Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 September 2013

Harlah Ke-91 NU di Mata Khofifah

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa mendaraskan renungannya dalam memperingati momen Hari Lahir (Harlah) ke-91 Nahdlatul Ulama (NU), Selasa (31/1). Ia mengingatkan sejumlah pesan kiai dan gurunya yang selama ini dijadikan pijakan dirinya sebagai Nahdliyin.

Sahabat, hari ini 91 tahun NU. Ini sebagian renungan saya. Saya terlahir dari rahim NU. Saya tumbuh kembang dan dibesarkan dalam tradisi dan pemikiran NU, ujar Khofifah mengawali kalimat renungannya.

Harlah Ke-91 NU di Mata Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-91 NU di Mata Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)


Harlah Ke-91 NU di Mata Khofifah

Menteri Sosial RI ini mengungkapkan, dirinya berikhtiar untuk berjuang dan melayani masyarakat dan membangun bangsa ini melalui metode dan pemahaman keagamaan dan kebangsaan yang diajarkan guru-gurunya yang sebagian besar adalah tokoh NU yang juga tokoh bangsa seperti Gus Dur.

Saya diajarkan oleh Kiai Muchith Muzadi untuk menempatkan NU seperti mobil plat hitam. Bukan mobil plat kuning yang bisa disewa siapa saja dan bisa ditumpangi serta berhenti dimana saja, tutur perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun lalu ini.

Pondok Darussalam Jatibarang

Bukan juga mobil plat merah, kata Khofifah, amanah para gurunya ia sering posting di sejumlah kanal media sosial sejak dirinya memakai smartphone sampai saat ini. Sebagai pengingat saya dalam melayari kehidupan, ungkapnya.

Menurutnya, Hari ini NU berkembang pesat. Kader NU sukses di area akademik, NU telah memiliki banyak perguruan tinggi atas nama NU. Saat ini NU juga memiliki banyak rumah sakit, dan kader NU banyak yang sukses di medan politik.

Pondok Darussalam Jatibarang

Yang lebih spektakuler bagi bangsa Indonesia, imbuh Khofifah, NU telah mendidik anak bangsa dengan sikap moderasi, toleran, dan keseimbangan terutama melalui pendidikan di berbagai pesantren yang sebagian di antaranya sudah berusia lebih satu abad.

Di bidang ekonomi agaknya NU masih harus terus bekerja keras. Saya bangga dan bersyukur terlahir dan tumbuh kembang di jamiyah NU. Semoga berkah dan maslahah, tandas Khofifah. (Red: Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75044/harlah-ke-91-nu-di-mata-khofifah

Pondok Darussalam Jatibarang

Sabtu, 04 Mei 2013

Dari Sayap Jibril, Nabi Idris Paham Ilmu Kesehatan

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, ilmu kesehatan pertama kali turun di muka bumi dibawa malaikat Jibril. Ilmu tersebut terletak pada sayap malaikat penyampai wahyu tersebut. Orang yang pertama mampu membaca dan memahaminya adalah Nabi Idris.

Jadi orang yang pertama kali mengerti kesehatan adalah Nabi Idris, katanya saat pidato sambutan Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Pusat Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (ARSINU) periode 2016-2021 di lantai 8 gedung PBNU, Jakarta Selasa (6/12).

Dari Sayap Jibril, Nabi Idris Paham Ilmu Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Sayap Jibril, Nabi Idris Paham Ilmu Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)


Dari Sayap Jibril, Nabi Idris Paham Ilmu Kesehatan

Pada kesempatan tersebut, kiai asal Kempek, Cirebon ini juga menyebutkan nama-nama dokter muslim pada masa awal. Pertama Abu Bakar Ar-Razi. Kemudian Hassan ibnul Haitham yang menemukan optik, kesehatan mata.

Lalu, tambahnya, Ibnu Nafis tentang peredaran darah dalam tubuh manusia, dan keempat yang merupakan puncaknya kedokteran yaitu Al-Husain Ibnu Sina.

Pondok Darussalam Jatibarang

Lebih lanjut, kang Said mengapresiasi atas terbentuknya ARSINU, dan berharap mendatangkan manfaat.

Pondok Darussalam Jatibarang

Saya bangga telah berdiri Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama. Saya yakin insyaallah pasti maju, tegasnya. Mudah-mudahan generasi mendatang bisa menikmati keberadaan ARSINU, pungkasnya

Hadir pada acara tersebut Ketua PBNU dr. H. Syahrizal Syarif, Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) H. Hisyam Said Budairi. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Muhammad Faqih. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73541/dari-sayap-jibril-nabi-idris-paham-ilmu-kesehatan-

Pondok Darussalam Jatibarang

Jumat, 15 Maret 2013

Satu Suro, Ada Tradisi Kirap Tumpeng dan Hasil Bumi di Jepara

Jepara, Pondok Darussalam Jatibarang. Dalam rangka menyambut tahun baru 1437 hijriyah, berbagai kegiatan digelar di Jepara, Jawa Tengah. Salah satunya adalah doa bersama dan kirab tumpeng dan gunungan hasil bumi dengan iringan musik tradisional.

Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) setempat dengan Karang Taruna Jaka Tarub Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Satu Suro, Ada Tradisi Kirap Tumpeng dan Hasil Bumi di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Satu Suro, Ada Tradisi Kirap Tumpeng dan Hasil Bumi di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)


Satu Suro, Ada Tradisi Kirap Tumpeng dan Hasil Bumi di Jepara

Acara yang berlangsung dari siang hingga malam hari ini dilaksanakan di kompleks Sendang Bidadari Daren, Nalumsari Jepara, Selasa siang (13/10). Hadir dalam kesempatan itu para sesepuh desa setempat, ulama, kepala desa, BPD, dan ratusan masyarakat Jepara, Kudus dan sekitarnya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Umi Lathifah selaku panitia mengatakan, kegiatan doa bersama dan kirab tumpeng gunungan hasil bumi ini merupakan kegiatan yang sudah turun menurun sejak puluhan tahun silam. Acara ini rutin dilaksanakan untuk mendekatkan masyarakat dengan tradisi lokal mereka.

"Agar masyarakat lebih sadar akan tradisi dan juga semakin mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa taala," kata mahasiswi Universitas Muria Kudus ini.

Acara doa bersama dan kirab tumpeng gunungan hasil bumi ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan IPNU-IPPNU dan Karang Taruna Jaka Tarub Desa Daren untuk membuka dimulainya tradisi satu syuro Sendang Bidadari desa setempat. Ratusan warga dari berbagai daerah Jepara, Kudus dan sekitarnya berbondong-bondong datang untuk mengharap berkah dari Allah melalui air Sendang Bidadari untuk kesehatan dan sebagainya. (Yusrul Wafa/Mahbib)

Pondok Darussalam Jatibarang

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62796/satu-suro-ada-tradisi-kirap-tumpeng-dan-hasil-bumi-di-jepara

Pondok Darussalam Jatibarang

Kamis, 03 Januari 2013

Gerakan 1000 Rupiah, Muslimat Jombang Himpun Dana hingga 300 Juta

Jombang, Pondok Darussalam Jatibarang. Kerja sama antara PC Muslimat NU Jombang dan Bank Jatim pada gerakan seribu rupiah telah berjalan satu semester. Dan alhamdulillah selama kurun waktu tersebut telah terkumpul uang sebanyak Rp311.112.616.

"Kami berharap gerakan seribu rupiah ini benar-benar bermanfaat bagi umat," kata Ny Hj Mundjidah Wahab, Rabu (14/9). Ketua PC Muslimat NU Jombang ini secara khusus menyelenggarakan rapat koordinasi dengan pengurus harian untuk membahas tindaklanjut kegiatan tersebut di kantor setempat, Jalan Juanda. Apalagi sebentar lagi akan memasuki bulan Muharram.

Gerakan 1000 Rupiah, Muslimat Jombang Himpun Dana hingga 300 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan 1000 Rupiah, Muslimat Jombang Himpun Dana hingga 300 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)


Gerakan 1000 Rupiah, Muslimat Jombang Himpun Dana hingga 300 Juta

"Dana yang sudah ada dapat digunakan untuk kegiatan Muharraman berupa pengobatan gratis, pemberian santunan kepada fakir miskin, manula serta kunjungan ke penjara anak dan perempuan," pesan Ibu Mundjidah, sapaan akrabnya. Seluruh kegiatan tersebut sebisa mungkin melibatkan kepengurusan yang ada, lanjutnya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Seperti diketahui, gerakan seribu rupiah yang digagas PC Muslimat NU Jombang sudah berjalan 6 bulan sejak digulirkan Maret hingga Agustus lalu. Dan sesuai kesepakatan, seluruh kepengurusan PAC dan Ranting Muslimat NU di Jombang akan mendapatkan prosentase dari gerakan tersebut. Lebih detil, PP Muslimat NU memperoleh 5 persen, disusul kepengurusan secara berjenjang PW (10 persen), PC (15 persen), PAC (20 persen), Ranting (20 persen) dan tertinggi sebanyak 30 persen adalah dimiliki kepengurusan Anak Ranting

Pondok Darussalam Jatibarang

Menurut Ibu Chumaiyyah Noor, uang masuk dari bulan Maret hingga Agustus sebanyak Rp311.112.616 dan pada September ini akan ditransferkan ke seluruh PAC dan Ranting sesuai prosentase yang disepakati bersama. "Jadi seluruh proses dan sistem pengambilan uang lewat bank, saya tidak pernah pegang uang sepeserpun karena sistemnya seperti itu," kata Bendahara PC Muslimat NU Jombang ini.

Selanjutnya PC Muslimat NU Jombang akan memberi reward atau penghargaan kepada PAC yang anggotanya paling banyak. "Untuk tahap pertama ini, PAC Mojowarno memperoleh dana sebesar Rp. 34.475.000, kemudian Diwek sebanyak Rp23.651.000,- dan Jombang Kota Rp22.421.000" rincinya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71228/gerakan-1000-rupiah-muslimat-jombang-himpun-dana-hingga-300-juta

Minggu, 11 November 2012

Kunci Ngaji Al-Quran Menurut Kyai Arwani

Pondok Darussalam Jatibarang - KH Arwani Amin Kudus Rahimahullah pernah memberikan wejangan kepada santri-santrinya. Berikut pesan KH. Arwani Amin:

Kunci Ngaji Al-Quran Menurut Kyai Arwani - Pondok Darussalam Jatibarang
Kunci Ngaji Al-Quran Menurut Kyai Arwani - Pondok Darussalam Jatibarang


Kunci Ngaji Al-Quran Menurut Kyai Arwani

Kuncine Ngaji Al Qur'an iku ono telu: 1. Ojo nyawang sopo gurune (Jangan melihat siapa gurunya)

Kunci Ngaji Al-Quran Menurut Kyai Arwani - Pondok Darussalam Jatibarang
Kunci Ngaji Al-Quran Menurut Kyai Arwani - Pondok Darussalam Jatibarang


Kunci Ngaji Al-Quran Menurut Kyai Arwani

2. Ora usah isin karo umur (Jangan malu karena umur)

3. Suwe waktune (lama waktu tempuhnya)

------------------ Ora gelem ngaji Al Qur'an mergo pangkat/kedudukan gurune luwih rendah? Gusti Kanjeng Nabi Muhammad Saw iku muride malaikat Jibril As ing babakan Wacan Al Qur'an. Beliau ora isin ngaji Al Qur'an (musyafahah) marang Malaikat Jibril senajan secara pangkat derajat/kedudukan malaikat Jibril as iku luwih rendah.

Artinya: Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji al Qur'an karena kedudukan guru lebih rendah. Nabi Muhammad saw saja tidak malu mengaji alquran kepada malaikat jibril walaupun derajat Rasululloh jauh diatas malaikat Jibril. KH Arwani Amin Kudus (Sarung putih) diapit oleh KH. Rofiq Hadziq alm (kanan)

dan KH. Ahmad Manshur alam (kiri). Dok. Madrasah TBS Kudus

Males ngaji Al Qur'an mergo umur wis Tua? Gusti kanjeng Nabi Muhammad Saw iku mulai ngaji Al Qur'an marang malaikat Jibril as umur 40 tahun.

Artinya: Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji Al Qur'an karena umur sudah tua. Nabi Muhammad saja mulai belajar al Qur'an kepada malaikatJibril pada umur 40 tahun.

Isin ngaji Al Qur'an mergo suwe waktune? Kanjeng Nabi Saw ora pernah ngrasa isin (minder) ngaji Al Qur'an marang malaikat Jibril as awit beliau Saw umur 40 tahun tekane 63 tahun (wafat).

Artinya: Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji al Qur'an karena waktunya lama. Nabi Muhammad saja menerima wahyu al Qur'an 23 tahun lamanya. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/kunci-ngaji-al-qur-menurut-kyai-arwani.html

Senin, 20 Agustus 2012

Gus Mus Menyalati Mayit Tionghoa Non Muslim, Ini Ceritanya

Gus Mus. Sumber: Tempo Pondok Darussalam Jatibarang - Suatu hari, seorang warga Tionghoa beragama non muslim sowan ke kediaman KH Musthofa Bisri (Gus Mus), kiai kharismatik asal Rembang Jawa Tengah. Warga Tionghoa non muslim tadi masih tetangga sekaligus sahabat dekatnya Gus Mus.

Cina: Pak Kiai, ayah kami sore ini telah meninggal, nah tadi kami sekeluarga telah sepakat untuk meminta tolong pada pak kiai untuk menshalati jenazah ayah kami.

Gus Mus Menyalati Mayit Tionghoa Non Muslim, Ini Ceritanya - Pondok Darussalam Jatibarang
Gus Mus Menyalati Mayit Tionghoa Non Muslim, Ini Ceritanya - Pondok Darussalam Jatibarang


Gus Mus Menyalati Mayit Tionghoa Non Muslim, Ini Ceritanya

Gus Mus: (tanpa pikir panjang langsung menjawab) Ooo...Yooh, menko tak mrono....! (Ooo....ya, nanti saya datang!)

Lantas Gus Mus memanggil santri santrinya agar segera mendatangi rumah duka dan mendekati jenazah.

Gus Mus: Ayo segera kita sholat!

Pondok Darussalam Jatibarang

Santri: Shalat apa, Kiai? Bukankah menyalati orang non muslim itu haram kiai?

Gus Mus: Shalat Ngasar to yooo! (Shalat Ashar to ya)

Pondok Darussalam Jatibarang

Santri: He he... lha itu mayitnya bagaimana?

Gus Mus: Hallah, junjung pindahno ning mburi kono kan berresss! (Hallah, angkat pindahkan ke belakang sana kan juga bisa)

Santri: Ooo njih kiai!

Selesai Sholat, tuan rumah komplain ke Gus Mus.

Cina: Pak Kiai, biasanya orang menshalati jenazah itu jenazahnya ditaruh di depan. Lha ini kok ditaruh dibelakang?

Gus Mus: Yang ditaruh di depan itu yang sudah ngerti jalan! Lha karena ayahmu belum apal jalan, maka ditaruh belakang!

Cina: He he...Oo gitu tooo..nggeh nggeh kiai. Maturnuwun.

Kisah Gus Mus menyalati mayit Cina non muslim ini diceritakan oleh KH Shorofuddin, santrinya Gus Mus. Jadi, teladan ini adalah cara ala kiai menjaga perasaan tetangga. Walau non muslim, mereka tetap manusia yang harus dihormati. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/gus-mus-menyalati-mayit-tionghoa-non-muslim-ini-ceritanya.html

Rabu, 11 April 2012

Kiai NU Dihujat Itu Biasa, Hanya Sejarah yang Terulang Saja

Pondok Darussalam Jatibarang - Para pemuda NU, mari tetap rapatkan barisan, ikutilah dawuh-dawuh para kiai sepuh kita. Janganlah jalan sendiri-sendiri, apalagi memisah diri dan merendahkan diri dengan menghina para ulama NU. Itu sama akibatnya dengan pepatah Arab yang artinya, "kambing yang terpisah dari kelompoknya, ia akan mudah dicaplok serigala".

Di tahun 1952, NU yang dipimpin KH. Wahab Hasbullah menyatakan keluar dari Masyumi karena kecewa dengan politisi-politisi Masyumi yang telah merendahkan ulama-ulama pesantren, yang menurut mereka tidak mengerti apa-apa tentang politik.

Kiai NU Dihujat Itu Biasa, Hanya Sejarah yang Terulang Saja - Pondok Darussalam Jatibarang
Kiai NU Dihujat Itu Biasa, Hanya Sejarah yang Terulang Saja - Pondok Darussalam Jatibarang


Kiai NU Dihujat Itu Biasa, Hanya Sejarah yang Terulang Saja

Selain itu, kekecewaan NU karena posisi menteri agama yang sejak awal milik NU, diberikan kepada Muhammadiyah. Sementara suara terbesar Masyumi berasal dari warga nahdliyin. Akibat keputusan itu, tak pelak NU dituduh sebagai pemecah belah umat dan Mbah Wahab dituduh sebagai gila jabatan.

Baca juga: Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan Ansor

Terbukti akhirnya tuduhan itu berakibat fatal. Pada pemilu 1955, suara Masyumi benar-benar anjlok di titik nadir. NU menempati posisi ketiga dalam pemilu 1955, pas di bawah posisi PNI baru Masyumi. Sementara posisi nomor 4 adalah PKI. Tak lama setelah itu, Masyumi dibubarkan oleh Seokarno karena beberapa tokohnya terlibat PRRI/ Permesta. Bahkan hingga kini Masyumi tak pernah hidup lagi. Mati, sirna.

Kontroversi NU berlanjut. NU di bawah Mbah Wahab, pada era demokrasi terpimpin, bergabung dengan koalisi Nasakom (nasionalis diwakili PNI, agama diwakili NU, dan komunis diwakili PKI) yang digagas oleh Soekarno. Lagi-lagi NU dicerca dan dicaci maki. Bahkan kiai-kiai NU disebut kiai Nasakom.

Mereka tidak tahu bahwa ijtihad NU waktu itu adalah untuk keberadaan PKI di pemerintahan Seokarno supaya tidak mendominasi kebijakan. Terbukti, setelah peristiwa G30S/PKI, NU menjadi ormas paling depan yang mengganyang PKI dengan tokoh mudanya, Subhan ZE. Lagi-lagi, NU tidak terbukti berideologi PKI.

Selanjutnya, di zaman Gus Dur, NU lebih kontroversial lagi. Saat peristiwa Tanjung Priok tahun 1984, militer di bawah kendali LB Murdani menembaki umat Islam Tanjung Priok hingga menimbulkan ratusan korban. Protes terjadi dimana-mana, bahkan hampir mengarah pada kerusuhan nasional. Tapi, Gus Dur saat itu justru membawa LB Murdani mengunjungi pesantren-pesantren NU.

Gus Dur berpendapat, jika situasi tidak segera diredam, maka korban dari umat Islam akan bertambah besar lagi. Waktu itu posisi Soeharto sedang kuat-kuatnya. Berani melawan Soeharto berarti mati. (Baca juga: Kisah Tombak Trisula Gus Dur kepada LB Moerdani)

Atas kebijakan kontroversial itu, tak pelak Gus Dur mendapat hujatan dan cacian dari sana sini, bahkan dari warga NU sendiri. Gus Dur sempat dituduh telah murtad karena telah membela orang kafir Murdani.

Demi menjaga keutuhan bangsa ini, kita tak usah heran jika NU selalu jadi sasaran hujatan, cercaan, dan fitnah. Tidak perlu kaget jika ulama-ulama NU dicaci maki, karena dalam setiap pengorbanan selalu ada caci maki, hujatan, dan fitnah yang mengiringi.

NU besar karena ia sudah teruji dengan pelbagai macam cacian demi menjaga keutuhan bangsa ini. Jika hari ini NU dan ulama-ulama nya dihujat, dicaci maki, difitnah, dibully, ini hanya sejarah yang berulang. Jadi biarkan saja. Sebab, sebagaimana Gus Dur pernah mengatakan, "biarlah nanti sejarah yang akan membuktikan". [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/kiai-nu-dihujat-itu-biasa-hanya-sejarah-yang-terulang-saja.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Darussalam Jatibarang dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock