Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2016

Pesantren Al-Mukhtariyyah Gelar Haul Pendiri

Subang, Pondok Darussalam Jatibarang. Jelang bulan ramadhan tiba, Pesantren Al-Mukhtariyyah dan segenap Bani Mukhtar rutin mengadakan haul Abah Mukhtar, seorang tokoh yang mendirikan Tajug Al-Mukhtar pada tahun 1950-an, tahun ini adalah haul yang ke 27. Kegiatan tersebut digelar pada jum`at (5/6) kemarin.

Kegiatan Haul Abah Mukhtar tersebut digelar di dua tempat, di Tajug Al-Mukhtar diisi dengan pengajian satu khataman Alquran dan dilanjut dengan tahlilan di komplek pemakaman.

Pesantren Al-Mukhtariyyah Gelar Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Mukhtariyyah Gelar Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Al-Mukhtariyyah Gelar Haul Pendiri

H. Aep Robayat (50), selaku cucu pertama pasangan Abah Mukhtar dan Ibu Aisyah dalam sambutannya mengungkapkan bahwa Abah Mukhtar merupakan sosok yang berhasil memberikan contoh yang baik untuk anak, cucu dan para santrinya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Abah Mukhtar adalah seorang yang rajin beribadah, tiap hari kalau mau subuh ambil wudlu ke kali yang ada di bawah sana, pakai sotop (lampu yang dimasukan ke dalam kaleng dan dapat memberi penerangan laiknya lampu senter) ujar Aep di hadapan ratusan hadirin yang terdiri dari keturunan Abah Mukhtar, santri Pesantren Al-Mukhtariyyah Kalijati dan Pesantren Al-Karimiyyah Patokbeusi.

Abah Mukhtar, tambah Aep, adalah sosok yang supel, tidak punya musuh, kalau pun ada yang benci, ia tidak pernah membencinya. Selain itu, ia pun seorang yang sederhana, makan pun seadanya, bukan berarti miskin.

Pondok Darussalam Jatibarang

Hal itu, tambah dia karena hartanya digunakan pendidikan, Abah punya usaha oncom, minyak sayur dan berladang dan hasilnya untuk menyekolahkan anak-anaknya, dan Alhamdulillah semua anak-anaknya berhasil menjadi guru, pungkasnya.

Redaktur : Abdullah Alawi

Kontributor : Aiz Luthfi

Keterangan foto Abah Mukhtar dan jamaah usai mengadakan pengajian di Mushola Al-Mukhtar pada tahun 1970-an. Ia kedua dari kiri, menghadap ke kanan, memakai baju putih.

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45623/pesantren-al-mukhtariyyah-gelar-haul-pendiri

Pondok Darussalam Jatibarang

Rabu, 27 Agustus 2014

Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi)

Pondok Darussalam Jatibarang - Berbagai studi tentang pesantren menunjukkan, meski pelan pesantren senantiasa mengalami perubahan. Namun karena sangat pelan, perubahan-perubahan itu baru bisa dikenali melalui waktu yang panjang. Dalam ilmu sejarah hal demikian dikenal sebagai longe-durée, yaitu sejarah jangka panjang terkait dengan perubahan struktural yang lambat sekali. Di sini diperlukan ketelitian dan ketelatenan dalam mengikuti denyut-denyut kecil perubahan itu.

Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi) - Pondok Darussalam Jatibarang
Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi) - Pondok Darussalam Jatibarang


Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi)

Perubahan di pesantren senantiasa dikaitkan dengan figur kiai. Dalam studinya, Manfred Ziemek (1983) misalnya, membuktikan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berpengaruh penting bagi perubahan sosial masyarakat desa. Demikian juga dengan Hiroko Horikoshi (1987). Ia menyoroti peran kiai sebagai aktor penting dalam perubahan sosial.

Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi) - Pondok Darussalam Jatibarang
Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi) - Pondok Darussalam Jatibarang


Setelah Pesantren Berubah Wajah (Dari NU ke Wahabi)

Menurutnya, kiai berperan penting sebagai penyaring informasi untuk memacu perubahan pesantren dan masyarakat sekitarnya. Kiai juga bertindak sebagai mediator dan cultural broker (makelar budaya).

Meski peneliti-peneliti tersebut berhasil membuktikan perubahan-perubahan di pesantren dan peran kiai dalam proses perubahan itu, namun perubahan itu tetap dalam konteks pengembangan peran pesantren. Aspek-aspek ideologis pesantren masih tetap dalam bingkai kulturalnya.

Namun, dalam waktu yang panjang, perubahan dalam pesantren tidak selalu menuju ke arah yang dikehendaki. Ada perubahan-perubahan menuju ke arah yang mengkhawatirkan, yaitu metamorfosis sejumlah pesantren menjadi kekuatan wahabisme. Hal ini diamati secara cermat dalam desertasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ditulis M. Suparta, sekarang menjabat sebagai Irjen Depag RI. Desertasi ini diujikan pada akhir Agustus tahun 2008.

Studi tentang perubahan orientasi pesantren ini mengambil fokus dua pesantren, yaitu Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Desertasi yang diujikan pada 20/9/08 itu memperlihatkan bahwa perubahan orientasi keilmuan kiai mempunyai pengaruh besar untuk mengubah wajah pesantren yang pada gilirannya mempengaruhi wajah keagamaan masyarakat.

Dua pesantren yang distudi desertasi ini termasuk pesantren tua, yakni Pesantren Maskumambang berdiri tahun 1859 oleh Kiai Abdul Jabbar (w. 1907), dan pesantren al-Fatah didirikan pada 1912 oleh Kiai Siddiq (w. 1950). Pada awalnya, dua pesantren ini dapat dikatakan sebagai tipikal pesantren NU yang mengembangkan paham ahl al-sunnah wa al-jama'ah (aswaja).

Namun dalam perjalanannya, kedua pesantren tersebut berganti wajah. Pesantren Maskumambang berganti wajah dari pesantren salafiyah-aswaja menjadi modern-wahabi. Sedang al-Fatah Magetan berubah dari salafiyah-tarekat-aswaja menjadi pesantren berwajah majlis tabligh.

Perubahan itu merupakan hasil dari interaksi dua pesantren ini dengan dunia luar. Pesantren Maskumambang bergerak ke arah wahabi pada generasi kedua, yang diwakili figur Kiai Ammar Faqih (w.1965) setelah dia belajar ke Mekah dan Madinah dan persentuhannya dengan karya Muhammad bin Abdul Wahab, Kitab al-Tauhid ketika menjalankan ibadah haji. Perubahan orientasi Pesantren Maskumambang semakin jelas ketika Kiai Nadjih Ahjad mengganti posisi Kiai Ammar Faqih.

Sedang pesantren al-Fatah Magetan berubah wajah menjadi majlis tablig setelah Kiai Uzairon belajar ke Mesir dan Kiai Noor Tohir belajar ke Mekah. Kedua pengasuh al-Fatah tersebut berkenalan dengan majlis tablig yang didirikan Maulana Muhammad Ilyas bin Muhammad Ismail al-Kandahlawi (w. 1944). Hubungan itu dilanjutkan dengan kunjungan jama'ah tabligh dari India dan Pakistan ke al-Fatah Magetan pada 1984 dan 1988.

Peristiwa ini pada 1989 sempat memunculkan ketegangan antara Pesantren al-Fatah dengan PCNU Magetan. Ketika itu, Kiai Uzairon menjabat sebagai Rais Syuriah, dan Kiai Noor Tohir sebagai Katib Syuriyah PCNU Magetan. Forum tabayyun itu ternyata tidak menemukan titik temu.

Kiai Uzairon dan Kiai Noor Tohir akhirnya menyatakan keluar dari NU dan memilih mengembangkan majlis tabligh. Sejak itu, Pesantren al-Fatah semakin menjauh dari komunitas NU dan semakin mantap mengembangkan karakter keberagamaan majlis tabligh dengan khuruj (keluar menyebarkan agama) menjadi ciri khasnya.

Karena peristiwa ini, banyak wali santri yang berontak. Wali santri banyak yang tidak bisa menerima pilihan pengelola Pesantren al-Fattah. Akhirnya, sekitar 500 santri ditarik orang tuanya dan dipindahkan ke pesantren lain.

Penulis yakin, metamorfosis dan perubahan orientasi pesantren demikian tidak hanya dialami Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Masih banyak sejumlah pesantren NU yang ikut tergerus gelombang wahabisme. Kalau Ketua Umum PB NU, Hasyim Muzadi, menyatakan Islam Indonesia diserang ideologi trans-nasional, kasus Maskumambang dan al-Fatah bisa menjadi contoh riil.

Bahkan, kini medan pertarungan itu tidak hanya melalui pesantren. Masjid-masjid sebagai basis kehidupan sosial keagamaan masyarakat juga menjadi ajang kontestasi. Dari berbagai informasi yang penulis peroleh, masjid-masjid yang dikelola warga NU banyak sekali yang “diserobot” kelompok wahabi dan aliran puritan lainnya.

Dari kenyataan tersebut, ada beberapa hal yang layak dicatat. Pertama, jika selama ini NU mengklaim mempunyai soko guru yang kokoh, yaitu pesantren, ternyata kini pesantren telah mengalami metamorfosis yang melahirkan wajah baru pesantren yang jauh dari karakter ke-NU-an. Meski saya tidak percaya semua pesantren NU akan terbawa arus ini, namun jika tidak diwaspadai bukan tidak mungkin paham keagamaan NU akan semakin dipandang asing di negerinya sendiri. NU juga akan semakin kehilangan legitimasi pesantren.

Kedua, pelajaran berharga dari Pesantren Maskumambang dan al-Fatah adalah ternyata jaringan tokoh-tokoh pesantren yang dibangun melalui belajar di luar negeri, terutama Mekkah dan Madinah mempunyai pengaruh besar dalam mengubah wajah pesantren. Memang tidak sumua alumni Mekkah dan Madinah menjadi wahabi, namun mengabaikan hal ini juga bukan sikap yang baik.

Ketiga, NU memang punya lembaga yang secara khusus membidangi soal pesantren, yaitu Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyah (RMI). Lembaga ini perlu diorientasikan untuk melihat perkembangan pesantren-pesantren NU dari sisi orientasi ideologisnya. Hal ini memang bukan perkara mudah. Meski NU mengklaim mempunyai basis pesantren, tapi pesantren di lingkungan NU mempunyai otonomi penuh yang tidak bisa dicampuri dan diintervensi pengurus struktural NU. Pesantren NU lebih bisa digerakkan melalui hubungan guru-murid, daripada hubungan struktur NU.

Memang, perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak. Arus perubahan terkadang juga tidak terduga. Dan kini, pesantren di hadapkan pada berbagai pilihan perubahan. Harus diakui, di sini umat Islam, termasuk warga NU dan pesantren, sering tergagap dalam menghadapi berbagai arus perubahan. Saya yakin, pesantren memang tidak akan bisa hilang dari bumi Indonesia. Masalahnya adalah pesantren jenis apa yang akan hidup. Inilah tantangan yang harus dihadapi. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Rumadi, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/setelah-pesantren-berubah-wajah-dari-nu-ke-wahabi.html

Sabtu, 12 Juli 2014

IPNU NTB Rayakan Harlah Sekaligus Rakerwil

Mataram, Pondok Darussalam Jatibarang. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat merayakan hari lahir (Harlah) yang ke-62 dan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) bersama Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang IPNU se-NTB (19/02/16).

Acara harlah ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Asep Irpan Mujahid dan dihadiri juga oleh ketua PWNU NTB Tgh A Taqiudin Mansur dan jajaran pengurus.

IPNU NTB Rayakan Harlah Sekaligus Rakerwil (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU NTB Rayakan Harlah Sekaligus Rakerwil (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU NTB Rayakan Harlah Sekaligus Rakerwil

Asep Irpan dalam sambutannya mengatakan, "IPNU hari ini harus kita jaga dan kita tingkatkan kualitasnya."

Dikatakan juga, karena IPNU hari ini adalah NU di masa depan, kalau IPNU hari ini main-main maka NU ke depan juga hasilnya juga akan main-main, tegasnya

Pondok Darussalam Jatibarang

Ketua PWNU NTB juga mengatakan bahwa IPNU hari ini jauh lebih berkembang dari sebelumnya, terbukti dengan program-program yang di laksanakan oleh IPNU terutama di NTB, terangnya. Red: Mukafi Niam

Pondok Darussalam Jatibarang

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66024/ipnu-ntb-rayakan-harlah-sekaligus-rakerwil

Pondok Darussalam Jatibarang

Rabu, 09 Juli 2014

PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menyerahkan kertas kerja organisasi selama 15 tahun periode kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atau masa khidmah 1984 hingga 1999 ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Saat ini kertas kerja itu telah tertata rapi di ruang perpustakaan di lantai 2 kantor PBNU.

PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI

Menurut Kepala Perpustakaan PBNU, H Satiiri Ahmad, penyerahan arsip PBNU yang selanjutnya disebut Kertas Kerja Gus Dur itu dilakukan setelah melalui tahap identifikasi awal oleh pihak ANRI.

Pondok Darussalam Jatibarang

Selama sekitar lima bulanan sudah dilakukan proses akuisisi. Ada tim dari ANRI yang datang untuk melakukan identifikasi, misalnya apakah naskah ini asli atau foto copy, katanya kepada NU Onine, Senin (19/12).

Pondok Darussalam Jatibarang

Kertas kerja Gus Dur akan diserahkan secara resmi kepada pusat arsip Indonesia itu sebelum pelaksanaan Muktamar ke-33 NU, awal Agustus 2015 mendatang.

Wakil Sekjen PBNU H Abdul Munim DZ mengatakan, kerjasama dengan ANRI kali ini adalah tahap kedua. Tahap pertama, tahun 1983 silam beberapa saat sebelum kantor PBNU direnovasi, KH Moenasir Ali (sekjen PBNU waktu itu) menyerahkan arsip dari kantor di jalan Kramat Raya Jakarta Pusat ke pihak ANRI.

Kerjasama dengan pihak ANRI diteruskan oleh Gus Dur pada 1985. Arsip yang diserahkan oleh KH Moenasir Ali itu adalah kertas kerja PBNU selama periode 1952 hingga 1982. Secara berkala PBNU meninjau proses pengelolaan arsip NU di gedung pusat ANRI Jalan Ampera, Jakarta Selatan.

Saat ini arsip PBNU yang telah diserahkan ANRI untuk tahap pertama sudah selesai dikatalogisasi. Pihak ANRI sudah melakukan tematisasi, dan memberikan catatan-tatatan serta deskripsi untuk membantu pembaca dalam memahami konteks sejarah pada saat arsip itu dibuat.

Pada 20 November 2014 lalu, ANRI bekerja sama dengan PBNU menggelar kegiatan Ekspose Inventaris Arsip NU 1952-1982. Kegiatan dibuka langsung oleh Deputi Bidang Konservasi M. Taufik yang diikuti dengan dialog seputar kebijakan pengolahan arsip NU di ANRI dan peta arsip NU. Dari PBNU waktu itu diwakili oleh Wakil Sekje Abdul Munim DZ dan Kepala Perpustakaan Satiri Ahmad.

Arsip NU di ANRI berisi bermacam-macam dokumen surat-menyurat, hasil muktamar, pertemuan alim-ulama, sidang pleno, administrasi keanggotaan, hingga catatan keuangan, kepengurusan, dan badan otonom dan lembaga NU.

Arsip yang dipindahkan dari kantor PBNU pada masa khidmah 1952 hingga 1982 ke gedung ANRI juga memuat informasi mengenai amal usaha dan peran NU terkait pendidikan, ekonomi, politik, sosial, ketenagakerjaan, keamanan, pertahanan, dan hubungan luar negeri baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, revolusi hingga masa kemerdekaan RI.

Arsip ini merupakan etalase NU. Melalui kerja sama dengan ANRI, diharapkan publik akan melihat NU secara positif, kata Munim DZ. (A. Khoirul Anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57112/pbnu-akan-serahkan-kertas-kerja-gus-dur-ke-anri

Pondok Darussalam Jatibarang

Sabtu, 24 Agustus 2013

Kurangajar, Tengku Zulkarnain Tuduh Islam Nusantara Itu Proyek Ada Uang

Pondok Darussalam Jatibarang - Betul nian kata tuan Fahri Hamzah dalam twitternya beberapa waktu. Apa itu? Ia menyebut dengan tanda tanya kalau orang bertato lebih berbahaya daripada orang yang berjenggot. Duh, tuan Fahri memang selalu membuat tweet yang lumayan ngawur kali ini ada benarnya banyak walau salahnya sedikit. Lihat cuitan Tuan Fahri al-wakil partai emboh di DPR RI itu.

Foto Bu Susi (atas) bertato, dan (bawah) berjenggot, adalah Patrialis Akbar Tweet Fahri tersebut sebenarnya sudah tergambar jawabanya pada foto di atas. Bu Menteri Susi yang bertato ternyata tidak lebih berbahaya eksistensinya daripada yang berjenggot itu. Justru kalau Fahri mau melek sedikit, bukan merem-merem melek, ia akan tahu bahwa yang berjenggot kadang (kalau tidak mau disebut sering) lebih berbahaya daripada yang berjenggot.

Kurangajar, Tengku Zulkarnain Tuduh Islam Nusantara Itu Proyek Ada Uang - Pondok Darussalam Jatibarang
Kurangajar, Tengku Zulkarnain Tuduh Islam Nusantara Itu Proyek Ada Uang - Pondok Darussalam Jatibarang


Kurangajar, Tengku Zulkarnain Tuduh Islam Nusantara Itu Proyek Ada Uang

Buktinya adalah Tuan Tengku Zulkarnain, pria berjenggot yang selama ini disebut ulama. Baru-baru ini, Tengku Zulkarnain membuat fitnah murahan kalau Islam Nusantara adalah proyek yang ada duitnya. Itu ia katakan ketika menjawab akun twitter Masnita Djisla yang heran karena sejak ngaji dari kecil tidak pernah mendengar istilah Islam Nusantara. Ini tweetnya:

Tweet Tengku Zulkarnain atas Islam Nusantara Tuduhan langsung yang tanpa konfirmasi tersebut dilontarkan Tengku Zulkarnaen dalam kapasitasnya sebagai, katakanlah, ulama sebelah. Ia tidak menyebut uangnya darimana, jumlah besaran berapa, dan mengapa isu Islam Nusantara sampai dibahas oleh petinggi negara-negara Eropa, Amerika hingga Timur Tengah. Wah, dananya bisa ribuan triluan itu.

Orang berjenggot wedus gibas begitu sepertinya tidak pernah mempelajari makna Islam Nusantara, yang sejak dijadikan tema Muktamar NU ke 33 di Jombang pada tahun 2015 lalu tetap menggema di jagad intelektual muslim dunia hingga saat ini, tanpa pengawalan, tanpa konsolidasi dan fokus gerakan seperti demo GNPF dalam aksi 212 atau 411.

Pondok Darussalam Jatibarang

Para penggerak kajian Islam Nusantara, terutama kalangan muda NU hingga kini tetap bergairah karena ia bukan aliran apalagi madzhab. Islam Nusantara adalah kajian Islam tanpa melupakan konteks budaya, tradisi dan kerukunan umat beragama. Dan itu sudah berlangsung ratusan tahun di bumi Nusantara.

Pondok Darussalam Jatibarang

Bagaimana dengan GNPF yang selalu panik tiap hari hingga harus mengadakan shalat subuh berjamaah dimana-mana, apa itu tanpa sokongan dana petro dollar? Apakah Tengku Wisnu, eh, Zulkarnain ding, tidak mendapatkan kucuran dana ratusan miliar dari pemesan demo? Apa itu tidak berbahaya dan tidak mengancam kesatuan bangsa?

Kirim saja uangnya ke Pondok Darussalam Jatibarang, pasti lebih bermanfaat. Biar tidak digunakan untuk aksi kurangajar oleh pemilik tweet kurangajar itu. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kurangajar-tengku-zulkarnain-sebut-islam-nusantara-proyek-ada-uang.html

Sabtu, 11 Agustus 2012

25 Ribu Orang Ziarahi Makam Gus Dur

Jombang, Pondok Darussalam Jatibarang. Kharisma KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sangat luar biasa. Memperingati 1.000 hari wafatnya mantan Presiden Indonesia yang digelar Kamis (27/9/2012) malam, diperkirakan diikuti 25 ribu orang.

Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jatim Sinarto mengatakan, besarnya luberan peziarah terlihat dari pergerakan orang yang keluar masuk makam Gus Dur yang berada di kompleks Pondok Pesantren Tebu Ireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

25 Ribu Orang Ziarahi Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
25 Ribu Orang Ziarahi Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)


25 Ribu Orang Ziarahi Makam Gus Dur

Berdasar pantauan stafnya di lokasi makam dan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPBD), hingga pukul 15.00 WIB, jumlah pengunjung diperkirakan sudah mencapai 10 ribu orang.

Namun menjelang petang hingga malam hari nanti, luberan peziarah baik dari wisatawan nusantara (Wisnus) maupun wisatawan mancanegara (Wisman) dipastikan semakin banyak. Kami perkirakan jumlah pengunjung yang datang bisa mencapai 25 ribu orang, ujarnya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Jumlah tersebut, ujar pejabat yang juga dalang ini, naik 500 persen dibandingkan pengunjung pada hari biasa yang hanya 5-6 ribu orang.

Pondok Darussalam Jatibarang

Bahkan dibandingkan pengunjung yang ke makam Sunan atau Wali Songo yang ada di Jatim, jumlah yang datang ke makam Gus Dur ini tetap lebih banyak.Bahkan luar biasanya, mereka yang datang ke makam Gus Dur tidak hanya dari kalangan muslim saja, tapi juga lintas agama, jelasnya.

Redaktur : Hamzah Sahal

Sumber : Tribunnews

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39997/25-ribu-orang-ziarahi-makam-gus-dur

Sabtu, 17 Desember 2011

Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation

Blitar, Pondok Darussalam Jatibarang. The Jihad resolution issued by Nahdlatul Ulama (NU), the countrys largest Muslim organization, on October 22, 1945, was a significant contribution of NU Muslim scholars (ulema) in dealing with the nations situation in the time. The NUs success should inspire all of the NU followers (Nahdliyin) to be capable of reading the current situation.

According to Ach. Dofir Zuhri that all NU cadres must restore their critical reasoning in reading the nations situation, since challenges faced by NU and the nation are highly complex such as economic, cultural, political, and so forth.

Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation (Sumber Gambar : Nu Online)


Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation

"For that reason, restoring the critical reasoning is essential in todays conditions, namely the cold war or a war of ideology," he said at a meeting held by Lakpesdam NU of Blitar here on Saturday (26/10).

Pondok Darussalam Jatibarang

Meanwhile, Syaiful Maarif speaking at the forum said that now NU had not had ulema whose charisma and sufi attributes such as wara (scrupulous abstinence) are the same as such NU ulema as KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah and KH Wahid Hasyim.

"Thats why, NU cadres, especially todays clerics must reflect and imitate the ulema personalities," he explained.

Pondok Darussalam Jatibarang

The Secretary Lakpesdam NU of Blitar Gigih Wardana said the commemoration of the NU jihad resolution should be annual agenda.

"The commemoration is a reflection momentum for NU cadres to continue the ulema and pesantren struggle in fighting for the Indonesian independence," he said.

As we know, the founder of Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asyari issued the jihad resolution for supporting and encouraging Muslims to join the battle and fight against the reoccupation of Indonesia by foreign troops.

The fatwa followed a meeting of ulema from Java and Madura in Surabaya to respond to the proclamation of Indonesias independence by Sukarno and Mohammad Hatta in Jakarta on Aug. 17, 1945.

The fatwa was written in pegon, an Arabic script but in Indonesian or Javanese (Amiq, 1998; 88). It says, among other things, that there is an obligation (fardlu ain) for Muslims to fight against infidels (the Dutch) in order to defend Indonesian independence, that those who died during the fight against NICA (Netherland Indies Civil Administration) would be considered martyrs and the killing of those who undermine the movement and break national unity is legitimate. This fatwa later on became well-known as the Jihad Resolution.

Naturally, the issuance of the fatwa stimulated fighters to stream into Surabaya and fight the Allied troops. The fighters included followers of the Hizbullah and Sabilillah groups from Surabaya and the surrounding cities such as Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang and others.

Reporting by Imam Kusnin; Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (Regional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47874/nahdliyin-told-to-039be-brilliant-in-dealing-with-the-nation039s-situation039

Pondok Darussalam Jatibarang

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Darussalam Jatibarang dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock