Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Desember 2015

Renungan Akhir Tahun KH Mustofa Bisri (Gus Mus)

Pondok Darussalam Jatibarang - Ini adalah reningan akhir tahun dari mutiara kata KH Mustofa Bisri atau Gus Mus. Di tengah iklim politik negeri yang makin mudah dipecah belah dengan berita hoax dan ujaran kebencian, pesan Gus Mus layak dijadikan bahan renungan menuju lembaran baru awal 2017 agar tidak membuka tahun dengan melaknati langit. Berikut pesan-pesan Gus Mus.

1. Kebenaran kita berkemungkinan salah, kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar benar.

2. Kalau Anda boleh meyakini pendapat Anda, mengapa orang lain tidak boleh.

3. Jangan banyak mencari banyak, carilah berkah. Banyak bisa didapat dengan hanya meminta. Tapi memberi akan mendatangkan banyak dan berkah.

4. Tidak ada alasan untuk tak bersedekah kepada sesama. Karena sedekah tidak harus berupa harta. Bisa berupa ilmu, tenaga, bahkan senyum.

Baca: Gus Mus Kecam Pendakwah yang Main Hakim Sendiri

5. Apa yang kita makan, habis. Apa yang kita simpan, belum tentu kita nikmati. Apa yang kita infakkan justru menjadi rizki yang paling kita perlukan kelak.

6. Abadikan kebaikanmu dengan melupakannya.

7. Tawakkal mengiringi upaya. Doa menyertai usaha.

8. “Berkata baik atau diam” adalah pesan Nabi yang sederhana tapi sungguh penting dan berguna untuk diamalkan dan disosialisasikan.

9. Janganlah setan terang-terangan engkau laknati dan diam-diam engkau ikuti.

10. Mau mencari aib orang? Mulailah dari dirimu !

11. Hati yang bersih dan pikiran yang jernih adalah suatu anugerah yang sungguh istimewa. Berbahagialah mereka yang mendapatkannya.

12.Meski sudah tahu bahwa memakai kaca mata hitam pekat membuat dunia terlihat gelap, tetap saja banyak yang tak mau melepaskannya.

13. Awalilah usahamu dengan menyebut nama Tuhanmu dan sempurnakanlah dengan berdoa kepadaNya.

14. Ada pertanyaan yang ‘tidak bertanya’; maka ada jawaban yang ‘tidak menjawab’. Begitu.

15. Sambutlah pagi dengan menyalami mentari, menyapa burung-burung, menyenyumi bunga-bunga, atau mendoakan kekasih. Jangan awali harimu dengan melaknati langit.

16. Wajah terindahmu ialah saat engkau tersenyum. Dan senyum terindahmu ialah yang terpantul dari hatimu yang damai dan tulus.

Ada banyak nilai dalam mutiara kata Gus Mus di atas. Terutama yang dikutip Pondok Darussalam Jatibarang di sidebar kanan situs, yakni "janganlah setan terang-terangan engkau laknati dan diam-diam engkau ikuti". Ini adalah pukulan telak bagi mereka yang suka melaknati orang lain dengan cara-cara iblis (tak terpuji). Begitu. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/renungan-akhir-tahun-2016-kh-mustofa-bisri-gusmus.html

Senin, 25 Maret 2013

Haul Riyanto Banser NU ke 16, Sahabat Rindu Meski Dia Dilupakan

Pondok Darussalam Jatibarang - Riyanto Banser NU dari Mojokerto yang gugur pada 24 Desember 2016 saat ia memeluk bom agar jamaat geraja yang akan menjalankan natal selamat, adalah pahlawan kemanusiaan bagi kalangan NU, terutama Ansor dan Banser.

Pada haul ke 16 ini, sahabatnya yang masih aktif di Ansor, baik dari pusat maupun daerah, mengenang Riyanto dengan mengadakan acara ziarah dan tahlilan bersama di rumah almarhum yang beralamat di Jl. Prajurit Kulon Gg. Riyanto Kota Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (22/12/2016).

Banyak testimoni dari para sahabat Riyanto Banser. Termasuk dari H Rudi Triwahid, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur. Ini kesaksian Rudi tentang sosok Riyanto:

Haul Riyanto Banser NU ke 16, Sahabat Rindu Meski Dia Dilupakan - Pondok Darussalam Jatibarang
Haul Riyanto Banser NU ke 16, Sahabat Rindu Meski Dia Dilupakan - Pondok Darussalam Jatibarang


Haul Riyanto Banser NU ke 16, Sahabat Rindu Meski Dia Dilupakan

1. Bangga dan loyal pada kesatuannya, sebagai kader inti GP Ansor, terbukti dia tidak pernah ragu dalam menjalankan tugas dan selalu bangga memakai uniform "Banser".

2. Seorang yang taat pada pimpinan, walaupun ditugaskan di tempat dan di komunitas yang asing bagi dia, tetap dijalankannya dengan ikhlas sepenuh hati.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pondok Darussalam Jatibarang

3. Seorang humanis, walaupun berbeda keyakinan, berbeda agama tetap ditolong, diselamatkan, semuanya murni adalah tugas misi kemanusiaan.

4. Seorang yang pemberani (berjiwa patriotik) walaupun tahu bahwa bom adalah benda berbahaya, tanpa ragu diambilnya, didekap dan dibawa lari keluar Gereja, walaupun pada akhirnya "Blaaarrr" bom itu meledak dan sahabatku Riyanto mengorbankan dirinya.

Selamat jalan sahabatku Riyanto, 16 tahun sudah dirimu meninggalkan derap langkah pergerakan. Kami bangga kepadamu telah menjadikan GP Ansor sebagai thoriqoh menuju surga. Kau telah mempertegas peran dan posisi perjuangan GP Ansor dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara, testimoni lain juga datang dari sahabat-sahabat Banser lainnya, sebagaimana disajikan Pondok Darussalam Jatibarang dalam deretan gambar grafis dari arek-arek banser Jawa Timur, di bawah ini:

dr. H Umar Usman Dari Muhadi Sinambela

Testimoni Rudi Triwahid kepada Riyanto Testimoni Hasan Bisri

Testimoni dari Abdul Rasyid Riyanto adalah nama yang hampir tidak pernah dijadikan simbol bagi tiap menusia yang suka main hakim sendiri dan merasa paling benar sendiri. Ketika nilai-nilai kemanudiaan digadaikan demi kepentingan politik sesaat, dirangkai dengan baju agama, Riyanto tidak pernah diingat.

Padahal, dalam Al-Qur'an sudah disebutkan jelas bahwa diutusnya Nabi tiada lain karena untuk rahmat semesta, bukan hanya untuk muslimin saja, "Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam." (QS. Al-Anbiya’: 107). Ayat itu tidak lebih banyak disebut dan dibahas daripada Al-Maidah 51. Kami rindu Riyanto. Al-Fatihah! [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/haul-riyanto-banser-nu-ke-16-sahabat-rindu-meski-ia-dilupakan.html

Minggu, 17 April 2011

Sambut Persaingan Kuliner, Fatayat Adakan Pelatihan Tata Boga

Tuban, Pondok Darussalam Jatibarang. Banyak generasi muda yang mulai melupakan makanan khas Nusantara. Satu demi satu sejumlah menu andalan daerah akhirnya hilang dari peredaran. Berganti dengan makanan cepat saji yang sebenarnya kurang baik bagi kesehatan.

Kondisi ini mengundang keprihatinan. "Padahal makanan tradisional sebagai makanan khas daerah merupakan salah satu peninggalan dari nenek moyang yang perlu dikenal, dilestarikan serta dikembangkan," kata Hj Khoiriyah (29/9). Ketua Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Widang Tuban Jawa Timur ini bahkan menandaskan bahwa makanan tidak hanya berfungsi untuk mempertahankan kesehatan, akan tetapi memiliki fungsi sosial budaya yang dapat dijual dan dipromosikan untuk keperluan peningkatan devisa negara dari sektor non migas.

Sambut Persaingan Kuliner, Fatayat Adakan Pelatihan Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Persaingan Kuliner, Fatayat Adakan Pelatihan Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)


Sambut Persaingan Kuliner, Fatayat Adakan Pelatihan Tata Boga

Akan tetapi di era globalisasi, makanan tradisional muncul berdampingan dengan makanan modern produk negara lain dan bahkan hampir tergusur. "Berbagai faktor yang dapat menyebabkan lunturnya kecintaan akan makanan tradisional antara lain kurangnya pengenalan dan pengetahuan tentang makanan tradisional, adanya perubahan gaya hidup, perkembangan ekonomi, dan gencarnya promosi," tandas alumnus Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini.

Pondok Darussalam Jatibarang

Sadar dengan keadaan ini nampaknya perlu dilakukan langkah-langkah sebagai upaya yang tidak sekedar melestarikan, tapi mempromosikan secara lebih gencar dengan harapan agar makanan tradisional nantinya tetap digemari masyarakat. Bahkan bila dikelola dengan baik tidak hanya member kebanggaan bagi masyarakat lokal hingga manca negara.

Apalagi Kabupaten Tuban yang terletak di pesisir pantai utara memiliki potensi besar untuk pengembangan sektor pariwisata. "Sumber daya alam yang tersedia sangat mendukung kewirausahaan bagi masyarakat, khususnya di sektor kuliner" kata alumnus Pasca Sarjana Universitas Islam Lamongan ini. Tuban yang memiliki menu kuliner beragam, dapat dikembangkan dengan baik tentunya apabila didukung kemampuan masyarakat yang memadai, lanjutnya.

Sehingga pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan, salah satunya dengan memberikan keterampilan sebagai modal membuka sebuah usaha sesuai dengan potensi yang ada. "Hal inilah yang menggerakkan kami menyelenggarakan kegiatan ini," tandasnya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Karenanya, semenjak Ahad hingga Senin (28-29/9) dilangsungkan pelatihan tata boga. Kegiatan yang berlangsung di kantor PAC Fatayat NU Widang Tuban ini diikuti sejumlah utusan dari pengurus ranting dan pengusaha kuliner setempat.

Kegiatan yang mengambil tema kreasi aneka masakan tradisional Nusantara ini tidak semata memberikan teori bagi peserta, juga langsung melakukan praktik bagaimana mempersiapkan menu hingga penyajian yang sesuai dengan standar layanan.

Diharapkan dengan kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan mengenai berbagai masakan tradisional yang ada di Tuban. Demikian juga yang tidak kalah penting adalah melestarikan budaya tradisional bangsa melalui kuliner.

"Dari pelatihan intensif ini diharapkan akan mampu meningkatkan keterampilan di bidang kuliner dengan sumber daya lokal yang ada," katanya. Yang juga tidak dilupakan selama kegiatan peserta selalu didorong serta dimotivasi untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui keterampilan di sektor kuliner.

Karena para peserta adalah utusan dari sejumlah kepengurusan ranting maupun masyarakat yang memiliki usaha kuliner, maka diharapkan mereka juga bisa menularkan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan kepada komunitas setempat. "Agar pengetahuan dan pelatihan ini bisa lebih memberikan manfaat kepada masyarakat secara lebih luas," pungkasnya. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54790/sambut-persaingan-kuliner-fatayat-adakan-pelatihan-tata-boga

Pondok Darussalam Jatibarang

Rabu, 27 Oktober 2010

Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya

Pondok Darussalam Jatibarang - Kisah nyata mahasiswa Indonesia di Australia. Suatu pagi ia menjemput klien, seorang bapak-bapak yang sudah tua yang berprofesi sebagai pengusaha, asal Singapura. Bicaranya bergaya Melayu campur Inggris. Ia menceritakan pengalaman hidupnya kepada mahasiswa tersebut.

Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya - Pondok Darussalam Jatibarang
Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya - Pondok Darussalam Jatibarang


Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya

Pengusaha yang punya bisnis di Kalimantan itu membuka dialog ringan, "your country is so rich/ negaramu sangat kaya." Dalam hati, mahasiswa itu belum tertarik, "ah, biasa banget dengar kalimat itu," batinnya.

Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya - Pondok Darussalam Jatibarang
Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya - Pondok Darussalam Jatibarang


Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya

"Indonesia doesn't need the world, but the world needs Indonesia. Everything can be found here in Indonesia, you don't need the world." (Dunia yang butuh indonesia, bukan sebaliknya). Kalimat lanjutan tersebut membuat sang mahasiswa terperanjat, tertarik mendengarkan. Ia menjelaskan begini:

-- Indonesia paru-paru dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia akan kacau. Singapura is nothing, we can't be rich without Indonesia. 500 ribu orang Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan. Bisa terbayang uang yang masuk ke kami, apartemen-apartemen terbaru kami yang beli adalah orang Indonesia. Tidak peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS kami, isinya hampir Indonesia semua.

Terus, kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap kebakaran hutan Indonesia masuk? Sangat terasa, we are nothing. Kalian tahu kan kalau kemarin, dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras.

Lihatlah negara kalian, air bersih di mana-mana. Lihatlah negara kami, air bersih pun kami impor dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dalam rangka bisnis, karena pasirnya mengandung permata. Terlihat glitter kalau ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp. 3 ribu/kg ke pabrik Cina. Sementara pabrik jual kembali seharga Rp. 30 ribu/kg.

Kalian sadar tidak kalau negara-negara lain selalu takut mengembargo Indonesia? Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian manjadi mandiri, makanya tidak diembargo. Harusnya kalianlah yang mengembargo diri kalian sendiri --

Dialog tersebut membuat sadar mahasiswa tersebut. Ia kemudian menulis pesan "belilah pangan dari petani-petani kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik-pabrik sendiri. Tak perlu impor, kalau bisa produksi sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa mengembargo diri sendiri, Indonesia will rule the wordl. (Indonesia akan mengatur dunia)".

Mari semangat membangun, jangan hanya asal Jokowi pokoknya harus dikritisi PKI, Syiah, Yahudi, Cina, aseng, asong, komunis, anti Islam dan lainnya. Kita sedang berpacu, bukan berperang militer wahai sumbu pendek radikal. Dikit-dikit takbir. Itu penyalahgunaan yang fatal. Dunia membutuhkan Indonesia, bukan sebaliknya. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/pengusaha-singapura-dunia-butuh-indonesia-bukan-indonesia-butuh-dunia.html

Minggu, 08 Oktober 2006

Gerakan Nusantara Mengaji, Targetkan Khatam Quran 300 Ribu Kali

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 1994-1997, H Abdul Muhaimin Iskandar menggagas gerakan Nusantara Mengaji yang diharapkan mampu mengatasi ancaman radikalisme, terorisme, kesenjangan ekonomi, kesenjangan sosial, memudarnya nilai-nilai keagamaan, menjamurnya pergaulan bebas, maraknya penggunaan narkoba dan maraknya perilaku lesbi, gay, biseksual, transgender (LGBT).

Menurut Cak Imin panggilan akrab H Abdul Muhaimin Iskandar, di Jakarta, Ahad, gerakan Nusantara Mengaji merupakan upaya anak bangsa untuk bermunajat meminta pertolongan kepada Allah agar bangsa ini dijauhkan dari segala bala dan cobaan serta diberi kekuatan untuk mampu mengatasi seberat apapun persoalan yang dihadapi Indonesia.

Gerakan Nusantara Mengaji, Targetkan Khatam Quran 300 Ribu Kali (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Nusantara Mengaji, Targetkan Khatam Quran 300 Ribu Kali (Sumber Gambar : Nu Online)


Gerakan Nusantara Mengaji, Targetkan Khatam Quran 300 Ribu Kali

"Gerakan ini pun lepas dari warna-warni bendera partai. Siapa pun Anda, jika ingin menjauhkan bangsa ini dari balahi maka bergabunglah dalam gerakan ini bersama saya dan para hafidz, kiai, santri serta pecinta Al-Quran untuk bersama-sama membaca dan mengkhatamkan 300.000 kali Al-Quran," katanya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan, rakyat Indonesia tak boleh putus asa dan menyerah melihat kondisi bangsa yang semakin karut-marut. Rakyat Indonesia pun tidak boleh berpangku tangan membiarkan sejarah kelam mencoreng bangsa ini.

"Kita harus terus membenahi bersama-sama segala keruwetan, dan masalah Bangsa ini dengan kerja keras, berikhtiar dan berjibaku mengerahkan segala daya upaya yang kita miliki. Lebih dari itu, sebagai anak bangsa, sudah sepatutnya kita bersama-sama mengangkat kedua belah tangan memanjatkan doa dan permohonan kepada Allah SWT untuk keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan seluruh bangsa Indonesia," tuturnya.

Kendati kegiatan Nusantara Mengaji digagas dirinya bukan berarti kegiatan ini menjadi terbatas. Justru ia mengajak seluruh kaum muslimin wal muslimat seantero Nusantara untuk bersama-sama melakukan riyadlah bermunajat kepada Allah dengan cara mengkhatamkan Al-Quran 300.000 kali secara serentak dalam waktu bersamaan sehari-semalam dari mulai Sabang hingga Merauke.

Pondok Darussalam Jatibarang

"Saya mengajak seluruh umat Islam di Indonesia untuk turut serta bergabung dan berpartisipasi membaca dan mengkhatamkan Al-Quran 300.000 kali melalui kegiatan Nusantara Mengaji untuk keselamatan dan keberkahan bangsa Indonesia," katanya.

Kegiatan Nusantara Mengaji yang dilakukan serentak ini berada di bawah naungan Majelis Tahfiz dan Khataman Al-Quran (Matan). (Antara/Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67180/gerakan-nusantara-mengaji-targetkan-khatam-quran-300-ribu-kali-

Pondok Darussalam Jatibarang

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Darussalam Jatibarang dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock