Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2015

Digenang Banjir Semeter, Pesantren Yatim Ini Butuh Makanan

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Pondok Pesantren Darul Fikri yang dimukimi santri yatim dan dhuafa secara cuma-cuma alias gratis tergenang banjir sejak Sabtu (18/1) sampai saat ini, Rabu (22/01). Kondisi pesantren di Desa Bongas Pentil, Kecamatan Bongas, Indramayu, Jawa Barat, hingga saat ini sangat memprihantinkan.

Banjir yang menggenangi gedung pesantren mencapai lebih dari satu meter. Banjir sampai setinggi dada orang dewasa," kata pengasuh pesantren Darul Fikri saat diwawancarai di Masjid Nurul iman 1 No 1 Tanah Koja Rt/Rw (009/02) Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (22/1).

Digenang Banjir Semeter, Pesantren Yatim Ini Butuh Makanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Digenang Banjir Semeter, Pesantren Yatim Ini Butuh Makanan (Sumber Gambar : Nu Online)


Digenang Banjir Semeter, Pesantren Yatim Ini Butuh Makanan

Menurut Kiai Zuhri, sebanyak 113 santri dan 12 pengurus bertahan di pesantren karena tidak ada tempat pengungsian. Mereka terpaksa bertahan di pondok. Ada yang di mushola dan di asrama lantai dua," tambah KH Zuhri.

Pondok Darussalam Jatibarang

Selama banjir, kata dia, selain tak ada tempat mengungsi, para santri belum dapat bantuan jenis apapun, "Kini mereka kekurangan stok makan dan air bersih," ujar pengasuh pesantren yang juga Kabtib PWNU DKI Jakarta.

Ia mengaku cemas dan prihatin atas kondisi ini. Karena itu, pengasuh berharap simpati dan bantuan. "Sebisanya kami, pihak pengasuh pondok sudah berupaya, namun tidak maksimal sehingga kami sangat mengarapkan bantuan, katanya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Bila ada yang berkenan membantu, harap dia, bisa menghubungi pembina dan pengasuh Pondok KH Zuhri Yaqub di 081314774169 atau Ustad Dumyati Asmudi 085200900400. (Junaidi/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49618/digenang-banjir-semeter-pesantren-yatim-ini-butuh-makanan

Pondok Darussalam Jatibarang

Senin, 20 Agustus 2012

Gus Mus Menyalati Mayit Tionghoa Non Muslim, Ini Ceritanya

Gus Mus. Sumber: Tempo Pondok Darussalam Jatibarang - Suatu hari, seorang warga Tionghoa beragama non muslim sowan ke kediaman KH Musthofa Bisri (Gus Mus), kiai kharismatik asal Rembang Jawa Tengah. Warga Tionghoa non muslim tadi masih tetangga sekaligus sahabat dekatnya Gus Mus.

Cina: Pak Kiai, ayah kami sore ini telah meninggal, nah tadi kami sekeluarga telah sepakat untuk meminta tolong pada pak kiai untuk menshalati jenazah ayah kami.

Gus Mus Menyalati Mayit Tionghoa Non Muslim, Ini Ceritanya - Pondok Darussalam Jatibarang
Gus Mus Menyalati Mayit Tionghoa Non Muslim, Ini Ceritanya - Pondok Darussalam Jatibarang


Gus Mus Menyalati Mayit Tionghoa Non Muslim, Ini Ceritanya

Gus Mus: (tanpa pikir panjang langsung menjawab) Ooo...Yooh, menko tak mrono....! (Ooo....ya, nanti saya datang!)

Lantas Gus Mus memanggil santri santrinya agar segera mendatangi rumah duka dan mendekati jenazah.

Gus Mus: Ayo segera kita sholat!

Pondok Darussalam Jatibarang

Santri: Shalat apa, Kiai? Bukankah menyalati orang non muslim itu haram kiai?

Gus Mus: Shalat Ngasar to yooo! (Shalat Ashar to ya)

Pondok Darussalam Jatibarang

Santri: He he... lha itu mayitnya bagaimana?

Gus Mus: Hallah, junjung pindahno ning mburi kono kan berresss! (Hallah, angkat pindahkan ke belakang sana kan juga bisa)

Santri: Ooo njih kiai!

Selesai Sholat, tuan rumah komplain ke Gus Mus.

Cina: Pak Kiai, biasanya orang menshalati jenazah itu jenazahnya ditaruh di depan. Lha ini kok ditaruh dibelakang?

Gus Mus: Yang ditaruh di depan itu yang sudah ngerti jalan! Lha karena ayahmu belum apal jalan, maka ditaruh belakang!

Cina: He he...Oo gitu tooo..nggeh nggeh kiai. Maturnuwun.

Kisah Gus Mus menyalati mayit Cina non muslim ini diceritakan oleh KH Shorofuddin, santrinya Gus Mus. Jadi, teladan ini adalah cara ala kiai menjaga perasaan tetangga. Walau non muslim, mereka tetap manusia yang harus dihormati. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/gus-mus-menyalati-mayit-tionghoa-non-muslim-ini-ceritanya.html

Minggu, 15 Juli 2012

KH R. Asad Syamsul Arifin Mengawal Negara dari Tapal Kuda

Oleh: Munawir Aziz,

Kiai Raden Asad Syamsul Arifin lahir pada 1897 M/1315 H di Syiib Ali, Makkah dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maemunah. Ketika Asad kecil lahir, oleh ayahnya, bayi mungil itu langsung dipeluk untuk dibawa menuju Kabah. Jarak sejauh 200 meter antara Syiib Ali dan Kabah tidak menjadi halangan untuk membawa bayi ini mendekat ke pusaran suci umat muslim. Raden Ibrahim kemudian membisikkan adzan dan memberi bayi itu nama Asad.

KH R. Asad Syamsul Arifin Mengawal Negara dari Tapal Kuda (Sumber Gambar : Nu Online)
KH R. Asad Syamsul Arifin Mengawal Negara dari Tapal Kuda (Sumber Gambar : Nu Online)


KH R. Asad Syamsul Arifin Mengawal Negara dari Tapal Kuda

Ketika berusia 13 tahun, Asad kecil mondok di Banyuanyar di bawah asuhan Kiai Abdul Majid dan KH. Abdul Hamid. Pada usia 16 tahun, Asad dikirim ayahandanya mengaji ke Makkah, tanah suci di mana ia dilahirkan. Ia belajar di Madrasah Shaulatiyyah. Selain itu, ia juga berguru kepada Sayyid Abbas al-Maliki, Syekh Hasan al-Yamani, Syekh Hasan Masyath, Syekh Bakir dan Syekh Syarif asy-Syinqithi. Ketika belajar di Makkah, Asad bersama kawan-kawannya yang berasal dari Nusantara, di antaranya: KH. Zaini Munim, KH. Ahmad Thoha, KH. Baidhawi Banyuanyar Pameksaan, dan beberapa santri lainnya.

Pada tahun 1924, setelah bertahun-tahun belajar di Makkah, Asad kembali ke kampung halaman. Ia merasa masih belum memiliki keilmuan yang cukup, meski keahlian ilmu agamanya sudah tidak diragukan. Sebagaimana tradisi santri Nusantara, Asad kemudian meneruskan langkahnya untuk melakukan perjalanan ilmiah (rihlah ilmiyyah) sebagai santri petualang ilmu, dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Kiai Asad mengaji tabarukkan di beberapa pesantren di tanah Jawa dan Madura, antara lain: Pesantren Sidogiri Pasuruan (asuhan KH. Nawawi), pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo (asuhan KH. Khazin), Pesantren an-Nuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura, Pesantren Kademangan Bangkalan (KH. Muhammad Cholil) dan Pesantren Tebu Ireng Jombang.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pengalaman mengaji di Makkah dan beberapa pesantren di Jawa-Madura membuat karakter pribadi serta keilmuan Kiai Asad menjadi mendalam. Akan tetapi, Pesantren Tebu Ireng lah yang paling membentuk kepribadian Kiai Asad. Ketika menyebut Kiai Hasyim Asari (1875-1947) dan Pesantren Tebu Ireng, Kiai Asad menunjukkan tadzim yang sangat tinggi. Di bawah asuhan Hadratus Syaikh Hasyim Asyari, Kiai Asad menemukan karakter, wawasan, perspektif hingga semangat perjuangan untuk kemerdekaan. Di Tebu Ireng, Kiai Asad berkawan dengan para santri pejuang, yang kelak menjadi garda depan Nahdlatul Ulama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di antaranya, yakni KH. Wahab Chasbullah (1888-1971), KH. Bisri Syansuri (1886-1980), KH. Abbas Buntet (1879-1946), KH. Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya.

Mediator Pendirian NU

Dalam proses pendirian Nahdlatul Ulama, peran Kiai Asad Syamsul Arifin sangat besar. Hal ini, karena beliaulah yang menjadi mediator antara Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dan Syaichona Chalil Bangkalan. Pada masa menjelang berdirinya NU, Kiai Chalil Bangkalan mengutus Kiai Asad ke Tebu Ireng, untuk menemui Kiai Hasyim Asyari.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pesan Syaichona Chalil kepada Kiai Hasyim Asyari berwujud perlambang-perlambang yang menggambarkan konteks dan filosofi di balik pentingnya kesatuan ulama. Kiai Asad diutus oleh Syaichona Chalil untuk menyampaikan sebuah tasbih dan ucapan surat Thaha (17-23), yang menceritakan mukjizat Nabi Musa dan tongkatnyakepada Kiai Hasyim Asyari. Kemudian, peristiwa ini terulang kembali, ketika Syaichona Chalil mengirim Kiai Asad ke Tebu Ireng, untuk menyampaikan pesan berupa wirid "Ya Jabbar Ya Qahhar". Pesan simbolik berupa tasbih, surah Thaha dan wirid-wirid tersebut, mengandung maksud bahwa Syaichona Chalil merestui pendirian Nahdlatul Ulama dan Hadratus Syaikh Hasyim Asyari menjadi pemimpin spritual ulama Nusantara. Peran penting Kiai Asad, menjadikan beliau sering disebut sebagai mediator berdirinya Nahdlatul Ulama.

Kiai Asad juga mengomando Laskar Sabilillah dan Hizbullah. Sosok Kiai Asad sangat disegani oleh ketiga laskar di kawasan Tapal Kuda, yakni anggota Laskar Sabilillah, Hizbullah dan Pelopor. Kharisma Kiai Asad menjadikan para kiai yang tergabung dalam barisan Laskar Sabilillah mendengarkan seluruh nasihat, wejangan dan komando Kiai Asad. Para santri dan pemuda yang tergabung dalam barisan Laskar Hizbullah juga setia pada strategi dan komando yang diberikan Kiai Asad. Bahkan, para bandit yang bergerak dalam Barisan Laskar Pelopor juga sendika dawuh (tunduk) dengan perintah Kiai Asad. Kombinasi ketiga laskar inilah yang menjadi senjata ampuh untuk melawan penjajah di kawasan Tapal Kuda.

Kiai Asad bersama Kiai Abdus Shomad (sepupunya, pemimpin Seinin dan Keibodan), pada zaman Jepang, pernah mendapat kursus militer di Jember. Teknik dasar militer inilah yang menjadi pondasi strategi Kiai Asad dan beberapa kiai lainnya, dalam menyusun rencana perjuangan militer yang dipadukan dengan kekuatan santri (Hasan, 2003: 82-84).

Berjuang Mengawal Negeri

Sosok Kiai Asad Syamsul Arifin menjadi inspirasi bagi santri masa kini. Beliau memiliki keilmuan, kemampuan dan visi perjuangan yang lengkap. Kiai Asad memiliki kedalaman ilmu agama yang tidak diragukan, mengusai ilmu militer dan bela diri, serta berhasil mengomando para bandit agar membantu perjuangan santri dalam mengawal kemerdekaan Indonesia.

Dalam catatan Syamsul A Hasan (2003), salah satu kecerdikan Kiai Asad adalah kemampuannya dalam mengorganisir bajingan-bajingan, brandal dan jawara yang sebagian besar berasal dari kawasan Tapal Kuda. Para bandit dan jawara dari Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang dan Pasuruan dikumpulkan untuk diajak berjuang melawan penjajah Belanda. Barisan bandit ini, kemudian dihimpun sebagai dengan satu nama: "Pelopor". Barisan Pelopor ini, sering berpakaian serba hitam, mulai dari baju, celana, hingga tutup kepala. Mereka menggunakan senjata celurit, rotan dan keris. Uniknya, para jawara yang berada di barisan Pelopor ini, tunduk dan setia pada komando Kiai Asad Syamsul Arifin.

Kiai Asad memerintahkan para pejuang Pelopor bagian logistik untuk mengirim pejuang yang berada di hutan. Pasukan Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pasukan lain berjuang dengan strategi gerilya. Mereka masuk gunung dan keluar gunung, untuk menyerang pasukan Belanda, lalu mengamankan diri. Mereka menggunakan taktik: "serang dan lari"! Strategi ini dilakukan oleh para santri yang tergabung dalam pelbagai laskar, hingga Negara Republik Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda, pada Desember 1949.

Kiai Asad mengutus beberapa anggota pasukan Pelopor dan Sabilillah untuk mengambil senjata milik pasukan Belanda. Di kawasan Situbondo, tugas ini dikomando oleh Mawie dan Hamid, barisan Sabilillah. Menariknya, mereka merekrut para brandal yang siap berjuang untuk negara Indonesia. Pada malam hari, para brandal dan preman ini, mengambil senjata-senjata milik Belanda di beberapa Pabrik Gula (PG) kawasan Situbondo. Pada masa penjajahan, Pabrik Gula memegang peran vital sebagai lumbung ekonomi Belanda, hingga mendapat akses langsung ke birokrasi pusat. Di PG, para pekerja keamanan diberi fasilitas senjata. Setelah senjata terkumpul, kemudian dibagikan kepada anggota Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pejuang-pejuang lainnya.

Jaringan pejuang di kawasan Bondowoso dan Jember juga melakukan hal yang sama, merebut senjata dari pasukan Belanda. Para anggota Pelopor mengirim senjata ke markas pejuang Kiai Asad, dengan melewati hutan belantara. Strategi ini, agar misi ini tidak diketahui oleh pasukan Belanda. Setelah sampai di Sukorejo, senjata-senjata ini dikumpulkan, disimpan di bawah lumbung padi, dipendam di masjid, atau ditanam di kuburan (Hasan, 2003: 131-134).

Salah satu motivasi dan petuah penting Kiai Asad tentang perjuangan adalah bagaimana niat menjadi utama: "Perang itu harus niat menegakkan agama dan arebbuk negere (merebut negara), jangan hanya arebbuk negere! Kalau hanya arebbuk negere, hanya mengejar dunia, akhiratnya hilang! Niatlah menegakkan agama dan membela negara sehingga kalau kalian mati, akan mati syahid dan masuk surga!" (Rahman, 2015: 138).

Pemikiran, strategi dan teladan yang diwariskan oleh Kiai Asad Syamsul Arifin harus menjadi semangat bagi santri masa kini. Apa yang bisa dipetik dari kisah Kiai Asad? Bahwa santri harus tetap menjaga jalur pengetahuan (sanad) dengan para kiai, mendalami ilmu-ilmu agama yang menjadi benteng kokohnya Islam, merawat Nahdlatul Ulama, serta membela negeri ini kelompok yang ingin merusaknya. Semangat KH. Raden Asad Syamsul Arifin dapat menjadi pedoman bagi santri untuk menjaga negeri, mengawal kesatuan bangsa ini[].

Munawir Aziz adalah periset Islam Nusantara, Wakil Sekretaris LTN PBNU]

Referensi:

Ahmad Sufiatur Rahman. KH. R. Asad Syamsul Arifin, Ksatria Kuda Putih Pejuang Negeri. Solo: Tinta Medina. 2015.

Syamsul A Hasan. Kharisma Kiai Asad di Mata Umat. Yogyakarta: PP Salafiyyah Syafiyyah dan LKIS. 2003.

M. Hasan Basri dan Chairul Anam. KH.R Asad Syamsul Arifin: Riwayat Hidup dan Perjuangannya. Sahabat Ilmu. 1994.

KH. Abdul Aziz Masyhuri. 99 Kiai Kharismatik Indonesia: Riwayat, Perjuangan dan Doa. Yogyakarta: Kutub. 2008.

Dari (Tokoh) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66272/kh-r-asad-syamsul-arifin-mengawal-negara-dari-tapal-kuda

Minggu, 07 Februari 2010

Peringati Harlah, IPNU dan IPPNU Magetan Gelar Barzanjian

Magetan,Pondok Darussalam Jatibarang

Para pengurus IPNU dan IPPNU kabupaten Magetan mengawali syukuran harlah dengan melantunkan sholawat Barzanji. Syukuran sederhana ini dilanjutkan dengan pemotongan nasi tumpeng di kantor PCNU jalan MT Haryono nomor 9 Magetan, Ahad (2/3).

Peringati Harlah, IPNU dan IPPNU Magetan Gelar Barzanjian (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah, IPNU dan IPPNU Magetan Gelar Barzanjian (Sumber Gambar : Nu Online)


Peringati Harlah, IPNU dan IPPNU Magetan Gelar Barzanjian

Tahun ini kami memang tidak mempunyai agenda besar untuk memperingati harlah ke-60 IPNU dan ke-59 IPPNU. Namun, setidaknya tumpengan ini dapat mengingatkan kembali kepada semangat juang para pendahulu, kata Sekretaris PC IPNU Magetan Thoha saat dihubungi Pondok Darussalam Jatibarang, Senin (3/3).

Pembacaan Barzanji dan tumpengan itu, sambung Thoha, merupakan wujud syukur kami atas lahirnya IPNU dan IPPNU.

Pondok Darussalam Jatibarang

Upacara sederhana dengan makan bersama nasi tumpeng menambah semangat dan kekompakan jajaran pengurus pelajar NU. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50570/peringati-harlah-ipnu-dan-ippnu-magetan-gelar-barzanjian

Pondok Darussalam Jatibarang

Pondok Darussalam Jatibarang

Selasa, 15 September 2009

PBNU-Iran Bersinergi Redakan Konflik Timteng

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pemerintah Republik Islam Iran sepakat menjalin kerjasama untuk meredakan konflik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Syiah-Sunni. Keduanya bertekat akan memperkecil jurang pemisah antara Sunni dan Syiah dalam ikatan ukhuwwah Islamiah (persaudaraan umat Islam).

Demikian disampaikan Hasyim di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (6/3). Kesepakatan kerjasama itu merupakan buah pertemuan antara Ketua Hasyim dengan Ketua Mahkamah Agung Iran Syeikh Ayatulah Syahroudi di Teheran, Iran, Sabtu (3/3) lalu.

Hasyim sengaja berkunjung ke negara berpenduduk penganut Syiah terbesar di dunia itu dalam rangka mencari solusi konflik di Timur Tengah.

PBNU-Iran Bersinergi Redakan Konflik Timteng (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU-Iran Bersinergi Redakan Konflik Timteng (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU-Iran Bersinergi Redakan Konflik Timteng

Hasyim yang juga Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu menyampaikan ide dan gagasan serta dukungan pemerintah Indonesia terhadap program nuklir Iran untuk kepentingan damai. Saya sampaikan, bahwa NU, Parlemen dan Pemerintah Indonesia mendukung hak Iran untuk menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai, tuturnya.

Soal konflik Irak, sebagai pemimpin organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Hasyim meminta kesediaan Iran untuk menggunakan pengaruhnya yang kuat untuk meredakan kekerasan yang terus memanas itu. Permintaan itu, katanya, ditanggapi positif Ayatullah Shahroudi. Itu (permintaan, Red) disambut baik oleh Ayatulah Shahroudi, jelasnya.

Untuk menindaklanjuti kesepakatan kerjasama itu, lanjut Hasyim, Ayatullah Syahroudi merencanakan kunjungan ke Indonesia pada 8 Maret mendatang. Ia akan melakukan pertemuan dengan para ulama dan tokoh NU untuk menyerap ide dan gagasan NU terkait konflik Timur Tengah. Upaya tersebut diyakini akan sangat membantu penyelesaian konflik antarsekte di kalangan Islam.

Selain itu, NU melalui Pemerintah RI akan melakukan kerjasama ekonomi keumatan, kata Hasyim yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang, Jawa Timur itu.

Pondok Darussalam Jatibarang

Setelah bertemu Ayatullah Shahroudi, Hasyim melakukan pertemuan dengan Ayatullah Ali Tashkhiri, Rektor Universitas Pendekatan Mazhab (Taqribu Mazahib) yang juga penasehat Presiden Iran, serta Ketua Parlemen Iran Gholam Ali Hadad Adel. Dalam pertemuan itu, kedua tokoh sependapat bahwa krisis dan kekerasan di Irak merupakan akumulasi dari banyak faktor yang sangat kompleks.

Faktor-faktor kekerasan di Irak itu, antara lain, agresi Amerika Serikat yang sejak awal ingin menghancurkan kekuasaan Saddam Hussein dan budaya serta kekuatan Irak, sisa-sisa kekuatan lama Saddam Hussein, balas dendam dari kelompok yang selama ini ditekan, kelompok kriminal yang melakukan bisnis bencana dan operasi intelijen negara asing yang menyalakan pertikaian.

Pondok Darussalam Jatibarang

Itu diperparah dengan kemampuan pemerintah boneka yang tidak memadai dan ada kecenderungan berpihak kemiskinan luar biasa yang melahirkan kekerasan, kata Presiden World Conference on Religiom for Peace itu.

Selanjutnya, kata Hasyim, masalah keruwetan itu sengaja dikamuflasekan sebagai pertentangan antara Sunni dan Syiah oleh para agresor untuk menutupi kejahatan mereka. Sesungguhnya itu semua dilakukannya karena para agressor ingin menang secara gratis, jelasnya.

Pertemukan Syiah-Sunni

Lebih lanjut, Hasyim menyatakan, kunjungannya ke Iran tersebut merupakan upaya untuk mempertemukan tokoh-tokoh Islam dunia dalam konferensi ulama-ulama besar terbatas Timur Tengah dan Asia Tenggara di Jakarta dalam waktu dekat. Hasyim sebagai penggagas dalam konferensi itu, sementara pemerintah Indonesia sebagai penyelenggaranya.

Para tokoh tertinggi Syiah dan Sunni, terutama yang berasal dari Irak dipastikan akan hadir dalam konferensi tersebut. Konferensi itu sangat strategis untuk mengetahui siapa sesungguhnya yang bermain di Irak sehingga kekerasan demi kekerasan terus terjadi. Jadi, nanti akan dapat diketehui siapa yang bermain setelah sarung tangan pengacau diambil, pungkasnya.

Sebelum ke Iran, Hasyim mengadakan pertemuan dengan Ketua Rabithah Alam Islami Syeikh Abdurrahman Al Ilfani di Konsulat Jenderal RI Jeddah. Dalam pertemuan tersebut, ketua tokoh juga berbicara soal konflik Palestina, Libanon dan Irak. Syeikh Abdurrahman Al Ilfani menyatakan kesediaannya untuk datang ke Indonesia untuk memenuhi undangan Indonesia dalam konferensi ulama-ulama besar terbatas Timur Tengah dan Asia Tenggara di Jakarta. (rif)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/8345/pbnu-iran-bersinergi-redakan-konflik-timteng

Selasa, 31 Maret 2009

Hasyim Diminta Jelaskan Moderasi Islam di Swiss

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Gagasan moderasi Islam yang diusung Nahdlatul Ulama (NU) tampaknya semakin diminati dunia Barat. Oleh karenanya, Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi dalam waktu dekat akan diminta oleh pemerintah Swiss untuk menjelaskan gagasan tersebut.

Saya akan dibikinkan forum di sana (Swiss: Red) untuk menjelaskan moderasi Islam, ungkap Hasyim usai bertemu dengan Duta Besar Swiss untuk Indonesia Bernardino Regazzoni di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (9/1). Turut dalam pertemuan tersebut Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Iqbal Sullam.

Kunjungan Dubes Swiss ke PBNU, menurut Hasyim, secara sengaja memang untuk meminta penjelasan terkait maraknya berbagai macam paham, gerakan dan kelompok Islam radikal, termasuk di Indonesia.

Dijelaskan Hasyim, pada dasarnya tidak ada radikalisme di dalam Islam. Jika memang ada kelompok Islam radikal di Indonesia, hal itu jumlahnya sangat kecil meski dikaui gaungnya cukup besar. Hal itu terjadi karena semata ekspos media massa yang berlebihan.

Hasyim Diminta Jelaskan Moderasi Islam di Swiss (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Diminta Jelaskan Moderasi Islam di Swiss (Sumber Gambar : Nu Online)


Hasyim Diminta Jelaskan Moderasi Islam di Swiss

Menurut Hasyim, gerakan maupun paham Islam radikal tidak memiliki akar sejarah di Indonesia. Hal itu muncul belakangan terutama setelah reformasi. Radikalisme Islam bukan asli Indonesia, itu ada setelah reformasi. Itu tempelan dari luar saja, terangnya.

Ada beberapa hal yang menjadi sebab munculnya gerakan Islam garis keras itu. Sejak reformasi, Undang-undang keamanan di Indonesia diperlonggar. Contoh, harus ada bukti dulu kalau menangkap seseorang. Jadi, ibaratnya kalau ada bom, bomnya harus meledak dulu kalau mau nangkap siapa pelakunya, ungkapnya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Sebab lain, lanjut Hasyim, adalah kembalinya orang-orang yang selama rejim Orde Baru ditekan oleh pemerintah waktu itu. Orang-orang tersebutlah, katanya, yang membawa gagasan radikalisme itu dari luar. Balik ke Indonesia membawa paham-paham radikalisme itu, tandasnya.

Oleh karena itu, ditegaskan Hasyim, pada dasarnya radikalisme tersebut tidak hanya terjadi pada Islam, melainkan juga pada agama lain. Radikalisme juga ada di Kristen, Katolik, Budha, termasuk juga radikalisme yang berhaluan komunis, ujarnya. (rif)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/5805/hasyim-diminta-jelaskan-moderasi-islam-di-swiss

Pondok Darussalam Jatibarang

Pondok Darussalam Jatibarang

Kamis, 06 Desember 2007

Kelas Desain Grafis Diminati Pelajar IPPNU Banyuwangi

Banyuwangi, Pondok Darussalam Jatibarang. Sejumlah kader Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Banyuwangi mengikuti kelas desain grafis di basecamp Genteng, Ahad (8/1). Kelas pelatihan ini dihadiri oleh 13 peserta yang terdiri dari pengurus cabang dan beberapa pengurus anak cabang IPPNU Banyuwangi.

Menurut Ketua Panitia, Fitriyah, kelas desain grafis ini akan dilaksanakan 3 kali pertemuan agar peserta mampu mengenal dasar-dasar desain grafis dan dapat mempraktikkan setelah mengikuti kelas tersebut. Jumlah peserta yang mengikuti kelas desan grafis ini dibatasi agar pelatihan dapat berjalan secara efektif.

Kelas Desain Grafis Diminati Pelajar IPPNU Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kelas Desain Grafis Diminati Pelajar IPPNU Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)


Kelas Desain Grafis Diminati Pelajar IPPNU Banyuwangi

Pertemuan pertama yang dibimbing oleh pemateri Fahmi Nuris Syafaat. Peserta diajarkan menginstal salah satu aplikasi desain grafis corel draw dan pengenalan sejumlah komponen di dalamnya. Selanjutnya, materi pengoperasian corel draw dan membuat desain akan diajarkan pada pertemuan selanjutnya, 15 Januari 2017.

Pondok Darussalam Jatibarang

Salah satu program yang dicetuskan oleh IPPNU Banyuwangi ini mendapatkan apresiasi besar dari kader-kader IPPNU di Banyuwangi. Pasalnya, penguasaan terhadap teknologi informasi dan komunikasi memang sangat dibutuhkan oleh pemuda khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama.

Kelas pelatihan desain grafis ini menjadi salah satu program unggulan. IPPNU Banyuwangi membutuhkan banyak desainer visual grafis guna mewujudkan beberapa program lainnya seperti halnya pembuatan poster lomba, membuat meme yang bernilai syiar dan edukasi.

Pondok Darussalam Jatibarang

Saya bangga ber-IPPNU. Di IPPNU bukan hanya kita diajak berorganisasi, tapi kita di sini belajar dan mengasah potensi diri. Salah satunya dengan adanya kelas desain ini semoga bisa menarik perhatian kader-kader untuk aktif di IPPNU, ujar Vina Zuhria, salah satu peserta kelas desain grafis. (Aidy Firda/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74501/kelas-desain-grafis-diminati-pelajar-ippnu-banyuwangi

Pondok Darussalam Jatibarang

Jumat, 25 Agustus 2006

Shalawat Manggala Nusa, Kala Silat Berpadu dengan Shalawat

Klaten, Pondok Darussalam Jatibarang. Lantunan shalawat terdengar merdu, menambah syahdu suasana pagi di lapangan Desa Gunung Gajah, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Ahad (10/4). Berbagai syair maddah dan shalawat, pujian kepada sang rasul, dibaca oleh sang pelantun diiringi rebana, layaknya acara sholawatan pada umumnya.

Yang unik dan berbeda, lantunan shalawat tersebut dipadukan dengan gerakan koreografi pencak silat. Alhasil, terciptalah sebuah seni pencak silat berpadu mesra dengan shalawat bernama: Shalawat Manggala Nusa.

Shalawat Manggala Nusa, Kala Silat Berpadu dengan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Manggala Nusa, Kala Silat Berpadu dengan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)


Shalawat Manggala Nusa, Kala Silat Berpadu dengan Shalawat

Menurut salah satu pengurus Majelis Pendekar Pagar Nusa Klaten, Iman Widodo, acara sholawat dengan sajian beragam pertunjukan silat ini adalah pertama kali di Klaten. Umumnya majelis sholawat yang ada, diiringi zapin atau tarian sufi, kini kami mencoba kombinasikan dengan diiringi tarian rampak pencak Pagar Nusa, kata Iman, di sela acara.

Melalui kreativitas ini pula, para pendekar Pagar Nusa hendak mengemas pencak silat menjadi sebuah pertunjukan yang apik serta dekat dengan tradisi masyarakat setempat.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pondok Darussalam Jatibarang

Ditambahkan Iman, kegiatan bertajuk Gebyar Pencak Sholawat ini diselenggarakan bersamaan dengan peresmian Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Ranting di Gunung Gajah, Bayat.

Sementara itu, salah satu perwakilan IPSI Klaten, Tonang, dalam sambutannya beliau ikut mendukung kiprah Pagar Nusa di desa Gunung Gajah maupun di tempat yang lain. Dengan sekuat kemampuan kami akan selalu membantu dan mendukung pergerakan Pagar Nusa di Klaten, terang sekretaris IPSI Klaten itu.

Acara yang diikuti ratusan pesilat dari berbagai daaerah tersebut, berlangsung mulai dari pukul 08.00 WIB sampai menjelang dzuhur. Penutupan ditandai dengan gerakan kolosal yang dilakukan oleh semua pesilat Pagar Nusa yang hadir dalam kesempatan itu. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67233/shalawat-manggala-nusa-kala-silat-berpadu-dengan-shalawat

Pondok Darussalam Jatibarang

Selasa, 06 Juni 2006

Muslimat NU Anggap Pemerintah Plin-plan Terhadap Iran

Surabaya, Pondok Darussalam Jatibarang. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menilai, pemerintah bersikap plin-plan atau inkonsistensi dalam masalah dukungan atas resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) 1747 terhadap Iran.

"Kami prihatin, karena pemerintah plin-plan dengan memberikan dukungan kepada PBB untuk memberikan sanksi ekonomi terhadap Iran yang dianggap mengembangkan uranium," ujarnya saat berbicara pada pembukaan Hari Lahir (Harlah) ke-61 Muslimat NU di Surabaya, Jumat (6/4).

Ia menjelaskan, sikap plin-plan Indonesia itu sangat berbahaya, karena akan menurunkan kepercayaan negara lain terhadap Indonesia.

Muslimat NU Anggap Pemerintah Plin-plan Terhadap Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Anggap Pemerintah Plin-plan Terhadap Iran (Sumber Gambar : Nu Online)


Muslimat NU Anggap Pemerintah Plin-plan Terhadap Iran

"Pemerintah dapat dikatakan plin-plan atau inkonsistensi, karena saat Presiden Iran dan Ketua MA Iran datang ke Indonesia dengan menemui presiden dan sejumlah pemimpin informal untuk menjelaskan program nuklir di Iran guna tujuan damai justru mendapatkan dukungan dari pemerintah," ujarnya menegaskan.

Namun, anggota Fraksi Kebangsaan Bangsa (FKB) DPR RI itu, hanya dalam kurun satu hungga dua bulan justru muncul dukungan Indonesia terhadap Resolusi 1747 dari DK-PBB untuk memberikan sanksi kepada Iran atas pengembangan nuklirnya.

Khofifah mengatakan, pandangan Muslimat NU terhadap Iran itu sudah menjadi kesepakatan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Muslimat NU se-Indonesia pada Maret 2007.

"Dalam Rapimnas Muslimat NU se-Indonesia itu, kami menyikapi masalah nuklir Iran dan resolusi DK-PBB, desakan pengesahan RUU APP, dan desakan perlunya badan khusus dalam menangani luapan lumpur di kawasan eksplorasi Lapindo," katanya menambahkan. (ant/sbh)

Pondok Darussalam Jatibarang

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/8657/muslimat-nu-anggap-pemerintah-plin-plan-terhadap-iran

Pondok Darussalam Jatibarang

Pondok Darussalam Jatibarang

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Darussalam Jatibarang dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock