Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juli 2013

Full Day School di Pesantren Bukan Take and Give

Pondok Darussalam Jatibarang - Tersenyum mendengar perdebatan di media massa terkait full day school. Beberapa bahkan sampai pada pertanyaan yang agak menggelitik: memang gurunya mau di bayar berapa?

Pertanyaan itu lantas loncat ke dalam konteks dimana kami berkutat: pesantren. Kalau full day and night school seperti pesantren lantas bagaimana? Pesantren kan tak ada batas waktunya? 24 jam mendidik. 24 jam mengawasi santri. 7 hari seminggu. Libur hanya 6 bulan sekali. Siang malam menjalankan program. Tak hanya di kelas. Mandi, makan, tidur semuanya jadi kurikulum.

Full Day School di Pesantren Bukan Take and Give - Pondok Darussalam Jatibarang
Full Day School di Pesantren Bukan Take and Give - Pondok Darussalam Jatibarang


Full Day School di Pesantren Bukan Take and Give

Lalu, ya itu tadi: emang gurunya dibayar berapa?

Pertanyaan itu mengungkapkan pemahaman bawah sadar masyarakat yang sangat serius. Bisa jadi menandakan pemahaman bahwa pendidikan sudah menjadi komoditas yang bersifat transaksional. Take and give. Murid membayar, guru dibayar.

Hal yang insya Allah tidak didapati di pondok pesantren yang hakiki karena memang pesantren sejatinya tidak memakai sistem transaksional dan ukuran duniawi seperti ini. Semangat pesantren yang ada hanyalah give, give dan give. Tidak ada take and give.

Pondok Darussalam Jatibarang

Wakif ikhlas mewakafkan lahannya. Kyai ikhlas memimpin. Guru ikhlas mendidik. Santri ikhlas dididik. Walisantri ikhlas menyerahkan putra putrinya untuk dididik.

Pondok Darussalam Jatibarang

Itulah kenapa beban kerja pendidik di pesantren tidak bisa dihitung pakai matematika dunia. Apalagi jika sampai dihitung perjam pelajaran. Apalagi sampai pakai hitungan lembur pula. Karena niat mereka memang bukan bekerja mencari penghasilan seperti layaknya pegawai di instansi-instansi lainnya.

Dalam sistem pesantren, santri hanya membayar apa yang mereka pakai. Makanan, listrik, air dan sebagainya. Zelf berdruiping system. Bersama memakai bersama membayar. Tidak ada rumusan santri membayar guru.

Mendidik santri adalah bentuk perjuangan. Bentuk pengabdian kepada agama dan bangsa. Lalu bagaimana mereka menghidupi keluarga mereka? Itulah rahasia keberkahan yang dijanjikan Allah SWT kepada siapapun yang mau membantu agama-Nya.

(إن تنصر الله ينصركم ويثبّت أقدامكم)

In tanshurullaah yanshurukum wa yutsabbit aqdamakum.

Burung saja keluar sarang sudah dijanjikan rejekinya oleh Sang Maha Pemberi Rezeki. Transaksional? Bukan tempatnya di pesantren. Apalagi jika hanya berfikir mengambil apa yang ada di pesantren.

Dari model proses pendidikan yang terjaga niat keikhlasannya inilah diharapkan didapatkan keberkahan ilmu dan ridha Ilahi serta outputnya para peserta didik berakhlaqul karimah dan bermanfaat bagi dirinya, agama, keluarga dan bangsanya. Amin. Ayo Mondok! [Pondok Darussalam Jatibarang

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/full-day-school-di-pesantren-bukan-take-and-give.html

Minggu, 19 Mei 2013

Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak

Bantul, Pondok Darussalam Jatibarang. Gunungan wayang setinggi 11 meter direncanakan akan turut meramaikan pameran wayang yang dilaksanakan Pesantren Kaliopak, 27-30 November 2014.

Bahannya dari lilitan pelepah pisang dan anyaman bambu. Pembuatannya memakan waktu dua minggu lebih, kata M Imam, ketua pelaksana kegiatan, Selasa (25/11) malam, di Pesantren Kaliopak, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak (Sumber Gambar : Nu Online)
Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak (Sumber Gambar : Nu Online)


Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak

Sebelum berdiri di lokasi pameran, gunungan wayang ini diarak atau biasa disebut kiraban. Gunungan dikirab dari Mancasan ke Dusun Klenggotan, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

Pendirian gunungan yang merupakan rangkaian kegiatan Pekan Peringatan 11 Tahun Pengukuhan Wayang Pusaka Kemanusia Dunia ini bermaksud menandakan simbol gunungan secara filosofis. Pameran yang dilaksanakan berkat kerja sama Pesantren Kaliopak, Lesbumi, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini mengusung tema Ngaji Wayang.

Pondok Darussalam Jatibarang

Ngaji wayang maksudnya untuk memahami wayang lebih dalam, bukan sekadar melihat dari luar. Bahkan, wayang bisa untuk menginternalisasi diri kita sendiri, papar M Jadul Maula, pendiri Pesantren Kaliopak.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pameran ini menghadirkan karya dari 17 seniman. Di antaranya Agus Nuryanto, Ardian Kresna, Indiria Maharsi, Ki Suharno Cermo Sugondho, Nasirun, dan Yoyo. Karya lukis yang dihadirkan mencapai 24 karya. (Red: Mahbib)

Foto: Kitab gunungan wayang 11 meter

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55977/gunungan-wayang-11-meter-hiasi-pameran-wayang-di-kaliopak

Jumat, 07 September 2012

KH Mundziri Jepara: Gerhana Matahari Bukan Atraksi Tuhan

Pondok Darussalam Jatibarang - Gerhana matahari total tidak hanya fenomena alam. Meskipun terjadi sekali dalam ratusan tahun, hal itu tetap atas kehendak Allah sebagai tanda dan pengingat agar kita bersyukur atas nikmat cahaya matahari setiap saat.

KH Mundziri Jepara: Gerhana Matahari Bukan Atraksi Tuhan - Pondok Darussalam Jatibarang
KH Mundziri Jepara: Gerhana Matahari Bukan Atraksi Tuhan - Pondok Darussalam Jatibarang


KH Mundziri Jepara: Gerhana Matahari Bukan Atraksi Tuhan

Matahari adalah makhluk yang taat kepada Allah. Tidak pernah sekalipun ia padam seperti listrik, kecuali pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Demikian kata KH. Mundziri Jauhari dalam khutbah usai shalat gerhana matahari bersama ratusan warga nahdliyyin dan masyarakat Jepara lainnya di Majid Agung Jepara, Rabu pagi (9 Maret 2016).

Dalam khutbahnya selama 20 menit, Kiai Mundziri menyampaikan pesan dan kritik. Pesan yang disampaikan agar memperbanyak dzikir kepada Allah selama gerhana dan memperbanyak sedekah, baik yang rahasia maupun terbuka. Peristiwa gerhana adalah waktu mulia yang diberikan Allah kepada kita untuk bersyukur.

Hendaknya gerhana menjadikan kita lebih dekat dengan Allah, tidak hanya menyebut gerhana sebagai peristiwa alam biasa saja tanpa menyandarkannya kepada Allah. Menurut Mundziri, ini bagian dari praktik yang mendangkalkan akidah.

"Dan patut disayangkan, dua hari yang lalu, salah satu tokoh besar skala nasional menulis dengan judul yang sangat terang bahwa gerhana ini adalah atraksi Tuhan," ujarnya dalam khutbah.

Kita bertempat di bumi Allah Ta’ala, selama hidup kita makan rizki dari Allah. "Maka kita dituntut untuk selalu memuliakan Allah Ta’ala, bukan justru menyebut Allah seperti seorang akrobat yang suka beratraksi. Ini, nyuwun sewu, merupakan dosa yang amat besar," lanjut khutbahnya.

Sebelum rampung pukul 08.00 WIB, H. Ahmad Marzuki Bupati Jepara, juga berkesempatan memberikan tausiyah kepada hadirin sebagaimana pesan Kyai Mundziri. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/kh-mundziri-jepara-gerhana-matahari-bukan-atraksi-tuhan.html

Senin, 26 Maret 2012

Pesantren Kawah Candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin

Kudus, Pondok Darussalam Jatibarang. Meski disebut lembaga pendidikan tradisionalis, pesantren telah menjadi kawah candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin. Dari sini, pesantren banyak melahirkan generasi muslim yang modern, progresif dan toleran dalam keberagaman..

Demikian yang disampaikan Pengasuh Pesantren Nahdlatut Thalibin Tayu Pati KH Abu Ahmad Nadhif Abdul Mudjib pada seminar bertema Penguatan Islam toleran, Menepis Radikalisme, yang diselenggarakan Lembaga Pusat Kajian Multikultural (PUSAKA) di Aula Balai Desa Rendeng Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (28/12).

Pesantren Kawah Candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kawah Candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Kawah Candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin

Gus Nadhif mengatakan pesantren sering dituding sebagai lembaga keagamaan konservatif dan statis, namun kenyataannya tetap eksis dalam dinamika modernitas. Pesantren telah mampu menunjukkan dirinya sebagai lembga yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dirinya sendiri.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pesantren itu memiliki khazanah intelektual klasik, karya sarjana Islam terkemuka dan otoritatif di bidangnya masing-masing. Di dalamnya mengandung pikirn-pikiran pluralistik yang bersahaja, ujarnya.

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, lanjut dia, pesantren telah memainkan peran tranformasi sosial dan kultural. Pesantren selalu apresiatif terhadap kebudayaan lokal dengan bersikap akomodatifatas kebudayaan dan tradisi-tradisi lokal.

Pondok Darussalam Jatibarang

Ia memaparkan melalui ajaran-ajaran sufisme yang dikembangkan pesantren, praktik-praktik tradisi dan ekspresi budaya dalam mesyarakat bukan menjadi masalah sepanjang mendasarkan diri pada prinsip tauhid. Hal ini karena, pesantren melihat persoalan ini tidak dari format dan mekanisme formalistik melainkan subtansinya.

Makanya, kita menolak tegas sikap dan cara pandang kelompok puritan radikal yang memahami pandangan akomodatif tersebut sebagai bidah (sesat) dan musyrik, tegas Gus Nadhif.

Terkait adanya image pesantren sebagai sarang teroris, ia menyanggahnya. Menurutnya, adanya pesantren yang selama ini dituding mencetak kader teroris dikarenakan hanya menyatakan menganut dan mengajarkan Aswaja, tetapi hanya mengikuti para salafus sholih tanpa mengikuti mazhab tertentu.

Pesantren tersebut mendistorsi pengertian salafus sholih tanpa menyatakan diri mengikuti mazhab tertentu,terangnya.

Disamping Gus Nadhif, seminar yang dihadiri puluhan peserta dari kalangan ormas keagamaan dan pesantren ini menghadirkan juga ketua umum Asosia Tani Nusantara (ASTANU) Lukman Hakim sebagai pembicara kedua.(Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49071/pesantren-kawah-candradimuka-islam-rahmatan-lil-alamin

Pondok Darussalam Jatibarang

Minggu, 16 Oktober 2011

Uang Bagaikan Air, Jika Ditahan Dia Kotor. Kosongkan Dompet Agar Kembali Terisi!

Pondok Darussalam Jatibarang - Suatu hari istri dari KH Rahmat Abdullah (Almarhum) mengeluh tentang persediaan uang untuk kebutuhan rumah tangga yang tinggal sedikit, Ust Rahmat pun menjawabnya dengan tenang: "Santai aja ibu.. duit kalo tinggal dikit artinya mau dateng lagi "

Subhanallah, ungkapan yang sangat singkat, namun padat, begitulah kelebihan yang Allah berikan kepada para ulama, sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair "خير الكلام ما قل ودل / Sebaik-baik perkataan yang sedikit dan argumentatif "

Uang Bagaikan Air, Jika Ditahan Dia Kotor. Kosongkan Dompet Agar Kembali Terisi! - Pondok Darussalam Jatibarang
Uang Bagaikan Air, Jika Ditahan Dia Kotor. Kosongkan Dompet Agar Kembali Terisi! - Pondok Darussalam Jatibarang


Uang Bagaikan Air, Jika Ditahan Dia Kotor. Kosongkan Dompet Agar Kembali Terisi!

Ungkapan Ust Rahmat mengajarkan kita bahwa uang itu mengisi tempat yang kosong, karenanya jika Allah ingin kembali mengisi dompet kita, kosongkanlah sebagiannya untuk membantu sesama .

Pondok Darussalam Jatibarang

Uang itu bagaikan air yang didalam gelas, jika belum kita minum, maka air didalam botol tak akan bisa mengisinya. Uang itu bagaikan air jika ditahan dia kotor, adapun jika kita melepasnya maka ia akan bersih

Uang itu bagaikan air jika ia ditahan, maka ia akan mencari jalan keluarnya sendiri, karenanya Nabi saw berujar "ما حالطت الصدقة مالا إلا أفسدته "Tidaklah sedekah bercampur dengan harta, melainkan ia akan merusak harta tersebut ".

Pondok Darussalam Jatibarang

Ia akan mencari jalan keluarnya sendiri melalui "anak kita yang sakit sehingga harus ke dokter , handphone kita yang hilang, mobil kita yang rusak dan lain lain yang menguras harta kita.

Uang itu seperti udara ,ia selalu mengisi ruang yang kosong, karenanya berbagi dan kosongkanlah, biarlah Allah dengan caranya mengisi kehampaan itu. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/uang-bagaikan-air-jika-ditahan-dia-kotor-kosongkan-dompet-anda.html

Sabtu, 21 Mei 2011

Sedekah Atas Nama Orang yang Meninggal Itu Dianjurkan

Pondok Darussalam Jatibarang - Untuk Menjawab tuduhan kesamaan tradisi kematian umat Islam yang disamakan dengan tradisi di Hindu-Budha, ada penjelasan menarik dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Hijaz di Makkah dan Madinah dari Madzhab Syafiiyah, tentang sedekah atas nama orang yang sudah meninggal:

Sedekah Atas Nama Orang yang Meninggal Itu Dianjurkan - Pondok Darussalam Jatibarang
Sedekah Atas Nama Orang yang Meninggal Itu Dianjurkan - Pondok Darussalam Jatibarang


Sedekah Atas Nama Orang yang Meninggal Itu Dianjurkan

وَالتَّصَدُّقُ عَنِ الْمَيْتِ عَلَى وَجْهِ شَرْعِيٍّ مَطْلُوبٌ وَلَا يُتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ سَبْعَةَ أيَّامٍ او أَكْثَرَ او أَقَلَّ ، وَتَقْيِيدٌ بِبَعْضِ الْأيَّامِ مِنَ الْعَوَائِدِ فَقَطْ. كَمَا أَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدُ أَحْمَدُ دَحَلانَ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيْتِ فِي ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِي سابعٍ وَفِي تَمامِ الْعَشْرَيْنِ وَفِي الأربعين وَفِي المِائَةِ وَبَعْدَ ذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلًا فِي يَوْمِ الْمَوْتِ كَمَا أَفَادَ شَيْخُنَا يُوسُفُ السَنْبَلاَوِينِي (نهاية الزين باب الوصية للشيخ نووي البنتني)

“Bersedekah atas nama mayit dengan cara yang syar’i adalah dianjurkan, tanpa ada ketentuan harus 7 hari, lebih atau kurang dari 7 hari. Sedangkan penentuan sedekah pada hari-hari tertentu itu hanya merupakan kebiasaan masyarakat saja, sebagaimana difatwakan oleh Sayyid Ahmad Dahlan.

Sungguh telah berlaku di masyarakat adanya kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga kematian, hari ketujuh, dua puluh, empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya. Sebagaimana disampaikan oleh guru kami Syaikh Yusuf al-Sunbulawaini.”. (Nihayatuz Zain bab Wasiat karya Syeikh Nawawi Banten)

Kalau di sekitar Negeri Hijaz kala itu telah membolehkan sedekah pada hari-hari tertentu, akankah terkontaminasi budaya Hindu-Budha? Pernahkah Hindu-Budha masuk ke wilayah Hijaz?

Andaikata ada kemiripan, apakah dalam Hindu-Budha membaca Yasin dan Tahlil? Kalau semua hal yang sama dengan agama lain, maka dalam agama Hindu-Budha juga ada pernikahan. Apakah anda akan meninggalkan pernikahan karena di semua agama ada nikah? [Pondok Darussalam Jatibarang]

Ma'ruf Khozin, Aswaja NU Center Jatim

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/sedekah-atas-nama-orang-yang-meninggal-itu-dianjurkan.html

Rabu, 12 Januari 2011

Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran

Pondok Darussalam Jatibarang - Sikap penolakan Front Pembela Islam (FPI) Jawa Tengah kepada Ibu Sinta Nuriyah Wahid (istri Gus Dur) pada acara buka puasa bersama di Gereja Kristus Raja Ungaran yang kemudian digeser ke Gereja Yakobus Pudak Payung Semarang pada Kamis (16 Juni 2016) sore tadi, adalah berlebihan.

Hanya dengan alasan khawatir terjadi gangguan keamanan karena menolak doa bersama lintas agama, FPI hendak melakukan kontrol tanpa wewenang di Semarang hingga mengusir tamu kehormatan yang diundang. Demikian dikatakan oleh Ubbadul Adzkiya’, aktivis Lembaga Studi Sosial dan Agama (Elsa) Semarang, sore tadi.

Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran - Pondok Darussalam Jatibarang
Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran - Pondok Darussalam Jatibarang


Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran

Bahkan, FPI Ungaran juga mengancam akan membubarkan diskusi dalam nobar “Pulau Buru Tanah Air Beta” dan lounching buku karya Tsabit Azinar Ahmad berjudul “Sejarah Kontroversial dalam Perspektif Pendidikan” yang rencananya akan diselenggarakan di Rumah Simpul Buku, Sekarang, Semarang pada 17-18 Juni 2016 besok.

Bukan tidak mungkin, setelah mengusir Sinta Nuriyah, FPI akan memblokir jalan dan mengancam acara diskusi. “Bedah buku Tan Malaka juga ditolak oleh FPI Semarang karena dianggap buku komunis padahal mereka tidak membaca,” kata Nafiul Haris, jurnalis, kepada Pondok Darussalam Jatibarang.

Sementara itu, Banser Jateng menyatakan tetap mengawal Ibu Sinta Nuriyah hingga aman dari makar FPI. “Di mana pun tempatnya, apa pun bentuknya, dan kapan pun waktunya, dalam rangka untuk mengawal Ibu Nyai Shinta Nuriyah, istri guru kita, kyai kita, Kyai Abdurrahman Wahid, silaturrahim keilmuan, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah,” kata Hasyim As’ary, Kasatkorwil Banser Jawa Tengah. [Pondok Darussalam Jatibarang/ m abdullah badri]

Pondok Darussalam Jatibarang

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/awas-setelah-usir-sinta-nuriyah-fpi-semarang-akan-sasar-diskusi-di-ungaran.html

Pondok Darussalam Jatibarang

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Darussalam Jatibarang dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock