Tampilkan postingan dengan label Hadis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Mei 2014

Munas dan Konbes NU Akan Bahas Dana Talangan Haji

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Dana Talangan Haji sebagai salah satu faktor panjangnya antrian jamaah haji menjadi salah satu perhatian para ulama Nahdliyin. Indikasi perhatian ini adalah akan dibahasnya permasalahan Dana Talangan Haji ini pada Komisi Masail Diniyah Waqiiyyah di Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Cirebon bulan September mendatang.

Demikian dinyatakan ketua Komisi Masail Diniyyah, KH Arwani Faishal usai rapat Komisi Masail Diniyyah di Jakarta, baru-baru ini. Menurut Faishal, selain Dana Talangan Haji, panitia juga sudah mempersiapkan materi pembahasan-pembahasan lainnya.

Munas dan Konbes NU Akan Bahas Dana Talangan Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas dan Konbes NU Akan Bahas Dana Talangan Haji (Sumber Gambar : Nu Online)


Munas dan Konbes NU Akan Bahas Dana Talangan Haji

Materi lain yang rencananya akan dibahas di Munas dan Konbes adalah pembayaran ibadah haji dan umroh melalui bank konvensional, Pembunuhan Karakter dan Alokasi anggaran program pemerintah untuk kelompok tertentu, tutur Arwani.

Lebih lanjut Arwani menjelaskan, pembahasan-pembahasan masalah yang dikirimkan dari PWNU-PWNU telah dirapatkan di kepanitiaan pusat dan telah dipilih untuk dibahas di Munas dan Konbes.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pondok Darussalam Jatibarang

Arwani berharap, keputusan-keputusan Komisi Bahtsul Masail Diniyah di Munas dan Konbes nantinya dapat menjadi acuan bagi seluruh warga Nahdliyin. Sehingga warga Nahdliyin tak lagi bimbang untuk menentukan pelaksanaan atau meninggalkan suatu keputusan dalam hidup.

Karena itu pula, nantinya panitia juga akan mensosialisasikan hasil-hasil keputusan Bahtsul Masail Diniyyah Waqiiyyah kepada publik, tandasnya.

Penulis : Syaifullah Amin

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38261/munas-dan-konbes-nu-akan-bahas-dana-talangan-haji

Pondok Darussalam Jatibarang

Rabu, 01 Mei 2013

PW IPNU-IPPNU NTB Rekrut Kader CBP-KPP

Lombok, Pondok Darussalam Jatibarang. Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU Nusa Tenggara Barat (NTB) merekrut 60 orang kader Corp Brigade Pelajar (CBP) dan Korp pelajar Putri (KPP) dari unsur pelajar yang berbasis pesantren NU yang ada di Pulau Lombok.

Proses kegiatan rekrutmen kader ini akan berlangsung selama empat hari, Rabo-Sabtu (22-25/10) di Pondok Pesantren Al Mansuriah NU jalan TGH Saleh Hambali Bonder Lombok Tengah NTB.

PW IPNU-IPPNU NTB Rekrut Kader CBP-KPP (Sumber Gambar : Nu Online)
PW IPNU-IPPNU NTB Rekrut Kader CBP-KPP (Sumber Gambar : Nu Online)


PW IPNU-IPPNU NTB Rekrut Kader CBP-KPP

Kegiaan kali ini berbeda dari acara-acara yang pernah dan sering dilakukan oleh wilayah dan atau cabang yang ada di NTB seperti Makesta, Lakud, Lakmud dan lain lain yang banyak blajar di forum atau di ruangan. Kegiatan yang pertama kali dilakukan oleh PW IPNU IPPNU NTB ini lebih banyak berada di lapangan mengingat kegiatan ini dilatih ala militir.

Pondok Darussalam Jatibarang

Dengan adanya kegiatan ini maka dapat diukur bahwa regenerasi di internal IPNU IPPNU NTB akan baik, kata Irfan Suriadiata Ketua PW IPNU NTB.

Di tempat yang sama ketua panitia Habibul Umam yang merupakan anak kedua dari Ketua Tanfidziah NU NTB ini mengungakpakan bahwa latihan CBP KPP ini diniatkan untuk mencari generasi penerus bagi IPNU IPPNU, mengingat ada beberapa cabang yang vakum dan tidak bisa menjalankan programnya sama sekali.

Hal ini akan mengkhawatirkan kalau tidak di pesiapkan dari sekarang. Maka kedepan akan terjadi stagnasi kader dan generasi penerus, terangnya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Kegiatan kaderisasi ini dibuka oleh pengasuh pondok pesantren Al-Mansuriah yang juga ketua PWNU NTB Drs. TGH. A. Taqiuddin Mansur,M.Pd.I. (Samsul Hadi/Anam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55263/pw-ipnu-ippnu-ntb-rekrut-kader-cbp-kpp

Pondok Darussalam Jatibarang

Sabtu, 13 April 2013

Ketulusan Kiai Said Membuat Santri Ini Bingung Muter-Muter Jakarta

Pondok Darussalam Jatibarang - Suatu ketika seorang santri dari kampung ingin nyantri sambil 'ngabdi dalem' ke Gus Dur. Sesampai di kediaman Gus Dur, dapat nasehat dari santri senior Gus Dur agar nyantri saja ke Kiai Said Aqil. Alasannya, di kediaman Gus Dur sudah banyak santri yang 'ngabdi dalem'.

"Itu rumah Kiai Said Aqil," katanya sambil menunjuk ke arah kanan kediaman Gus Dur.

Tanpa pikir panjang, santri kampung itu menuju rumah Kiai Said Aqil. Sesampai di kediaman, Kiai Said Aqil mempersilahkan masuk dan bertanya, "dari mana?" Sang santri menjawab, "dari ndusun Siapigerak, Kiai."

Ketulusan Kiai Said Membuat Santri Ini Bingung Muter-Muter Jakarta - Pondok Darussalam Jatibarang
Ketulusan Kiai Said Membuat Santri Ini Bingung Muter-Muter Jakarta - Pondok Darussalam Jatibarang


Ketulusan Kiai Said Membuat Santri Ini Bingung Muter-Muter Jakarta

Sang santri mengutarakan niatannya untuk 'ngabdi dalem' dengan wajah sedih kuatir ditolak. Rupanya tidak, Kiai Said Aqil menunjukkan wajah sumringah, "ya, jenengan di sini saja. Belajar di sini, itu sudah ada beberapa santri di kamar belakang. Makan, tidur seadanya ya," kata Kiai Said Aqil. Santri pun bertambah satu.

Kiai Said Aqil memang dekat dengan para santrinya. Tak cuma dekat, Kiai Said Aqil juga menghormati santri santrinya. Saat bicara dengan santrinya, Kiai Said Aqil selalu menggunakan bahasa Jawa kromo inggil.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pernah seorang santri Kiai Said Aqil ingin pulang kampung. Alasannya, dia tidak betah meneruskan nyantrinya di Ciganjur.

"Kenapa, pulang?" Tanya Kiai Said Aqil. Sang santri terdiam.

Pondok Darussalam Jatibarang

"Di sini sepi ya? Nanti lama lama juga ramai," imbuh Kiai Said Aqil.

"Saya ingin kuliah saja."

"Kuliah di sini saja, cari yang pas untuk jenengan, saya bantu biayanya," jawab Kiai Said Aqil.

Sang santri masih kukuh minta izin pulang. Akhirnya Kiai Said Aqil memberi izin sambil memberikan uang saku. "Ya sudah, ini untuk bekal pulang pergi. Salam saya kalau sudah ketemu orang tua," pesan Kiai Said Aqil.

Sang santri kegirangan. Dia bertekad untuk tidak kembali ke Ciganjur. Sesampai di terminal Lebak Bulus, hatinya bimbang. Ketulusan Kiai Said Aqil mengganggunya. Ia pun berputar-putar Jakarta hingga tiga hari tiga malam. Hari keempat, ia putuskan kembali ke Ciganjur.

"Alhamdulillah, cepet jenengan pulangnya," sambut Kiai Said Aqil di Aula kediamannya. Saat bersalaman, Kiai Said Aqil berkata lirih, "di sini saja, meski sekarang sepi, tempat ini nanti ramai." [Pondok Darussalam Jatibarang]

Source: NU Ranting Ciangsana, Bogor

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/ketulusan-kiai-said-membuat-santri-ini-bingung-muter-muter-jakarta.html

Selasa, 20 Desember 2011

Mewujudkan Pesantren Bersih Bebas Kudis

Pondok Darussalam Jatibarang – Kamar santri pondok pesantren biasanya dihuni 25 orang. Tempat wudlu dan cuci kaki pun, lazimnya tidak menggunakan kran. Sanitasi pesantren bahkan tidak memenuhi standar kesehatan. Kadang ada puluhan ekor lele, mujair dan jenis ikan mas di dalamnya.

Karena sumber air terbatas, ada ponpes yang menggunakan sistem menimba langsung dari sumur. Namun banyak yang tidak terkontrol sumber airnya. Musim hujan yang membuat air berlimpah, belum bisa digunakan secara maksimal sebagai sumber air yang memadai untuk santri. Akhirnya memunculkan penyakit kudis, kurap, panu di kalangan santri zaman dahulu.

Beberapa poin di atas itulah yang dikemukakan oleh Drs. H Solihin MM, Kabid PD Pontren Kanwil Kemenag, dalam Pelatihan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren (PBPK) yang diselenggarakan Pengurus Rabithatul Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Jawa Tengah di Pesantren Raudlatul Mubtadiin, Balekambang, Nalumsari, Jepara, Rabu (25/05/2016) siang.

Mewujudkan Pesantren Bersih Bebas Kudis - Pondok Darussalam Jatibarang
Mewujudkan Pesantren Bersih Bebas Kudis - Pondok Darussalam Jatibarang


Mewujudkan Pesantren Bersih Bebas Kudis

Pondok Darussalam Jatibarang

Dalam materi Kebijakan Kemenag dalam Pengembangan Kebersihan Pondok Pesantren, Solihin mengharapkan agar santri bisa bersih secara jasmani dan rohani. Dalam imajinasinya, pesantren itu jadi tempat yang tidak nyaman bagi tumbuhnya sawang (laba-laba). "Dimana ada sawang, itu yuritsul faqro," katanya.

Kegiatan itu, kata Muhammad Zulfa, panitia dari RMI Jateng, adalah yang terakhir dari rangkaian sosialisasi program Pesantrenku Bersih. Sebelum di Balekambang, kegiatan serupa diadakan di Ponpes Khozinatul Ulum (Blora), Al-Falah (Salatiga), Qur’aniyah (Kendal) dan Maslakul Huda (Pati).

Pondok Darussalam Jatibarang

Ada tujuh ponpes yang mengikuti pelatihan yang digelar Rabu dan Kamis (25-26 Mei 2016) itu, yakni Ponpes Raudlatul Mubtadi’in (Balekambang), Hasyim Asy’ari (Bangsri), Darul Ulum (Bandungharjo), Khozinatul Hikmah (Bawu), Darut Tauhid (Potroyudan) dan Manbaul Ulum (Kedungombo). “Total peserta 40 orang,” terang Zulfa kepada Pondok Darussalam Jatibarang.

Setelah menerima materi, peserta PBPK diharapkan bisa menjadi delegasi program pesantren bersih dan sehat tingkat nasional. “Pada Silatnas RMI di Pasuruan kemarin, PBPK sudah dijadikan agenda nasional RMI Pusat,” kata Zulfa. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/mewujudkan-pesantren-bersih-bebas-kudis.html

Rabu, 27 Oktober 2010

Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya

Pondok Darussalam Jatibarang - Kisah nyata mahasiswa Indonesia di Australia. Suatu pagi ia menjemput klien, seorang bapak-bapak yang sudah tua yang berprofesi sebagai pengusaha, asal Singapura. Bicaranya bergaya Melayu campur Inggris. Ia menceritakan pengalaman hidupnya kepada mahasiswa tersebut.

Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya - Pondok Darussalam Jatibarang
Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya - Pondok Darussalam Jatibarang


Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya

Pengusaha yang punya bisnis di Kalimantan itu membuka dialog ringan, "your country is so rich/ negaramu sangat kaya." Dalam hati, mahasiswa itu belum tertarik, "ah, biasa banget dengar kalimat itu," batinnya.

Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya - Pondok Darussalam Jatibarang
Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya - Pondok Darussalam Jatibarang


Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya

"Indonesia doesn't need the world, but the world needs Indonesia. Everything can be found here in Indonesia, you don't need the world." (Dunia yang butuh indonesia, bukan sebaliknya). Kalimat lanjutan tersebut membuat sang mahasiswa terperanjat, tertarik mendengarkan. Ia menjelaskan begini:

-- Indonesia paru-paru dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia akan kacau. Singapura is nothing, we can't be rich without Indonesia. 500 ribu orang Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan. Bisa terbayang uang yang masuk ke kami, apartemen-apartemen terbaru kami yang beli adalah orang Indonesia. Tidak peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS kami, isinya hampir Indonesia semua.

Terus, kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap kebakaran hutan Indonesia masuk? Sangat terasa, we are nothing. Kalian tahu kan kalau kemarin, dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras.

Lihatlah negara kalian, air bersih di mana-mana. Lihatlah negara kami, air bersih pun kami impor dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dalam rangka bisnis, karena pasirnya mengandung permata. Terlihat glitter kalau ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp. 3 ribu/kg ke pabrik Cina. Sementara pabrik jual kembali seharga Rp. 30 ribu/kg.

Kalian sadar tidak kalau negara-negara lain selalu takut mengembargo Indonesia? Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian manjadi mandiri, makanya tidak diembargo. Harusnya kalianlah yang mengembargo diri kalian sendiri --

Dialog tersebut membuat sadar mahasiswa tersebut. Ia kemudian menulis pesan "belilah pangan dari petani-petani kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik-pabrik sendiri. Tak perlu impor, kalau bisa produksi sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa mengembargo diri sendiri, Indonesia will rule the wordl. (Indonesia akan mengatur dunia)".

Mari semangat membangun, jangan hanya asal Jokowi pokoknya harus dikritisi PKI, Syiah, Yahudi, Cina, aseng, asong, komunis, anti Islam dan lainnya. Kita sedang berpacu, bukan berperang militer wahai sumbu pendek radikal. Dikit-dikit takbir. Itu penyalahgunaan yang fatal. Dunia membutuhkan Indonesia, bukan sebaliknya. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/pengusaha-singapura-dunia-butuh-indonesia-bukan-indonesia-butuh-dunia.html

Jumat, 23 Juli 2010

Darah Istihadhah Istri Tak Berhenti, Bolehkah Menggaulinya?

Pertanyaan :

Darah Istihadhah Istri Tak Berhenti, Bolehkah Menggaulinya? - Pondok Darussalam Jatibarang
Darah Istihadhah Istri Tak Berhenti, Bolehkah Menggaulinya? - Pondok Darussalam Jatibarang


Darah Istihadhah Istri Tak Berhenti, Bolehkah Menggaulinya?

Bagaimana hukumnya istri yang sedang istihadhah disetubuhi? (Dari: Riya Damayanti)

Jawaban :

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum berhubungan intim dengan wanita yang sedang mengeluarkan darah istihadhoh, terdapat dua pendapat berbeda dalam masalah ini:

Pendapat pertama: Mayoritas ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad menyatakan bahwa bergubugan intim dewan wanita yang sedang istihadhoh hukumnya boleh, baik ketika darahnya keluar atau tidak. Imam Ibnul Mundzir menjelaskan bahwa pendapat ini juga merupakan pendapat Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhiu, Ibnul Musayyab, Al-Hasan, Atho’ Qotadah, Sa’id bin Jabir, Hammad bin Sulaiman, Bakar bin Abdulloh Al-Muzani, Al-Auza’i, Ats-Tsauri danIshaq Abu Tsur, dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir.

Dalil dari pendapat ini adalah pemahaman dari firman Allah SWT:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Q.S. Al-Baqoroh : 222)

Ayat diatas secara jelas dinyatakan bahwa larangan menggauli wanita yang sedang haidh berlaku sampai wanita tersebut berhenti haidhnya, jadi haidhnya sudah tuntas maka diperbolehkan menggaulinya, sedangkan masa istihadhoh itu bukan masa haidh, karena itu ketentuan yang berlaku baginya adalah seperti ketentuan bagi wanita yang suci seperti diwajibkannya sholat dll. karena itu diperbolehkan juga menggaulinya.

Dan berdasarkan hadits:

عَنْ حَمْنَةَ بِنْتِ جَحْشٍ، أَنَّهَا كَانَتْ مُسْتَحَاضَةً وَكَانَ زَوْجُهَا يُجَامِعُهَا “Dari Hamnah binti Jahsy, bahwa dia pernah istihadlah, dan suaminya tetap berhubungan badan dengannya.” (Sunan Abu Dawud, no.310)

Selain itu suatu larangan hanya bisa ditetapkan jika ada dalil yang melarangnya, dan tidak ada dalil yang melarang menggauli istri dalam keadaan istihadhoh.

Pendapat kedua: Menurut madzhab Hanbali, Ibnu Sirin, Asy-Sya’bi, An-Nakho’i, Al-Hakam dan Syekh Ibnu Ulaiyah

dari kalangan madzhab Maliki, menggauli wanita dalam keadaan istihadhoh itu tidak diperbolehkan, kecuali apabila tidak dilakukan takut akan berzina maka diperbolehkan.

Dalilnya adalah atsar yang diriwayatkan dari sayyidah A’isyah rodhiyallohu ‘anha, beliau mengatakan:

الْمُسْتَحَاضَةُ لَا يَغْشَاهَا زَوْجُهَا “Wanita yang sedang istihadhoh tidak boleh digauli suaminya” (Sunan Baihaqi, no.1563)

Selain itu, terdapat bahaya/sakit (adza) pada wanita yang sedang istihadhoh, sedangkan alas an pelarangan menggauli wanita yang sedang haidh adalah karena adanya adza padanya, sebagaimana dijelaskan dalam firman Alloh diatas, karena itulah dalam hal ini statusnya disamakan dengan wanita yang sedang haidh dalam hal pelarangan menggaulinya.

Kesimpulannya, menggauli wanita dalam kondisi istihadhoh diperbolehkan menurut madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama’, sedangkan menurut madzhab Hanbali dan beberapa ulama’ tidak diperbolehkan. Meskipun begitu, jika dikhawatirkan membahayakan, baik bagi lelaki atau wanitanya sendiri terutama menggauli wanita tersebut saat darahnya keluar, sebaiknya hal ini tidak dilakukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ "Tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat." (Sunan Ibnu Majah, no.2341)

Wallohu a’lam.

Dijawab oleh: Farid Muzakki, Permata Hati dan Siroj Munir

Referensi : Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz: 44 Hal: 21 (Fiqih Perbandingan)

Hasyiyah Ibnu Abidin Ala Durrul Mukhtar, Juz: 1 Hal: 291 (Madzhab Hanafi)

Jawahirul Iklil Syarah Muhtashor Kholil, Juz: 1 Hal: 31 (Madzhab Maliki)

Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, Juz: 2 Hal: 373 (Madzhab Syafi’i)

Kasysyaful Qona’, An Matnil Iqna’, Juz: 1 Hal: 218 (Madzhab Hanbali)

Sunan Ibnu Majah, Juz: 2 Hal: 784

Ibarat:

Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 44 Hal : 21 اختلف الفقهاء في جواز وطء المستحاضة على قولين القول الأول: ذهب جمهور الفقهاء من الحنفية والشافعية والمالكية وأحمد في إحدى الروايتين عنه إلى جواز وطء المستحاضة. وقد نقله ابن المنذر عن ابن عباس رضي الله عنه وابن المسيب والحسن وعطاء وقتادة وسعيد بن جبير وحماد بن أبي سليمان وبكر بن عبد الله المزني والأوزاعي والثوري وإسحاق وأبي ثور، وقال ابن المنذر: وبه أقول واحتجوا على ذلك بقوله تعالى: {حتى يطهرن } . وهذه طاهرة من الحيض، وبما روي أن حمنة بنت جحش رضي الله عنها كانت تستحاض، وكان زوجها طلحة بن عبيد الله يجامعها، وأن أم حبيبة رضي الله عنها كانت تستحاض، وكان زوجها عبد الرحمن بن عوف يغشاها ، وقد سألتا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أحكام المستحاضة، فلو كان وطؤها حراما لبينه لهما. ولأن المستحاضة كالطاهر في الصلاة والصوم والاعتكاف والقراءة وغيرها، فكذلك في الوطء، ولأنه دم عرق، فلم يمنع الوطء كالناسور، ولأن التحريم بالشرع، ولم يرد بتحريم في حقها، بل ورد بإباحة الصلاة التي هي أعظم القول الثاني: ذهب الحنابلة في المذهب وابن سيرين والشعبي والنخعي والحكم وابن علية من المالكية إلى أنه لا يباح وطء المستحاضة من غير خوف العنت منه أو منها، لما روي عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: " المستحاضة لا يغشاها زوجها " . ولأن بها أذى فيحرم وطؤها كالحائض، فإن الله تعالى منع وطء الحائض معللا بالأذى بقوله: {قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض } . فأمر باعتزالهن عقيب الأذى مذكورا بفاء التعقيب، ولأن الحكم إذا ذكر مع وصف يقتضيه ويصلح له علل به، والأذى يصلح أن يكون علة فيعلل به، وهو موجود في المستحاضة فيثبت التحريم في حقها

Hasyiyah Ibnu Abidin Ala Durrul Mukhtar, Juz : 1 Hal : 291 ودم استحاضة) حكمه (كرعاف دائم) وقتا كاملا (لا يمنع صوما وصلاة) ولو نفلا (وجماعا) لحديث «توضئي وصلي وإن قطر الدم على الحصير ................................. قوله وجماعا) ظاهره جوازه في حال سيلانه وإن لزم منه تلويث، وكذا هو ظاهر غيره من المتون والشروح وكذا قولهم: يجوز مباشرة الحائض فوق الإزار وإن لزم منه التلطخ بالدم، وتمامه في ط

Jawahirul Iklil Syarah Muhtashor Kholil, Juz : 1 Hal : 31 ثم هي مستحاضة وتغتسل كلما انقطع وتصوم وتصلي وتوطأ ................................... هى مستحاضة) لا حائض فتغتسل من الحيض وتصلى وتصوم وتوطأ والدم نازل عليها -إلى أن قال- وتوطأ بعد غسلها على المعروف خلافا لصاحب الارشاد القائل لا يجوز وطؤها

Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 2 Hal : 373 يجوز عندنا وطئ المستحاضة في الزمن المحكوم بأنه طهر وإن كان الدم جاريا وهذا لا خلاف فيه عندنا قال القاضي أبو الطيب وابن الصباغ والعبد رى وهو قول أكثر العلماء ونقله ابن المنذر في الإشراف عن ابن عباس وابن المسيب والحسن وعطاء وسعيد بن جبير وقتادة وحماد بن أبي سليمان وبكر بن عبد الله المزني والاوزاعي ومالك والثوري واسحق وأبي ثور قال ابن المنذر وبه أقول وحكي عن عائشة والنخعي والحكم وابن سيرين منع ذلك وذكر البيهقي وغيره أن نقل المنع عن عائشة ليس بصحيح عنها بل هو قول الشعبي أدرجه بعض الرواة في حديثها وقال احمد لا يجوز الوطئ إلا أن يخاف زوجها العنت واحتج للمانعين بأن دمها يجري فأشبهت الحائض واحتج أصحابنا بما احتج به الشافعي في الأم وهو قول الله تعالى (فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن) وهذه قد تطهرت من الحيض واحتجوا أيضا بما رواه عكرمة عن حمنة بنت جحش رضي الله عنها أنها كانت مستحاضة وكان زوجها يجامعها رواه أبو داود وغيره بهذا اللفظ بإسناد حسن وفي صحيح البخاري قال قال ابن عباس المستحاضة يأتيها زوجها إذا صلت الصلاة أعظم ولأن فكذا في الوطئ ولانه دم عرق فلم يمنع الوطئ كالناسور ولأن التحريم بالشرع ولم يرد بتحريم بل ورد بإباحة الصلاة التي هي أعظم كما قال ابن عباس والجواب عن قياسهم على الحائض أنه قياس يخالف ما سبق من دلالة الكتاب والسنة فلم يقبل ولأن المستحاضة لها حكم الطاهرات في غير محل النزاع فوجب إلحاقه بنظائره لا بالحيض الذي لا يشاركه في شئ

Kasysyaful Qona’, An Matnil Iqna’, Juz : 1 Hal : 218 ولا يباح وطء المستحاضة من غير خوف العنت منه أو منها) لقول عائشة: المستحاضة لا يغشاها زوجها ولأن بها أذى فحرم وطؤها كالحائض، وعنه يباح مطلقا، وهو قول أكثر العلماء لأن حمنة كانت تستحاض، وكان زوجها طلحة بن عبيد الله يجامعها، وأم حبيبة كانت تستحاض، وكان زوجها عبد الرحمن بن عوف يغشاها، رواهما أبو داود وقد قيل: إن وطء الحائض يتعدى إلى الولد فيكون مجذوما

Sunan Ibnu Majah, Juz : 2 Hal : 784 حدثنا محمد بن يحيى قال: حدثنا عبد الرزاق قال: أنبأنا معمر، عن جابر الجعفي، عن عكرمة، عن ابن عباس، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا ضرر ولا ضرار

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/darah-istihadhah-istri-tak-berhenti-bolehkan-menggaulinya.html

Selasa, 23 Maret 2010

Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong!

Pondok Darussalam Jatibarang - Umat Islam yakin seyakin-yakinnya bahwa para sahabat adalah sekelompok manusia mulia yang tidak diragukan kadar cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Pertanyaan muncul, mengapa kita saat ini melakukan Maulid Nabi, padahal sahabat tidak melakukannya. (Silakan dikorekasi jika ternyata ada riwayat sahabat merayakan maulid Nabi).

Apakah peringatan maulid yang dilakukan umat Islam saat ini bisa jadi tolak ukur cintanya kepada Nabi Muhammad? Bahkan ditanyakan juga, apakah cinta sebagian umat Islam yang ikut memeringati Maulid Nabi saat ini melebihi cinta para sahabat yang pernah hidup bersama Nabi, hanya karena umat saat ini memperingati kelahiran Nabi, sedang sahabat tidak?

Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong! - Pondok Darussalam Jatibarang
Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong! - Pondok Darussalam Jatibarang


Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong!

Jawabannya, justru karena umat saat ini yang tak pernah berjumpa dengan Nabi itulah yang seharusnya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara membaca kembali kisah hidup perjuangan beliau, sejak lahir hingga wafat.

Apakah salah kita membaca kisah hidup sang Nabi akhir zaman kekasih Allah ini? Harusnya, kita wajib membaca dan mempelajari sejarah hidup Nabi Muhamad SAW, agar tumbuh cinta dan sayang kapada Nabi.

Bukankah peribahasa mengatakan, tak kenal maka tak sayang? Lalu dengan cara apa lagi kita bisa mengenal Nabi jika tidak pernah membaca sejarah hidup beliau, akhi? Maka sangat patut dan harus membacanya, sebagaimana banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitab sirah dan kitab maulid seperti Simtud Duror karangan Assayyidil Habib Ali bin Muhammad Alhabsy, Barzanji, Addiba’i dan juga Qashidah Burdah karya Assyekh Abi Abdillah Muhammad Albushiry.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pondok Darussalam Jatibarang

Kita yang tidak pernah hidup dan melihat langsung Nabi Muhammad Saw. inilah yang harus dibangkitkan cintanya. Adapun para sahabat Nabi adalah saksi yang melihat langsung bagaimana Nabi Muhammad SAW berjuang dan berdakwah, sehingga tidak diragukan lagi rasa cintanya kepada Nabi.

Disamping itu, buku-buku tentang kisah hidup Nabi ditulis jauh masanya setelah para sahabat meninggal. Bahkan buku-buku kisah Nabi itu bersumber dari keterangan lisan para sahabat yang kemudian ditulis oleh para ulama.

Allah juga memerintahkan kepada kita untuk mempelajari kisah hidup para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, sebagaimana ayat-ayat berikut ini:

1. Surat Maryam ayat 41:  “Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al-Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.”

2. Surat Maryam ayat 51: Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al-Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi.

3. Surat Maryam ayat 54: Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.

4. Surat Maryam ayat 56: Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.

Coba perhatikan ayat-ayat di atas, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menceritakan kisah para Nabi terdahulu dalam rangka menguatkan iman dan islamnya para sahabat ketika itu. Mengapa? Karena para sahabat tidak pernah tahu apalagi melihat langsung kehidupan Nabi terdahulu.

Karena itulah kisah hidup perjuangan Nabi Muhammad SAW patut juga kita pelajari dan baca kembali, melalui berbagai media apapun, termasuk dengan cara membaca Kitab Maulid seperti sudah disebutkan di atas.

Jika masih ada saja yang membenci perayaan maulid Nabi, melarangnya, bahkan mensyirikkannya, maka firman Allah di bawah ini rasanya tepat dijadikan jawaban,

Artinya: "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil". (QS. al-Qoshos: 55). Wallahu’alam. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/sahabat-nabi-tidak-rayakan-maulid-bidah-dong.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Darussalam Jatibarang dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock