Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juni 2015

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri

Brebes, Pondok Darussalam Jatibarang. Keberadaan Fatayat NU harus mampu membawa diri, jangan sampai di bawa ke sesuatu yang bersifat sementara. Artinya, bersikap netral dalam sikap politik ataupun pengabdian pada masyarakat. Tidak di bawa-bawa ke mana yang disukai oleh pemimpinnya, sehingga akan menjadi organisasi yang bermartabat dengan pelayanan yang prima dan tidak memihak.

Mengelola Fatayat itu, harus dengan sinar keikhlasan dengan mampu mambawa diri, demikian pesan Ketua Pemimpin Wilayah (PW) bidang Pendidikan dan Pengkaderan Fatayat NU Jawa Tengah Hj Mutaalimah saat membuka Konferensi Cabang (Konfercab) Fatayat NU Brebes di Hotel Dedy Jaya Brebes, Ahad (16/12).

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri (Sumber Gambar : Nu Online)


Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri

Tidak berarti, kata Mutaalimah, Fatayat menghindar dari berbagai partai politik tetapi justru harus mampu bekerja sama. Kader-kader Fatayat bertebaran diberbagai partai politik juga menempati posisi pekerjaan diberbagai sektor. Sehingga kerjasama antar lembaga harus terus dibangun sesuai dengan koridor dan tidak melenceng dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.

Pondok Darussalam Jatibarang

Kerja sama itu bukan kenikmatan yang di bagi bersama-sama, tetapi membangun sinergi untuk menggolkan visi dan misi organisasi, terangnya.

Selain itu, lanjutnya, untuk mengelola Fatayat harus dipegang oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dalam berorganisasi. Sebab berorganisasi itu memerlukan sentuhan tangan-tangan trampil yang ikhlas dan rela berkorban.

Pondok Darussalam Jatibarang

Yang lebih utama, Mutaalimah menambahkan, dalam kiprahnya Fatayat harus berpegang teguh membantu NU dalam pengembangan Islam ahlussunah wal jamaah. Dengan tetap menjaga keutuhan NKRI.

Kita harus waspada dengan aliran-aliran Islam di Indonesia yang melenceng dari ajaran ahlussunah wal jamaah dan berupaya memporakporandakan NKRI, tandasnya.

Untuk itu, kuantitas keanggatoaan Fatayat diupayakan dengan peningkatan kualitas keanggotaanya pula. Kami bersyukur, ternyata anggota Fatayat tidak ketinggalan dalam pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu, pungkasnya.

Sejalan dengan itu, Ketua Pengurus Cabang (PC) NU Brebes H Athoillah meminta kepada Fatayat jangan seperti tukang parkir. Artinya, tidak merasa memiliki tetapi hanya merasa dititipi. Sebab kalau hanya merasa dititipi maka pengelolaannyapun tidak maksimal.

Merawat Fatayat itu harus dengan niatan, Fatayat itu hak milik sehingga di rawat dengan temen (sepenuh hati, red), ajak Athoillah.

Termasuk, dengan merawat NU berarti menjalin kemitraan dengan pemerintah di daerahnya. Tidak ada alasan, untuk tidak mendukung pemerintahan di daerah, tegas Athoillah.

Hanya saja, lanjut Atho, Fatayat harus mampu menjaga diri agar tidak terserang penyakit kurap (kurang disiplin), kudis (kurang disiplin) dan kutil (kurang terapkan ilmu). Semua penyakit itu, bersumber dari kuman (kurang iman). Kalau sudah kurang iman, maka akan mudah tergoyahkan keteguhannya mempertahankan islam ahlussunah wal jamaah, kata Athoillah mengingatkan.

Konferensi Cabang dibuka Bupati Brebes Hj Idza Priyanti. Dalam sambutannya mampu memberi kontribusi terhadap pemerintahan. Termasuk didalamnya menangani bidang pendidikan, kesehatan dan perekonomian kerakyatan.

Ketua panitia penyelenggara Amaliyah menerangkan, kegiatan konfercab diikuti oleh 288 dari 16 Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Ranting (PR) se Kabupaten Brebes. PAC Banjarharjo, tidak mengirimkan delegasinya tanpa alasan yang jelas, kata Amaliyah.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41289/fatayat-nu-harus-mampu-membawa-diri

Pondok Darussalam Jatibarang

Selasa, 10 Juni 2014

Minta Maaf, Kemenag Tarik Buku Berisi Ziarah Sebagai Berhala

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Direktur Pendidikan Madrasah Nur Kholis Setiawan mengucapkan terima kasih banyak atas masukan dari masyarakat terkait dengan beredarnya buku Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) berbau SARA, yang menyebutkan menziarahi wali sama dengan berhala dan sekaligus meminta maaf atas keteledoran yang dilakukan.

Kami meminta maaf dengan sepenuh hati atas kekurangcermatan pada proses proof-reading pada halaman tersebut, katanya.

Minta Maaf, Kemenag Tarik Buku Berisi Ziarah Sebagai Berhala (Sumber Gambar : Nu Online)
Minta Maaf, Kemenag Tarik Buku Berisi Ziarah Sebagai Berhala (Sumber Gambar : Nu Online)


Minta Maaf, Kemenag Tarik Buku Berisi Ziarah Sebagai Berhala

Ia menegaskan, dirinya sebagai direktur pendidikan madrasah yang paling bertanggung jawab atas kesalahan tersebut. Saya yang paling bertanggung jawab, tegasnya. Dan ia secara gentleman menyatakan siap jika pimpinan memberi sanksi. Pihaknya tidak pernah sediki pun terbersit untuk menyakiti organisasi masyarakat (ormas) atau umat Islam, atau agama lain di Indonesia.

Saya sangat paham, kalau mengunjungi makam wali dianggap saja dengan menyembah berhala, pasti sangat tersinggung, paparnya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Selanjutnya, Direktorat Pendidikan Madrasah telah menginstruksikan aparatur di daerah untuk menarik kembali Buku Pedoman Guru Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VII Madrasah Tsanawiyah dan akan menggantikan dengan edisi revisi.

Ia menambahkan, diperlukan proses cetak ulang selama tiga hari untuk mengganti halaman 14 dalam buku tersebut sehingga dalam waktu dua minggu buku baru sudah sampai ke tangan para guru. Edisi yang ditarik tersebut berjumlah 15 ribu, sesuai dengan jumlah guru SKI.

Pondok Darussalam Jatibarang

Ia menegaskan bahwa Kemenag merupakan institusi negara sehingga harus bisa memayungi seluruh kelompok keislaman yang ada di Indonesia. Karena itu, dalam buku tersebut diberi pilihan seperti doa qunut ketika shalat subuh bagi yang menjalankan juga ada tuntunannya, demikian pula berbagai ragam bacaan yang berbeda-beda sesuai dengan madzab yang diikuti.

Kita menghindari pembahasan masalah khilafiyah yang bisa menyebabkan disharmoni karena masing-masing juga dasar hukum, paparnya.

Tim Kemenag, katanya, telah bekerja keras melakukan revisi selama berulang kali atas buku tersebut, tapi ternyata masih ada satu halaman yang terlewatkan. Di draft awal buku tersebut, terdapat materi khilafah Islamiyah, tidak ada opsi untuk doa qunut ketika shalat subuh, pembidahan kepada amalan tertentu dan lainnya, dan semuanya sudah dilakukan revisi dengan melibatkan para akademisi yang kompeten.

Masa ada materi khilafah Islamiyah, ini kan kontraproduktif dengan sistem NKRI, katanya memberi contoh.

Sebagai dokumen yang hidup Nur Kholis menyatakan, Kemenag siap menerima masukan yang belum terwadahi dan akan dimasukkan dalam revisi pada tahun berikutnya. (mukafi niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54536/minta-maaf-kemenag-tarik-buku-berisi-ziarah-sebagai-berhala

Pondok Darussalam Jatibarang

Jumat, 16 Agustus 2013

Ketum PMII Minta Maaf kepada Masyarakat Sulteng

Palu, Pondok Darussalam Jatibarang. Polemik pidato Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Aminuddin Maruf pada pembukaan Kongres ke-19 PMII di Kota Palu menyebabkan ketersinggungan Gubernur dan masyarakat Sulawesi Tengah.

Oleh karena itu Amin meminta maaf saat pertemuan yang dimediasi Ikatan Keluarga Alumni PMII (IKAPMII), PB PMII, serta Gubernur Sulawesi Tengah H. Longki L. Djanggola di Rumah Jabatan Gubernur Sulteng (17/5).

Ketum PMII Minta Maaf kepada Masyarakat Sulteng (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PMII Minta Maaf kepada Masyarakat Sulteng (Sumber Gambar : Nu Online)


Ketum PMII Minta Maaf kepada Masyarakat Sulteng

Terkait polemik pidato saya kemarin, tidak ada maksud untuk menyinggung Gubernur Sulawesi Tengah dan masyarakat Sulawesi Tengah secara umum. Dengan itu, saya secara pribadi dan atas nama PB PMII, meminta maaf jika pidato saya kemarin telah menyinggung hati masyarakat Palu dan masyarakat Sulawesi Tengah secara umum, kata Aminuddin pada pertemuan itu.

Gubernur Longki Djonggala, menyatakan penyesalan atas pidato disampaikan Amin. Yang jelas, saya pun juga sangat menyesalkan sikap adinda saya (Aminuddin Maruf) dengan statement itu. Mungkin karena terlalu semangat, sehingga ya keseleo lidah dan akhirnya dapat memberi arti yang lain, ujar Longki.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pondok Darussalam Jatibarang

Gubernur memaklumi pidato Amin yang mungkin terpikir dengan kasus-kasus di Jawa dan terbawa dengan arus isu hangat yang diupayakan pemerintah, semisal persoalan HTI.

Jadi, prinsipnya saya tidak ada masalah dan menerima permintaan maafnya. Hanya saja, tolong kalau boleh, adakan klarifikasi terhadap sambutan itu, seperti yang adinda katakan tidak ada maksud untuk mendiskreditkan baik ulama, umat Islam keseluruhan, dan rakyat Sulawesi Tengah, tambah Longki.

Gubernur juga berharap bahwa kongres XIX PMII dapat berjalan dengan lancar dan akan tetap mendukung perhelatan akbar pergantian kepemimpinan di tubuh PMII hingga selesai.

Saya minta ini secepatnya clear, karena masih ada musyawarah di kongres, dan ini semua dapat berjalan dengan aman, nyaman dan lancar. Juga tidak ada gesekan-gesekan yang memanfaatkan moment ini (kontroversi pidato Aminuddin-red).

Di akhir pertemuan dan mediasi tersebut, Gubernur Sulteng, Ketua Umum PB PMII, Ketua IKAPMII Sulteng dan Sekretaris PW GP Ansor saling mengadakan foto bersama dan bergandengan tangan di hadapan para wartawan yang juga ikut dalam pertemuan itu.

Sebagaimana diketahui, pada kongres dibuka Presiden Joko Widodo Selasa (16/5), Aminudin mengatakan bahwa kongres PMII sengaja dilaksanakan di tanah Tadulako Provinsi Sulteng dengan tema meneguhkan konsensus bernegara untuk Indonesia berkeadaban; di tanah ini, katanya adalah pusat dari gerakan radikalisme Islam, di tanah ini, katanya, adalah pusat dari gerakan menentang NKRI. (Red: Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/78021/ketum-pmii-minta-maaf-kepada-masyarakat-sulteng

Pondok Darussalam Jatibarang

Kamis, 17 Maret 2011

Ini Kata Gus Dur Saat Membela Bib Rizieq yang Ditangkap

Pondok Darussalam Jatibarang - Ada banyak peristiwa yang belakangan baru kita sadari bahwa ketidaksetujuan dan ketidaksukaan kita pada pikiran dan tindakan seseorang atau kelompok tertentu membuat kita tak adil dan jernih melihat persoalan. Kadang-kadang saya juga begitu. Dan guru terbaik saya untuk berusaha bersikap adil dalam pikiran dan perbuatan adalah Gus Dur.

Seperti suara kebanyakan, saya tak setuju pada cara-cara kekerasan dan ujaran kebencian yang dilakukan FPI di bawah kepemimpinan Habib Rizieq. Karena itu, penangkapan Habib Rizieq Shihab oleh Polda Metro Jaya pada 2002 saya sambut gembira. Saya kira juga Gus Dur. Sebelumnya FPI merazia dan merusak Gelanggang Olahraga Kemakmuran Jakarta Pusat.

Tapi apa yang dipikirkan dan disikapi Gus Dur membuat saya belajar untuk tetap adil pada sesuatu yang tak kita setujui dan tak kita sukai. “janganlah kebencian pada suatu kaum membuatmu tak mampu berlaku adil," begitu perintah Al-Quran.

Ini Kata Gus Dur Saat Membela Bib Rizieq yang Ditangkap - Pondok Darussalam Jatibarang
Ini Kata Gus Dur Saat Membela Bib Rizieq yang Ditangkap - Pondok Darussalam Jatibarang


Ini Kata Gus Dur Saat Membela Bib Rizieq yang Ditangkap

Pondok Darussalam Jatibarang

Meski tak setuju dengan sebagian pikiran dan sikap Habib Rizieq, Gus Dur dengan meyakinkan mengatakan bahwa tindakan habib memprotes polisi atas penangkapannya menunjukan ketundukan habib pada NKRI dan UUD 1945. Menurut habib, seperti disampaikan pengacaranya, penangkapan itu cacat hukum. Karena itu ia mengajukan gugatan.

Menurut Gus Dur, habib sebetulnya masih menganggap kepolisian sebagai penyelenggara keamanan dan pemeriksa hukum dalam negeri yang berwenang memeriksa dirinya.

“Dengan demikian, ia menjaga dirinya dari tindakan apapun yang tidak sesuai dengan UUD 1945. Boleh jadi ia melanggar hukum, tetapi justru hukum itulah yang melindunginya dari tindakan apapun oleh negara atas dirinya,” begitu kata Gus Dur seperti ditulis dalam “Kepala Sama Berbulu, Pendapat Berlain-lain” dalam Duta Masyarakat pada 2002.

“Sebagai penduduk biasa, Habib Rizieq memperoleh perlindungan politik dari tindakan apapun, walaupun secara politik pula ia sering mengganggu hak-hak warga negara yang lain, seperti ketika ia memerintahkan sweeping”.

Pondok Darussalam Jatibarang

Enam tahun kemudian, Habib Rizieq menyebut orang yang membela haknya itu dengan sebutan orang “yang buta mata dan buta hati”. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ini-kata-gus-dur-saat-membela-bib-rizieq-yang-ditangkap.html

Senin, 07 Februari 2011

Cerita KH Arwani Amin Kudus Saat Diledek Arwani Edan

KH Arwani Amin adalah sosok kiai Qur'an pengasuh Pesantren Yanbu'ul Qur'an yang sangat dihormati di Kudus dan sekitarnya. Selain terkenal alim, Mbah Arwani juga dikenal memiliki akhlak mulia hingga dikenal sebagai "kiai sahe/ kiai serba mengucap bagus" kepada siapa pun karena keluhuran budi dan prasangka baiknya.

Ceita 1:

Cerita KH Arwani Amin Kudus Saat Diledek Arwani Edan - Pondok Darussalam Jatibarang
Cerita KH Arwani Amin Kudus Saat Diledek Arwani Edan - Pondok Darussalam Jatibarang


Cerita KH Arwani Amin Kudus Saat Diledek Arwani Edan

Suatu saat KH Arwani Amin keliling lokasi pondok didampingi KH. Muhammad Manshur. Secara tidak sengaja, tiba-tiba ada seorang santri yang melempar kulit pisang dari jendela kamarnya. Parahnya kebetulan tepat mengenai pipi Mbah Kiai Arwani. Sontak Kiai manshur yang derekke beliau marah bukan kepalang.

Pondok Darussalam Jatibarang

"Sur, wis awakmu ora usah ngono. Wis ben jarke wae aku yo ora opo-opo, awakmu meneng wae. Ngono wae deknen yo wis wedi neni/ Sur, sudah, kamu jangan begitu. Sudah, biarkan saja aku tidak apa-apa kok, kamu diam saja. Gitu aja dia ketakutan sekali kok," dawuh KH Arwani.

Cerita 2:

Awal mula KH Arwani mengadakan kegiatan thoriqoh di Masjid Kwanaran ada sebagian penduduk sekitar tidak suka. Bahkan saking tidak sukanya, ada seorang yang menulis di dinding tembok, "Arwani Edan". Kiai Manshur yang sering nderekke Mbah Arwani, bergegas hendak menghapusnya, tapi KH Arwani malah melarang.

Kiai Arwani mengatakan, "Sur, ora usah dihapus sik. Jarno wae sik. Deknen ben marem ngerti aku wis moco tulisane/ Sur, jangan dihapus dulu. Biarkan saja dulu. Biar dia puas kalau aku sudah membaca," kata Kiai Arwani ke Kiai Mansur.

Pondok Darussalam Jatibarang

Cerita 3: Seorang sopir menyetel musik. Kiai Mansur yang derekke beliau hendak menegur, mengingatkannya bahwa ada simbah kiai di situ. KH Arwani dawuh "Wis jarno wae, ben ora ngantuk/ Sudah, biarkan saja, biar tidak ngantuk," balas Mbah Arwani.

Ketiga cerita di atas ditulis dari keterangan KH Musthofa Imran SHi, Kepala Madrasan Aliyah (MA) TBS Kudus, diriwayatkan dari KH Muhammad Mansur, putra angkat kesayangan Mbah Arwani yang selalu mendampingi beliau dalam banyak kesempatan. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/cerita-kh-arwani-amin-kudus-saat-diledek-arwani-edan.html

Sabtu, 05 Februari 2011

Lewat MIF, Pemuda NU Ringankan Perekonomian Warga Miskin

Pamekasan, Pondok Darussalam Jatibarang. Madura Idea Foundation (MIF), namanya. Organisasi yang didirikan tokoh pemuda NU Pamekasan Dr Moh Fudholi tersebut, tampak kian getol meringankan beban hidup warga miskin dari kalangan nahdliyin di Pulau Madura.

Di MIF, terdapat jargon untuk mengubah satu situasi mental kemiskinan. Namanya ATAS (Alengleng Tarebhung Abentoh Sataretanan); gerakan yg dilakukan kapanpun untuk membantu sesama.

Lewat MIF, Pemuda NU Ringankan Perekonomian Warga Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat MIF, Pemuda NU Ringankan Perekonomian Warga Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)


Lewat MIF, Pemuda NU Ringankan Perekonomian Warga Miskin

Tapi selama ini, gerakan ATAS lebih populer sebagai gerakan bulanan. Setiap bulan pemuda NU yang tergabung dalam MIF rurun ke bawah untuk menyerahkan bantuan sosial (bansos). Sasarannya ialah semua masyarakat Madura yang berada di bawah garis kemiskinan, mulai dari Kabupaten Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

"Lansia miskin, anak yatim, warga disabilitas untuk saat ini difokuskan perkecamatan tiap bulan. Dana berasal dari sumbangan anggota serta para dermawan. Juga, berasal dari produk dan ekonomi kreatif yang dikembangkan oleh MIF," ujar Dr Moh Fudholi, Selasa (20/12).

Pondok Darussalam Jatibarang

Tujuan gerakan ATAS, terang Fudholi, ialah guna meningkatkan stabilitas sosial, kesejahteraan masyarakat , dan pemerataan ekonomi masayarakat. Dalam pelaksanaannya, MIF mengajak NU untuk menyapa masyarakat melalui gerakan ATAS, karena hampir semua anggota MIF adalah NU dan putra pengurus NU.

Pondok Darussalam Jatibarang

"Kami melibatkan NU karena selain anggota MIF adalah warga nahdliyin, NU adalah satu-satunya organisasi yang strukrunya sampai tingkat kampung (ranting). Sehingga, nanti memudahkan pada MIF untuk mencari data masyarakat miskin," tukas dosen muda tersebut. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73932/lewat-mif-pemuda-nu-ringankan-perekonomian-warga-miskin

Pondok Darussalam Jatibarang

Rabu, 27 Oktober 2010

Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya

Pondok Darussalam Jatibarang - Kisah nyata mahasiswa Indonesia di Australia. Suatu pagi ia menjemput klien, seorang bapak-bapak yang sudah tua yang berprofesi sebagai pengusaha, asal Singapura. Bicaranya bergaya Melayu campur Inggris. Ia menceritakan pengalaman hidupnya kepada mahasiswa tersebut.

Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya - Pondok Darussalam Jatibarang
Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya - Pondok Darussalam Jatibarang


Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya

Pengusaha yang punya bisnis di Kalimantan itu membuka dialog ringan, "your country is so rich/ negaramu sangat kaya." Dalam hati, mahasiswa itu belum tertarik, "ah, biasa banget dengar kalimat itu," batinnya.

Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya - Pondok Darussalam Jatibarang
Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya - Pondok Darussalam Jatibarang


Pengusaha Singapura: Dunia Butuh Indonesia, Bukan Sebaliknya

"Indonesia doesn't need the world, but the world needs Indonesia. Everything can be found here in Indonesia, you don't need the world." (Dunia yang butuh indonesia, bukan sebaliknya). Kalimat lanjutan tersebut membuat sang mahasiswa terperanjat, tertarik mendengarkan. Ia menjelaskan begini:

-- Indonesia paru-paru dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia akan kacau. Singapura is nothing, we can't be rich without Indonesia. 500 ribu orang Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan. Bisa terbayang uang yang masuk ke kami, apartemen-apartemen terbaru kami yang beli adalah orang Indonesia. Tidak peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS kami, isinya hampir Indonesia semua.

Terus, kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap kebakaran hutan Indonesia masuk? Sangat terasa, we are nothing. Kalian tahu kan kalau kemarin, dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras.

Lihatlah negara kalian, air bersih di mana-mana. Lihatlah negara kami, air bersih pun kami impor dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dalam rangka bisnis, karena pasirnya mengandung permata. Terlihat glitter kalau ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp. 3 ribu/kg ke pabrik Cina. Sementara pabrik jual kembali seharga Rp. 30 ribu/kg.

Kalian sadar tidak kalau negara-negara lain selalu takut mengembargo Indonesia? Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian manjadi mandiri, makanya tidak diembargo. Harusnya kalianlah yang mengembargo diri kalian sendiri --

Dialog tersebut membuat sadar mahasiswa tersebut. Ia kemudian menulis pesan "belilah pangan dari petani-petani kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik-pabrik sendiri. Tak perlu impor, kalau bisa produksi sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa mengembargo diri sendiri, Indonesia will rule the wordl. (Indonesia akan mengatur dunia)".

Mari semangat membangun, jangan hanya asal Jokowi pokoknya harus dikritisi PKI, Syiah, Yahudi, Cina, aseng, asong, komunis, anti Islam dan lainnya. Kita sedang berpacu, bukan berperang militer wahai sumbu pendek radikal. Dikit-dikit takbir. Itu penyalahgunaan yang fatal. Dunia membutuhkan Indonesia, bukan sebaliknya. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/pengusaha-singapura-dunia-butuh-indonesia-bukan-indonesia-butuh-dunia.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Darussalam Jatibarang dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock