, tradisi dan kerukunan umat beragama. Dan itu sudah berlangsung ratusan tahun di bumi Nusantara.

Pondok Darussalam Jatibarang

Bagaimana dengan GNPF yang selalu panik tiap hari hingga harus mengadakan shalat subuh berjamaah dimana-mana, apa itu tanpa sokongan dana petro dollar? Apakah Tengku Wisnu, eh, Zulkarnain ding, tidak mendapatkan kucuran dana ratusan miliar dari pemesan demo? Apa itu tidak berbahaya dan tidak mengancam kesatuan bangsa?

Kirim saja uangnya ke Pondok Darussalam Jatibarang, pasti lebih bermanfaat. Biar tidak digunakan untuk aksi kurangajar oleh pemilik tweet kurangajar itu. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kurangajar-tengku-zulkarnain-sebut-islam-nusantara-proyek-ada-uang.html

Sabtu, 11 Agustus 2012

25 Ribu Orang Ziarahi Makam Gus Dur

Jombang, Pondok Darussalam Jatibarang. Kharisma KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sangat luar biasa. Memperingati 1.000 hari wafatnya mantan Presiden Indonesia yang digelar Kamis (27/9/2012) malam, diperkirakan diikuti 25 ribu orang.

Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jatim Sinarto mengatakan, besarnya luberan peziarah terlihat dari pergerakan orang yang keluar masuk makam Gus Dur yang berada di kompleks Pondok Pesantren Tebu Ireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

25 Ribu Orang Ziarahi Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
25 Ribu Orang Ziarahi Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)


25 Ribu Orang Ziarahi Makam Gus Dur

Berdasar pantauan stafnya di lokasi makam dan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPBD), hingga pukul 15.00 WIB, jumlah pengunjung diperkirakan sudah mencapai 10 ribu orang.

Namun menjelang petang hingga malam hari nanti, luberan peziarah baik dari wisatawan nusantara (Wisnus) maupun wisatawan mancanegara (Wisman) dipastikan semakin banyak. Kami perkirakan jumlah pengunjung yang datang bisa mencapai 25 ribu orang, ujarnya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Jumlah tersebut, ujar pejabat yang juga dalang ini, naik 500 persen dibandingkan pengunjung pada hari biasa yang hanya 5-6 ribu orang.

Pondok Darussalam Jatibarang

Bahkan dibandingkan pengunjung yang ke makam Sunan atau Wali Songo yang ada di Jatim, jumlah yang datang ke makam Gus Dur ini tetap lebih banyak.Bahkan luar biasanya, mereka yang datang ke makam Gus Dur tidak hanya dari kalangan muslim saja, tapi juga lintas agama, jelasnya.

Redaktur : Hamzah Sahal

Sumber : Tribunnews

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39997/25-ribu-orang-ziarahi-makam-gus-dur

Sabtu, 17 Desember 2011

Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation

Blitar, Pondok Darussalam Jatibarang. The Jihad resolution issued by Nahdlatul Ulama (NU), the countrys largest Muslim organization, on October 22, 1945, was a significant contribution of NU Muslim scholars (ulema) in dealing with the nations situation in the time. The NUs success should inspire all of the NU followers (Nahdliyin) to be capable of reading the current situation.

According to Ach. Dofir Zuhri that all NU cadres must restore their critical reasoning in reading the nations situation, since challenges faced by NU and the nation are highly complex such as economic, cultural, political, and so forth.

Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation (Sumber Gambar : Nu Online)


Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation

"For that reason, restoring the critical reasoning is essential in todays conditions, namely the cold war or a war of ideology," he said at a meeting held by Lakpesdam NU of Blitar here on Saturday (26/10).

Pondok Darussalam Jatibarang

Meanwhile, Syaiful Maarif speaking at the forum said that now NU had not had ulema whose charisma and sufi attributes such as wara (scrupulous abstinence) are the same as such NU ulema as KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah and KH Wahid Hasyim.

"Thats why, NU cadres, especially todays clerics must reflect and imitate the ulema personalities," he explained.

Pondok Darussalam Jatibarang

The Secretary Lakpesdam NU of Blitar Gigih Wardana said the commemoration of the NU jihad resolution should be annual agenda.

"The commemoration is a reflection momentum for NU cadres to continue the ulema and pesantren struggle in fighting for the Indonesian independence," he said.

As we know, the founder of Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asyari issued the jihad resolution for supporting and encouraging Muslims to join the battle and fight against the reoccupation of Indonesia by foreign troops.

The fatwa followed a meeting of ulema from Java and Madura in Surabaya to respond to the proclamation of Indonesias independence by Sukarno and Mohammad Hatta in Jakarta on Aug. 17, 1945.

The fatwa was written in pegon, an Arabic script but in Indonesian or Javanese (Amiq, 1998; 88). It says, among other things, that there is an obligation (fardlu ain) for Muslims to fight against infidels (the Dutch) in order to defend Indonesian independence, that those who died during the fight against NICA (Netherland Indies Civil Administration) would be considered martyrs and the killing of those who undermine the movement and break national unity is legitimate. This fatwa later on became well-known as the Jihad Resolution.

Naturally, the issuance of the fatwa stimulated fighters to stream into Surabaya and fight the Allied troops. The fighters included followers of the Hizbullah and Sabilillah groups from Surabaya and the surrounding cities such as Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang and others.

Reporting by Imam Kusnin; Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (Regional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47874/nahdliyin-told-to-039be-brilliant-in-dealing-with-the-nation039s-situation039

Pondok Darussalam Jatibarang

Sabtu, 02 Juli 2011

Pelajar NU Solo Gelar Aksi Damai dan Doa Bersama

Solo, Pondok Darussalam Jatibarang. Menyikapi berbagai bencana alam yang terjadi di sebagian wilayah di Indonesia, puluhan kader Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Solo mengadakan aksi damai dan doa bersama di bundaran Gladak Solo, Jawa Tengah, Jumat (31/1).

Aksi damai ini sebagai rasa keprihatinan kami tentang musibah-musibah yang terjadi seperti banjir, gempa bumi dan tanah longsor, kata Ketua IPNU Solo, Ahmad Khabhibi.

Pelajar NU Solo Gelar Aksi Damai dan Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Solo Gelar Aksi Damai dan Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)


Pelajar NU Solo Gelar Aksi Damai dan Doa Bersama

Selain itu kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memperingati Hari Lahir (Harlah) NU ke-88. Untuk itu Khabhibi berharap, dalam momentum ini segenap warga Nahdliyyin juga turut berdoa untuk kebaikan NU ke depannya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Aksi tersebut diselingi dengan orasi suara pelajar NU untuk bangsa, istighotsah, puisi, tanda bakti IPNU untuk bangsa dan NU, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars IPNU

Dalam salah satu orasi, kader IPNU Solo berpesan agar masyarakat ikut menjaga kondusifitas, sebab menurutnya tahun ini merupakan tahun politik yang rawan akan konflik. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Pondok Darussalam Jatibarang

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49861/pelajar-nu-solo-gelar-aksi-damai-dan-doa-bersama

Pondok Darussalam Jatibarang

Senin, 26 Juli 2010

LBMNU Akan Selenggarakan Halaqah Gizi

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul (LBMNU) akan menggelar halaqah bertema Pentingnya Gizi dalam Menciptakan Generasi Berkualitas di gedung PBNU, Lantai 5, Jakarta Pusat, Kamis (14/3) siang.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj akan menjadi pembicara kunci pada forum ini. Para pembicara lainnya adalah Katib Aam PBNU KH Malik Madani, guru besar Fakultas Ekologi Manusia IPB Prof Dr Ir Hardiansyah, juga pejabat negara, seperti Dirjen Bina Gizi dan KIA Kemnterian Kesehatan RI dan Kepala BKKBN.

LBMNU Akan Selenggarakan Halaqah Gizi (Sumber Gambar : Nu Online)
LBMNU Akan Selenggarakan Halaqah Gizi (Sumber Gambar : Nu Online)


LBMNU Akan Selenggarakan Halaqah Gizi

Draf panduan kegiatan (TOR) yang diterima Pondok Darussalam Jatibarang menyebutkan, agenda ini dilatarbelakangi permasalahan gizi anak ketika bayi diharuskan untuk tidak mendapatkan air susu langsung dari ibunya (ASI). Hal ini bisa disebabkan sang ibu sedang mengidap penyakit tertentu yang dapat membahayakan bayi atau ibunya.

Makanan pengganti bagi bayi yang terganggu persoalan ASI ini sangat dibutuhkan untuk mencetak generasi mendatang yang berkualitas secara jasmani dan rohani. Anehnya, tidak sedikit masyarakat yang abai dengan gizi dan nutrisi selain ASI, baik yang sudah berbentuk susu formula atau yang lainnya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Apalagi menyusui (radlaah) merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan dalam Islam. Setidaknya ada enam ayat al-Quran yang membicarakan perihal penyusuan anak, yaitu ayat 233 surat al-Baqarah, ayat 23 surat an-Nisa, ayat 2 surat al-Hajj, ayat 7 juga ayat 12 surat al-Qashash dan ayat 6 surat ath-Thalaq, demikian bunyi TOR.

Pondok Darussalam Jatibarang

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43023/lbmnu-akan-selenggarakan-halaqah-gizi

Pondok Darussalam Jatibarang

Jumat, 23 Juli 2010

Darah Istihadhah Istri Tak Berhenti, Bolehkah Menggaulinya?

Pertanyaan :

Darah Istihadhah Istri Tak Berhenti, Bolehkah Menggaulinya? - Pondok Darussalam Jatibarang
Darah Istihadhah Istri Tak Berhenti, Bolehkah Menggaulinya? - Pondok Darussalam Jatibarang


Darah Istihadhah Istri Tak Berhenti, Bolehkah Menggaulinya?

Bagaimana hukumnya istri yang sedang istihadhah disetubuhi? (Dari: Riya Damayanti)

Jawaban :

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum berhubungan intim dengan wanita yang sedang mengeluarkan darah istihadhoh, terdapat dua pendapat berbeda dalam masalah ini:

Pendapat pertama: Mayoritas ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad menyatakan bahwa bergubugan intim dewan wanita yang sedang istihadhoh hukumnya boleh, baik ketika darahnya keluar atau tidak. Imam Ibnul Mundzir menjelaskan bahwa pendapat ini juga merupakan pendapat Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhiu, Ibnul Musayyab, Al-Hasan, Atho’ Qotadah, Sa’id bin Jabir, Hammad bin Sulaiman, Bakar bin Abdulloh Al-Muzani, Al-Auza’i, Ats-Tsauri danIshaq Abu Tsur, dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir.

Dalil dari pendapat ini adalah pemahaman dari firman Allah SWT:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Q.S. Al-Baqoroh : 222)

Ayat diatas secara jelas dinyatakan bahwa larangan menggauli wanita yang sedang haidh berlaku sampai wanita tersebut berhenti haidhnya, jadi haidhnya sudah tuntas maka diperbolehkan menggaulinya, sedangkan masa istihadhoh itu bukan masa haidh, karena itu ketentuan yang berlaku baginya adalah seperti ketentuan bagi wanita yang suci seperti diwajibkannya sholat dll. karena itu diperbolehkan juga menggaulinya.

Dan berdasarkan hadits:

عَنْ حَمْنَةَ بِنْتِ جَحْشٍ، أَنَّهَا كَانَتْ مُسْتَحَاضَةً وَكَانَ زَوْجُهَا يُجَامِعُهَا “Dari Hamnah binti Jahsy, bahwa dia pernah istihadlah, dan suaminya tetap berhubungan badan dengannya.” (Sunan Abu Dawud, no.310)

Selain itu suatu larangan hanya bisa ditetapkan jika ada dalil yang melarangnya, dan tidak ada dalil yang melarang menggauli istri dalam keadaan istihadhoh.

Pendapat kedua: Menurut madzhab Hanbali, Ibnu Sirin, Asy-Sya’bi, An-Nakho’i, Al-Hakam dan Syekh Ibnu Ulaiyah

dari kalangan madzhab Maliki, menggauli wanita dalam keadaan istihadhoh itu tidak diperbolehkan, kecuali apabila tidak dilakukan takut akan berzina maka diperbolehkan.

Dalilnya adalah atsar yang diriwayatkan dari sayyidah A’isyah rodhiyallohu ‘anha, beliau mengatakan:

الْمُسْتَحَاضَةُ لَا يَغْشَاهَا زَوْجُهَا “Wanita yang sedang istihadhoh tidak boleh digauli suaminya” (Sunan Baihaqi, no.1563)

Selain itu, terdapat bahaya/sakit (adza) pada wanita yang sedang istihadhoh, sedangkan alas an pelarangan menggauli wanita yang sedang haidh adalah karena adanya adza padanya, sebagaimana dijelaskan dalam firman Alloh diatas, karena itulah dalam hal ini statusnya disamakan dengan wanita yang sedang haidh dalam hal pelarangan menggaulinya.

Kesimpulannya, menggauli wanita dalam kondisi istihadhoh diperbolehkan menurut madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama’, sedangkan menurut madzhab Hanbali dan beberapa ulama’ tidak diperbolehkan. Meskipun begitu, jika dikhawatirkan membahayakan, baik bagi lelaki atau wanitanya sendiri terutama menggauli wanita tersebut saat darahnya keluar, sebaiknya hal ini tidak dilakukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ "Tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat." (Sunan Ibnu Majah, no.2341)

Wallohu a’lam.

Dijawab oleh: Farid Muzakki, Permata Hati dan Siroj Munir

Referensi : Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz: 44 Hal: 21 (Fiqih Perbandingan)

Hasyiyah Ibnu Abidin Ala Durrul Mukhtar, Juz: 1 Hal: 291 (Madzhab Hanafi)

Jawahirul Iklil Syarah Muhtashor Kholil, Juz: 1 Hal: 31 (Madzhab Maliki)

Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, Juz: 2 Hal: 373 (Madzhab Syafi’i)

Kasysyaful Qona’, An Matnil Iqna’, Juz: 1 Hal: 218 (Madzhab Hanbali)

Sunan Ibnu Majah, Juz: 2 Hal: 784

Ibarat:

Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 44 Hal : 21 اختلف الفقهاء في جواز وطء المستحاضة على قولين القول الأول: ذهب جمهور الفقهاء من الحنفية والشافعية والمالكية وأحمد في إحدى الروايتين عنه إلى جواز وطء المستحاضة. وقد نقله ابن المنذر عن ابن عباس رضي الله عنه وابن المسيب والحسن وعطاء وقتادة وسعيد بن جبير وحماد بن أبي سليمان وبكر بن عبد الله المزني والأوزاعي والثوري وإسحاق وأبي ثور، وقال ابن المنذر: وبه أقول واحتجوا على ذلك بقوله تعالى: {حتى يطهرن } . وهذه طاهرة من الحيض، وبما روي أن حمنة بنت جحش رضي الله عنها كانت تستحاض، وكان زوجها طلحة بن عبيد الله يجامعها، وأن أم حبيبة رضي الله عنها كانت تستحاض، وكان زوجها عبد الرحمن بن عوف يغشاها ، وقد سألتا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أحكام المستحاضة، فلو كان وطؤها حراما لبينه لهما. ولأن المستحاضة كالطاهر في الصلاة والصوم والاعتكاف والقراءة وغيرها، فكذلك في الوطء، ولأنه دم عرق، فلم يمنع الوطء كالناسور، ولأن التحريم بالشرع، ولم يرد بتحريم في حقها، بل ورد بإباحة الصلاة التي هي أعظم القول الثاني: ذهب الحنابلة في المذهب وابن سيرين والشعبي والنخعي والحكم وابن علية من المالكية إلى أنه لا يباح وطء المستحاضة من غير خوف العنت منه أو منها، لما روي عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: " المستحاضة لا يغشاها زوجها " . ولأن بها أذى فيحرم وطؤها كالحائض، فإن الله تعالى منع وطء الحائض معللا بالأذى بقوله: {قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض } . فأمر باعتزالهن عقيب الأذى مذكورا بفاء التعقيب، ولأن الحكم إذا ذكر مع وصف يقتضيه ويصلح له علل به، والأذى يصلح أن يكون علة فيعلل به، وهو موجود في المستحاضة فيثبت التحريم في حقها

Hasyiyah Ibnu Abidin Ala Durrul Mukhtar, Juz : 1 Hal : 291 ودم استحاضة) حكمه (كرعاف دائم) وقتا كاملا (لا يمنع صوما وصلاة) ولو نفلا (وجماعا) لحديث «توضئي وصلي وإن قطر الدم على الحصير ................................. قوله وجماعا) ظاهره جوازه في حال سيلانه وإن لزم منه تلويث، وكذا هو ظاهر غيره من المتون والشروح وكذا قولهم: يجوز مباشرة الحائض فوق الإزار وإن لزم منه التلطخ بالدم، وتمامه في ط

Jawahirul Iklil Syarah Muhtashor Kholil, Juz : 1 Hal : 31 ثم هي مستحاضة وتغتسل كلما انقطع وتصوم وتصلي وتوطأ ................................... هى مستحاضة) لا حائض فتغتسل من الحيض وتصلى وتصوم وتوطأ والدم نازل عليها -إلى أن قال- وتوطأ بعد غسلها على المعروف خلافا لصاحب الارشاد القائل لا يجوز وطؤها

Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 2 Hal : 373 يجوز عندنا وطئ المستحاضة في الزمن المحكوم بأنه طهر وإن كان الدم جاريا وهذا لا خلاف فيه عندنا قال القاضي أبو الطيب وابن الصباغ والعبد رى وهو قول أكثر العلماء ونقله ابن المنذر في الإشراف عن ابن عباس وابن المسيب والحسن وعطاء وسعيد بن جبير وقتادة وحماد بن أبي سليمان وبكر بن عبد الله المزني والاوزاعي ومالك والثوري واسحق وأبي ثور قال ابن المنذر وبه أقول وحكي عن عائشة والنخعي والحكم وابن سيرين منع ذلك وذكر البيهقي وغيره أن نقل المنع عن عائشة ليس بصحيح عنها بل هو قول الشعبي أدرجه بعض الرواة في حديثها وقال احمد لا يجوز الوطئ إلا أن يخاف زوجها العنت واحتج للمانعين بأن دمها يجري فأشبهت الحائض واحتج أصحابنا بما احتج به الشافعي في الأم وهو قول الله تعالى (فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن) وهذه قد تطهرت من الحيض واحتجوا أيضا بما رواه عكرمة عن حمنة بنت جحش رضي الله عنها أنها كانت مستحاضة وكان زوجها يجامعها رواه أبو داود وغيره بهذا اللفظ بإسناد حسن وفي صحيح البخاري قال قال ابن عباس المستحاضة يأتيها زوجها إذا صلت الصلاة أعظم ولأن فكذا في الوطئ ولانه دم عرق فلم يمنع الوطئ كالناسور ولأن التحريم بالشرع ولم يرد بتحريم بل ورد بإباحة الصلاة التي هي أعظم كما قال ابن عباس والجواب عن قياسهم على الحائض أنه قياس يخالف ما سبق من دلالة الكتاب والسنة فلم يقبل ولأن المستحاضة لها حكم الطاهرات في غير محل النزاع فوجب إلحاقه بنظائره لا بالحيض الذي لا يشاركه في شئ

Kasysyaful Qona’, An Matnil Iqna’, Juz : 1 Hal : 218 ولا يباح وطء المستحاضة من غير خوف العنت منه أو منها) لقول عائشة: المستحاضة لا يغشاها زوجها ولأن بها أذى فحرم وطؤها كالحائض، وعنه يباح مطلقا، وهو قول أكثر العلماء لأن حمنة كانت تستحاض، وكان زوجها طلحة بن عبيد الله يجامعها، وأم حبيبة كانت تستحاض، وكان زوجها عبد الرحمن بن عوف يغشاها، رواهما أبو داود وقد قيل: إن وطء الحائض يتعدى إلى الولد فيكون مجذوما

Sunan Ibnu Majah, Juz : 2 Hal : 784 حدثنا محمد بن يحيى قال: حدثنا عبد الرزاق قال: أنبأنا معمر، عن جابر الجعفي، عن عكرمة، عن ابن عباس، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا ضرر ولا ضرار

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/darah-istihadhah-istri-tak-berhenti-bolehkan-menggaulinya.html

Kamis, 08 Oktober 2009

Musnid Para Qariah Itu Bernama Ummi Saad (Mesir)

Pondok Darussalam Jatibarang - Jika ada semboyan mengatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan di tanah Hijaz, ditulis di Turki dan dibaca di Mesir, mungkin benar adanya. Sebab secara realita, dari rahim Mesirlah tumbuh subur ahli qira’at, penghafal al-Quran dan bahkan qari’ berkaliber internasional.

Sebut saja Imam Muhammad al-Mutawali, musnid dunia, sanad tertinggi pada masanya, Ahmad al-Zayyat, pemuka ahli Qira’at pada masanya dan Ummu Saad, perempuan yang memiliki sanad tertinggi, perempuan zahidah berkalung cahaya al-Quran. Nama terakhir inilah yang jarang dikenal oleh para penghafal al-Qur’an. Padahal, secara kwalitas hafalan dan kredibilitasnya tidak jauh berbeda dengan kaum laki-laki.

Musnid Para Qariah Itu Bernama Ummi Saad (Mesir) - Pondok Darussalam Jatibarang
Musnid Para Qariah Itu Bernama Ummi Saad (Mesir) - Pondok Darussalam Jatibarang


Musnid Para Qariah Itu Bernama Ummi Saad (Mesir)

Sejarah telah mencatat bahwa penghafal Al-Quran tidak hanya di monopoli oleh kaum adam saja. Seorang perempuan pun juga banyak yang hafal Al-Qur’an. Misalnya saja, Saidah Aisyah RA, Hafsah RA, Dll. Hanya saja mereka kalah tenar oleh kaum laki-laki. Sebab kaum perempuan, kala itu, kurang memiliki peran sentral, meskipun dalam hak-hak mereka terpenuhi dalam masalah pendidikan.

Pondok Darussalam Jatibarang

Dalam periwayatan Al-Qur’an, kalangan perempuan terbilang cukup langka apalagi dalam hal lain. Padahal pada saat itu Al-Qur’an merupakan sentral ajaran, bacaan, sumber dan pondasi agama. Oleh karena itu, di sini penulis akan mengupas secara tuntas untuk memperkenalkan perjalanan hidup perempuan dhorirah pencetak generasi qur’ani.

Perempuan ini, saat itu, terbilang cukup berani dan langka. Dibilang berani sebab saat itu hampir tidak ada perempuan yang berani menghafal dan mempelajari ilmu qira’at, yang dianggap “njelimet”. Dibilang langka sebab saat itu hampir tidak ada yang mempunyai hafalan yang kuat dan sanad qira’at yang tinggi.

Pondok Darussalam Jatibarang

Riwayat Hidup Ummu Saad Nama lengkapnya Ummu Sa’ad Muhammad Ali al-Najm. Dia lahir di Aleksandria, Mesir pada tanggal 11 Juli 1925 M. Kota Aleksandria, kota eksotis dengan pemandangan yang alami dengan semburan kuning emasnya matahari ketika pagi hari dan deburan pantai yang indah di sore hari, adalah tempat bermain pada masa kecilnya. Sebenarnya, dia berasal dari utara kota Kairo, yaitu kota Bandariyah, salah satu kota di Manufiyah, Mesir.

Ummu Saad merupakan satu-satunya perempuan –saat itu- yang memiliki sanad tertinggi di dunia dalam bidang Ilmu Qira’at. Walaupun mata penglihatannya terganggu (buta), namun beliau menjalani hidupnya dengan qana’ah demi berkhidmat kepada Al-Qur’an. Ia berkhidmah untuk Al-Qur’an dan qira’atnya lebih dari tujuh puluh tujuh tahun dan terbilang satu-satunya perempuan yang konsisten dalam bidang ilmu Qira’at Asyrah.

Dia dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu. Belum genap satu tahun dari umurnya, beliau tertimpa penyakit mata. Sebagai keluarga yang kurang mampu, keluarganya menyadari bahwa jika anaknya tersebut dibawa ke dokter tentu akan membutuhkan dana yang sangat besar, sehingga timbul inisiatif dari orang tuanya untuk menyembuhkan penyakit mata anak kesayangannya itu memakai obat tradisonal, yaitu menghiasi matanya dengan celak atau diolesi dengan minyak. Hal demikian adalah kebiasaan yang dilakukan oleh ribuan keluarga yang kurang mampu pada saat itu untuk mengobati anak-anak tercintanya

yang memiliki penglihatan kurang baik.

Sebagaimana adat yang berlaku dalam suatu kampung di Mesir, jika ada anaknya terkena penyakit mata (buta), biasanya mereka menadzarkan anaknya untuk berkhidmat kepada Al-Qur’an, yaitu menghafal Al-Qur’an. Begitu pula yang dilakukan oleh keluarganya, menitipkan Ummu Saad kepada seorang guru untuk menghafal Al-Qur’an.

Perjalanan intelektual Ummu Saad Ketika umurnya menginjak lima belas tahun, perempuan zahidah ini telah berhasil menghatamkan Al-Quran dengan sempurna di madrasah Hasan Subhi, Aleksandria Mesir. Setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an, dia datang menemui Syaikhah Nafisah binti Abu ‘Ala’, seorang pengajar Al-Quran dan qira’atnya, untuk belajar Qira at Asyrah.

Namun sungguh mengejutkan, perempuan yang terbilang masih bau kencur ini berani mencoba menyelami samudra Ilmu Qira’at, ilmu yang terbilang susah karena banyaknya matan (syair dan nadzam

kaidah ilmu qira’at) yang harus dihafal sebelum mengarungi dalamnya samudra lautan ilmu itu. Yang lebih mengejutkan lagi, sang calon guru pun tidak semerta-merta menerima beliau sebagai muridnya, ada syarat yang harus dipenuhi sebelum beliau menjadi muridnya, yaitu berjanji untuk tidak menikah selama-lamanya.

Dengan azimah (keinginan) yang kuat, Ummu Sa’ad menerima syarat yang diajukan oleh calon gurunya itu, syarat yang terkenal memilukan bagi kaum perempuan. Satu hal yang mendorong Ummu Saad menerima syarat tersebut, yaitu karena Syaikhah Nafisah sendiri tidak pernah menikah dengan seorang laki-laki mana pun, (hanya “menikah” dengan Al-Qur’ an) walaupun banyak para pembesar, konglomerat dan priyayi pada masanya datang untuk meminangnya, ia bersikeras menolaknya.

Setelah umurnya genap duapuluh tiga tahun, perempuan yang berkalung cahaya Al-Qur’an ini telah mempu menyelesaikan Ilmu Qira’at, baik secara dirayatan wa riwayatan dan resmi mendapatkan rekomendasi tertulis dari gurunya untuk menyebarkan ilmunya berupa sanad Al-Qur’an yang bersambung kepada Rasulallah.

Dari pada itu, jika dikalkulasi masa belajarnya tentang Qira’at, hanya membutuhkan waktu delapan tahun. Dalam masa itu pula, secara otomatis beliau telah lanyah kitab syair al-Syatibi, al-Durrah dan Syair Tahrirat al-Syatibi.

Sebagai catatan: Nafisah binti ‘Ala’ sendiri memang tercatat sebagai perempuan yang berprinsip kuat, meskipun dia seorang perempuan, dia menolak menerima santri perempuan dengan alasan seorang perempuan akan menjadi seorang istri. Sebab setiap istri akan disibukkan oleh pernak-pernik rumah tangga, tenggelam dalam lautan problematika mahligai rumah tangga, sehingga mengenyampingkan hafalan Al-Qur’annya dan dengan demikian hafalannya akan terbengkalai.

Hal itulah yang menjadi kekwatirannya, sehingga dia enggan menerima santri perempuan. Pada saat umurnya memasuki delapan puluh tahunan, Syaikhakh Nafisah binti ‘Ala’ kembali kepada pangkuan Tuhannya dalam keadaan perawan.

Aktifitas Ummu Saad. Al-Qur’an dalam Al-Qur’an adalah motto hidupnya. Dalam aktifitas kesehariannya, Ummu Saad hanya disibukkan mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu Qira’at. Tidak kurang dari ratusan murid datang belajar kepadanya, baik dari kaum perempuan, laki-laki, para pengajar, baik setingkat SD hingga para dosen. Tak terkecuali para muhandis dan dokter-dokter pun ikut serta belajar Al-Qur’an dan ilmu qira’at kepadanya.

Secara terjadwal, kegiatan beliau tertata rapi sebagai berikut: Dari pagi jam delapan pagi (8) sampai jam dua belas (12) khusus perempuan. Sementara, dari jam dua belas (12) sampai sampai jam delapan (8) malam khusus laki-laki. Dalam sehari, dia tidak pernah berhenti mengajar kecuali jika hendak menunaikan ibadah shalat dan mencicipi makanan untuk mengganjal perutnya.

Melihat ketatnya aktivitas Ummu Sa’ad ini, saya teringat dengan salah seorang guru saya yang sehari-harinya hanya disibukkan mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu Qira’at. Sejak adzan subuh dikumandangkan beliau sudah duduk masjid al-Khusain bersama para penghafal Al-Qur’an hingga sore hari.

Terpancar cahaya keikhlasan, sikap tawadhu’ dan penuh dengan kekhusyu’an jika beliau menyimak para santri-santirnya. Tampak dari sikapnya yang ramah dan penuh dengan nilai-nilai tarbawi dalam mengajarkan Al-Qur’an, seperti bapak mengajarkan kepada anak-anaknya. Tidak marah, telaten bahkan menganggap santri-santrinya sebagai kawan diskusi di waktu senggang. Semoga beliau diberikan kesejahteraan dan umur yang panjang. Semoga kita bisa menirunya dikemudian hari. Amin. Metode Ummu Sa’ad.

Metode dalam mengajarkan murid-muridnya, beliau membatasi setiap yang menyetor hafalan tidak lebih dari satu jam dalam sehari. Di samping itu, beliau intens mengoreksi bacaan setiap per-juz-nya hingga khatam dengan bacaan salah satu Qira’at. Artinya, dia membebankan kepada seluruh santrinya untuk selalu konsisten mengulang hafalannya dan telaten dalam menghafal.

Bagi santri yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya akan diberikan kepadanya ijazah sanad dan rekomendasi tertulis bahwa murid tersebut adalah: khadim Al-Qur’an, yang telah mengkhatamkan Al-Qur’an dengan baik dan sempurna. Namun, tidak semua murid mendapatkan ijazah sanad, hanya orang-orang yang mempunyai kredibilitas dan hafalan yang baik yang mendapatkannya.

Sebagai ungkapan rasa syukur kepada kepada Tuhannya, tahadduts bil ni’mah, beliau bercerita dalam satu kesempatan: selama enam puluh tahun belajar, mengajarkan dan mengulang hafalan Al-Qur’an menjadikan saya tidak lupa sedikitpun dari Al-Qur’an. Saya tahu persis letak setiap ayat, surah, juz dan bahkan ayat-ayat yang mutasyabihat (mirip) dengan ayat yang lainnya serta tata cara membaca setiap riwayat dalam ilmu qira’at.

Saya merasa bahwa lancarnya hafalan al-Qur’an saya persis seperti hafal nama saya sendiri. Tidak terlintas dalam khayalan saya untuk melupakannya (Al-Qur’an), walau satu huruf-pun atau salah. Saya tidak tahu apa-apa selain Al-Qur’an dan Qira’atnya. Saya tidak pernah belajar ilmu, atau mendengarkan pelajaran atau bahkan menghafal selain Al-Qur’an, Qira’at dan nadzam-nadzam yang berhubungan dengan Al-Qur’an dan qira’at.

Demikian ini merupakan ungkapan dan curahan hatinya tentang hafalannya. Masya Allah, sungguh kuat hafalannya, sehingga ia umpamakan hafalan al-Qur’annya seperti menyebut namanya sendiri. Sungguh ini adalah pemberian yang paling mulya dari-Nya.

Hal paling menyenangkan dalam hidup beliau adalah ketika sang murid telah mengkhatamkan Al-Qur’an, atau biasa dikenal dengan Yaumul Khotmi, hari khataman, di mana seorang murid mendapatkan ijazah sanad dan rekomendasi tertulis darinya.

Sebagai bukti keberhasilannya dalam mengajarkan ilmunya adalah dengan lahirnya seorang qari’ berkaliber internasional yaitu Dokter Ahmad Na’ina’, beliau adalah seorang dokter sekaligus qari’ yang paling dikenal saat ini. Suara emasnya selalu menghiasi speker di masjid-masjid dan acara-acara keagamaan di sebuah tempat.

Hikmah Tersirat Catatan penting dari perjalanan hidup perempuan zahidah di atas, yaitu: perempuan adalah hamba Allah yang mempunyai kesempatan besar untuk berlomba-lomba menjadi hamba-Nya yang terbaik. Perempuan tidak hanya dituntut berhias dalam kamar, bekerja seharian dalam dapur. Namun perempuan punya kesempatan untuk menjadi seorang hafidzah yang mutqinah. Memiliki peran yang sama dengan kaum laki-laki dalam masalah pendidikan.

Secara naluri perempuan lebih lembut dalam mendidik anak, bagaiamana seorang perempuan menjadikan anak-anaknya hafal al-Qur’an sementara ibunya yang punya peran penting tidak hafal al-Quran?

Jika saja Ummu Saad yang tidak melihat bisa mencetak generasi terbaik pada masanya, bagaimana dengan perempuan yang melek?

Seorang Ummu Saad yang lahir dari keluarga yang tidak mampu saja berani menghafal Al-Qur’an bahkan pada tingkat yang lebih tinggi yaitu, ilmu qira’at, bagaimana dengan perempuan yang dikaruniai oleh Allah SWT. harta berlimpah dengan kesempatan yang baik pula? [Pondok Darussalam Jatibarang]

Moh. Fathurrozi Nawafi, pengajar Al-Qur'an Madrasah Nurul Iman dan Ponpes Darussalam Keputih.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/musnid-para-qariah-itu-bernama-ummi-saad-mesir.html

Jumat, 05 Oktober 2007

Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Lampung Tengah Wafat

Lampung Tengah, Pondok Darussalam Jatibarang. Keluarga besar Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung berduka lantaran salah seorang kiainya, KH Ahmad Zuhri wafat pada Senin (1/5) bertepatan 4 Syaban 1438 H sekitar pukul 14.40. Kiai Ahmad Zuhri yang wafat pada usia 67 tahun itu adalah Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Dusun Sragen, Kampung Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah.

Ribuan takziyah menjadi saksi pemakamannya di kompleks pesantren Ash-Shidiqqi, tepatnya di belakang masjid Baitush Sholihin. Iqror dan pemakaman al-maghfurlah KH Ahmad Zuhri dipimpin KH Syamsudin Thohir, sesepuh NU Kota Metro sekaligus Mustasyar PWNU Provinsi Lampung.

Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Lampung Tengah Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Lampung Tengah Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)


Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Lampung Tengah Wafat

Miftakhul Izza, salah satu alumni pesantren Ash-Shidiqqi mengatakan, informasi dari beberapa kerabat dan alumni pesantren. Ia menyebutkan bahwa almarhum beberapa bulan lalu jatuh sakit. Lalu berobatr di rumah sakit baik di Bandar Lampung hingga ke pulau Jawa.

Pondok Darussalam Jatibarang

"Abah Yai selama muda sudah aktif di NU mulai dari IPNU sejak di Semarang Jawa Tengah. Selain mengasuh pesantren, beliau mempunyai keistimewaan, suaranya yang merdu nan indah bahkan hingga hari ini, beliau meniru abahnya, katanya.

Di masa awal Reformasi, lanjut Wakil Sekretaris Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lampung Tengah ini, Kiai Ahmad Zuhri pernah aktif di partai politik hingga menjadi anggota legislatif di DPRD Provinsi Lampung dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). (Akhmad Syarief Kurniawan/Abdullah Alawi)

Pondok Darussalam Jatibarang

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77600/pengasuh-pesantren-ash-shidiqqi-lampung-tengah-wafat

Pondok Darussalam Jatibarang

Minggu, 29 April 2007

Kiai Sahal Ikuti Jejak Dakwah Sunan Kalijaga

Yogyakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Dalam jejak dakwahnya, KH MA Sahal Mahfudh telah mengikuti jejak dakwah Sunan Kalijaga yang menggunakan pendekatan 3M, yakni Momong, Momol, dan Momot. Momong artinya mengasuh, sedangkan momol bisa bergaul dengan semua level manusia. Adapun momot yaitu menampung aspirasi dari berbagai kelompok.

Demikian disampaikan oleh Dr H Wayono Abdul Ghafur dalam Diskusi dan Bedah Buku Belajar dari Kiai Sahal yang berlangsung di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (19/5).

Kiai Sahal Ikuti Jejak Dakwah Sunan Kalijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Sahal Ikuti Jejak Dakwah Sunan Kalijaga (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Sahal Ikuti Jejak Dakwah Sunan Kalijaga

Menurutnya, dakwah yang dilakukan oleh Kiai Sahal merupakan dakwah dalam pengembangan masyarakat, yakni dengan membuat pelayanan sosial untuk kehidupan bermartabat. Hal ini tentu berbeda dengan dakwah yang dilakukan kiai pada umumnya, yakni ceramah. Mbah Sahal itu kalau diundang ceramah nggak mau, tegas Waryono.

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menambahkan, bahwa apa yang diperjuangkan Kiai Sahal adalah tumbuhnya kemandirian umat demi kehidupan yang ideal, sehingga bisa bekerjasama dengan siapapun. Beliau itu pemikir yang baik. Beliau juga kiai yang penggerak dan mampu membumikan fiqih dalam konteks sosial, tandasnya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Dari sisi politik, Moch Nur Ichwan yang merupakan salah satu penulis dalam buku Belajar dari Kiai Sahal mengatakan bahwa Kiai Sahal merupakan sosok yang a-politis namun memiliki ketegasan sikap di dalam berpolitik itu sendiri.

Pondok Darussalam Jatibarang

Menurutnya, jika politik dalam tingkat rendah adalah bertujuan mendapatkan kekuasaan, maka Kiai Sahal telah mempraktekkan politik dalam tingkat tinggi, yakni politik yang bertujuan mewujudkan keadilan dan kemaslahatan umat.

Diskusi dan Bedah Buku ini juga menghadirkan Ulil Abshar Abdalla menjadi pembicara. Selain itu, H Abdul Ghaffar Rozin yang merupakan putra Kiai Sahal didaulat menjadi keynote speaker. Ketua PBNU M Imam Aziz juga turut hadir dalam acara ini. (Dwi Khoirotun Nisa/Anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52139/kiai-sahal-ikuti-jejak-dakwah-sunan-kalijaga

Pondok Darussalam Jatibarang

Senin, 06 November 2006

Bangga Menjadi NU secara Substantif

Majalah Risalah Nahdlatul Ulama (NU) terbaru Edisi 63/Tahun X/1437 H/Agustus 2016 telah terbit. Salah satu media cetak NU yang digawangi oleh Faishal Helmy ini mengangkat topik utama Ayo Bangga Menjadi NU. Dengan latar sampul berwarna hitam dan logo NU yang terpampang gagah di dada seseorang, Majalah Risalah mengulik liputan utama tentang peluncuran Kartanu sebagai wujud bangga ber-NU.

Bangga memiliki sekaligus menjadi NU ini bukan tanpa alasan, karena NU selama ini mampu mewujudkan kehidupan harmonis di tengah keberagaman Indonesia. NU juga memiliki komitmen terhadap keutuhan bangsa dan negara sehingga jika ada orang maupun kelompok yang bertujuan memecah belah bangsa, NU bersama warga dan seluruh perangkat organisasinya selalu setia di garda terdepan membela NKRI.

Bangga Menjadi NU secara Substantif (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangga Menjadi NU secara Substantif (Sumber Gambar : Nu Online)


Bangga Menjadi NU secara Substantif

Bangga menjadi NU secara substantif tersebut diamini oleh Pemimpin Redaksi Majalah Risalah Faishal Helmy dalam pengantar redaksinya. Menurutnya, keberkahan menjadi warga NU bukan hanya ketika seseorang hidup, tetapi juga setelah meninggal dunia. Sebab doa, tahlil, yasin, dan kiriman Al-Fatihah terus mengalir mengiringi kepergian seseorang ke alam baqa.

Ketika hidup, warga NU akan mendapatkan pergaulan yang dirahmati. Sedangkan ketika wafat ia akan mendapat perhatian doa yang selalu dipanjatkan oleh warga NU. Bahkan ketika melewati kuburnya, warga NU akan menyampaikan salam dan mengrim Fatihah, urai Helmy.

Pondok Darussalam Jatibarang

Terkait dengan kepemilikan Kartu Anggota NU (Kartanu) oleh warga NU, itu hanya salah satu langkah praktis bagi Jamiyah agar data atau jumlah warga NU secara kuantitatif yang konon mencapai 91 juta jiwa lebih terdokumentasi dengan baik. Sehingga ketika ada yang bertanya tengang jumlah warga NU, para pengurus dapat menunjukkan data riil-nya.

Pondok Darussalam Jatibarang

PBNU telah meluncurkan Kartanu ini pada 27 Juni 2016 lalu di halaman Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Secara teknis, PBNU menggandeng Bank Mandiri untuk pengadaan sehingga kartu ini bukan hanya kartu statis, tetapi dinamis karena memiliki beragam manfaat yang dapat diperoleh warga NU.

Namun demikian, Kartanu hanya instrumen untuk merealisasikan jumlah warga NU. Tetapi melalui Kartanu ini, warga NU pada intinya diajak agar selalu berbangga menjadi NU seutuhnya. Bangga ini bisa diwujudkan melalui berbagai cara, kiprah, maupun prestasi dengan tetap berpegang teguh pada tali Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah seperti yang digariskan oleh para pendiri NU.

Seperti pada terbitan sebelumnya, Majalah Risalah masih konsisten dengan rubrik-rubrik ke-NU-an yang disajikan dengan segar agar masyarakat mendapatkan ilmu, wacana, dan informasi yang holistik. Pada terbitan baru ini, Risalah juga mengulas tentang perhelatan Rapat Pleno PBNU yang digelar di Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat pada 23-25 Juli 2016 lalu. Agar pembaca dapat mengakses informasi Pleno dengan lengkap, Risalah secara khusus menyajikan hasil-hasil Rapat Pleno PBNU yang dihasilkan oleh Komisi Organisasi, Program, dan Rekomendasi Bahtsul Masail.

Selengkapnya, pembaca dapat mengakses seluruh informasi Majalah setebal 66 halaman ini dengan memilikinya. Ada banyak tulisan bergizi yang dapat dilahap antara lain: jihad NU melawan korupsi, kisah Mbah Hasyim Asyari yang tersaji di rubrik Nusiana, profil Ketua LTN PBNU Juri Ardiantoro yang kini terpilih menjadi Ketua KPU RI, tentang dinamika Kudeta di Turki, sajian tentang makam-makam keramat dan bersejarah yang ada di DKI Jakarta, serta tulisan-tulisan menarik lain. Selamat membaca! (Fathoni)

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70256/bangga-menjadi-nu-secara-substantif

Pondok Darussalam Jatibarang

Jumat, 25 Agustus 2006

Shalawat Manggala Nusa, Kala Silat Berpadu dengan Shalawat

Klaten, Pondok Darussalam Jatibarang. Lantunan shalawat terdengar merdu, menambah syahdu suasana pagi di lapangan Desa Gunung Gajah, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Ahad (10/4). Berbagai syair maddah dan shalawat, pujian kepada sang rasul, dibaca oleh sang pelantun diiringi rebana, layaknya acara sholawatan pada umumnya.

Yang unik dan berbeda, lantunan shalawat tersebut dipadukan dengan gerakan koreografi pencak silat. Alhasil, terciptalah sebuah seni pencak silat berpadu mesra dengan shalawat bernama: Shalawat Manggala Nusa.

Shalawat Manggala Nusa, Kala Silat Berpadu dengan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Manggala Nusa, Kala Silat Berpadu dengan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)


Shalawat Manggala Nusa, Kala Silat Berpadu dengan Shalawat

Menurut salah satu pengurus Majelis Pendekar Pagar Nusa Klaten, Iman Widodo, acara sholawat dengan sajian beragam pertunjukan silat ini adalah pertama kali di Klaten. Umumnya majelis sholawat yang ada, diiringi zapin atau tarian sufi, kini kami mencoba kombinasikan dengan diiringi tarian rampak pencak Pagar Nusa, kata Iman, di sela acara.

Melalui kreativitas ini pula, para pendekar Pagar Nusa hendak mengemas pencak silat menjadi sebuah pertunjukan yang apik serta dekat dengan tradisi masyarakat setempat.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pondok Darussalam Jatibarang

Ditambahkan Iman, kegiatan bertajuk Gebyar Pencak Sholawat ini diselenggarakan bersamaan dengan peresmian Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Ranting di Gunung Gajah, Bayat.

Sementara itu, salah satu perwakilan IPSI Klaten, Tonang, dalam sambutannya beliau ikut mendukung kiprah Pagar Nusa di desa Gunung Gajah maupun di tempat yang lain. Dengan sekuat kemampuan kami akan selalu membantu dan mendukung pergerakan Pagar Nusa di Klaten, terang sekretaris IPSI Klaten itu.

Acara yang diikuti ratusan pesilat dari berbagai daaerah tersebut, berlangsung mulai dari pukul 08.00 WIB sampai menjelang dzuhur. Penutupan ditandai dengan gerakan kolosal yang dilakukan oleh semua pesilat Pagar Nusa yang hadir dalam kesempatan itu. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67233/shalawat-manggala-nusa-kala-silat-berpadu-dengan-shalawat

Pondok Darussalam Jatibarang

Senin, 03 April 2006

PKB Bentuk Tim Pemburu Data Indikasi Korupsi

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) membentuk Tim Pemburu Data Indikasi Korupsi (TPDIK) yang bertugas menelusuri kasus korupsi dan mendorong Komisi Pemberatasan Tindak Pidana Korupsi untuk mengungkap tuntas.

Pembentukan tim yang diketuai Wakil Ketua Umum DPP PKB Moh Mahfud MD dengan anggota dari hasil rekomendasi Rapat Kerja Nasional Pemenangan Pemilu dan Orientasi Juru Kampanye Nasional PKB di Jakarta, Sabtu.

Tim tersebut antara lain beranggotakan Mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah dan mantan penasihat Jaksa Agung Djokomoeljo Mangoenprawiro SH APU dan praktisi hukum yang juga artis Gusti Randa.

PKB Bentuk Tim Pemburu Data Indikasi Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
PKB Bentuk Tim Pemburu Data Indikasi Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)


PKB Bentuk Tim Pemburu Data Indikasi Korupsi

"Pembentukan tim ini dimaksudkan agar kasus korupsi yang selama ini mucul langsung hilang dapat diungkap terus sehingga orang akan takut dan risih menyembunyikan harta hasil korupsi," kata Mahfud. Sebagai sasaran awal yang akan dibidik adalah aliran dana Bulog yang tidak jelas yang jumlahnya mencapai Rp2,6 triliun.

"Dulu ketika kita mengungkap kasus korupsi Rp40 miliar banyak yang mengetawai, bahkan ada yang menuding itu kita ungkap karena sakit hati Gus Dur dituduh korupsi dana Bulog. Sekarang terbukti dan ada yang dihukum meski putusannya tidak adil," kata Mahfud.

Ditanya apakah pihaknya juga akan mempersoalkan putusan MA yang membebaskan Akbar Tandjung dalam kasus korupsi Rp40 miliar tersebut, Mahfud mengatakan, mengungkit kasus Akbar tidak ada gunanya karena sudah ada putusan MA yang tidak mungkin berubah.

"Soal Rp40 miliar itu sudah ada putusan dan sulit diubah karena itu kita cari kasus yang lain, bukan hanya di Bulog tapi juag di tempat lain seperti Bank Indonesia misalnya," katanya. TPDIK juga akan mengusulkan agar dalam penanganan tindak pidana korupsi dan penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan diberlakukan "asas praduga bersalah" sehingga harus menggunakan kaidah pembuktian terbalik.

Pondok Darussalam Jatibarang

"Siapa yang korupsi atau menyalahgunakan wewenang kita anggap bersalah dan harus membuktikan diri jika ingin mengelak. Ini sudah dilakukan di banyak negara," katanya.

Untuk mendukung gerak TPDIK, kata Mahfud, pihaknya akan menjalin kerjasama dengan lembaga yang peduli pada gerakan anti korupsi lain, seperti Indonesian Corruption Watch (ICW) pimpinan Teten Masduki, LSM serta media massa. "Untuk laporannya akan kita kirim ke aparat penegak hukum, terutama KPTK, media massa, juga lembaga lain seperti ormas-ormas keagamaan yang bergerak di tataran moral," katanya. (cih)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/1254/pkb-bentuk-tim-pemburu-data-indikasi-korupsi

Pondok Darussalam Jatibarang

Pondok Darussalam Jatibarang

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Darussalam Jatibarang dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock