Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juli 2013

Full Day School di Pesantren Bukan Take and Give

Pondok Darussalam Jatibarang - Tersenyum mendengar perdebatan di media massa terkait full day school. Beberapa bahkan sampai pada pertanyaan yang agak menggelitik: memang gurunya mau di bayar berapa?

Pertanyaan itu lantas loncat ke dalam konteks dimana kami berkutat: pesantren. Kalau full day and night school seperti pesantren lantas bagaimana? Pesantren kan tak ada batas waktunya? 24 jam mendidik. 24 jam mengawasi santri. 7 hari seminggu. Libur hanya 6 bulan sekali. Siang malam menjalankan program. Tak hanya di kelas. Mandi, makan, tidur semuanya jadi kurikulum.

Full Day School di Pesantren Bukan Take and Give - Pondok Darussalam Jatibarang
Full Day School di Pesantren Bukan Take and Give - Pondok Darussalam Jatibarang


Full Day School di Pesantren Bukan Take and Give

Lalu, ya itu tadi: emang gurunya dibayar berapa?

Pertanyaan itu mengungkapkan pemahaman bawah sadar masyarakat yang sangat serius. Bisa jadi menandakan pemahaman bahwa pendidikan sudah menjadi komoditas yang bersifat transaksional. Take and give. Murid membayar, guru dibayar.

Hal yang insya Allah tidak didapati di pondok pesantren yang hakiki karena memang pesantren sejatinya tidak memakai sistem transaksional dan ukuran duniawi seperti ini. Semangat pesantren yang ada hanyalah give, give dan give. Tidak ada take and give.

Pondok Darussalam Jatibarang

Wakif ikhlas mewakafkan lahannya. Kyai ikhlas memimpin. Guru ikhlas mendidik. Santri ikhlas dididik. Walisantri ikhlas menyerahkan putra putrinya untuk dididik.

Pondok Darussalam Jatibarang

Itulah kenapa beban kerja pendidik di pesantren tidak bisa dihitung pakai matematika dunia. Apalagi jika sampai dihitung perjam pelajaran. Apalagi sampai pakai hitungan lembur pula. Karena niat mereka memang bukan bekerja mencari penghasilan seperti layaknya pegawai di instansi-instansi lainnya.

Dalam sistem pesantren, santri hanya membayar apa yang mereka pakai. Makanan, listrik, air dan sebagainya. Zelf berdruiping system. Bersama memakai bersama membayar. Tidak ada rumusan santri membayar guru.

Mendidik santri adalah bentuk perjuangan. Bentuk pengabdian kepada agama dan bangsa. Lalu bagaimana mereka menghidupi keluarga mereka? Itulah rahasia keberkahan yang dijanjikan Allah SWT kepada siapapun yang mau membantu agama-Nya.

(إن تنصر الله ينصركم ويثبّت أقدامكم)

In tanshurullaah yanshurukum wa yutsabbit aqdamakum.

Burung saja keluar sarang sudah dijanjikan rejekinya oleh Sang Maha Pemberi Rezeki. Transaksional? Bukan tempatnya di pesantren. Apalagi jika hanya berfikir mengambil apa yang ada di pesantren.

Dari model proses pendidikan yang terjaga niat keikhlasannya inilah diharapkan didapatkan keberkahan ilmu dan ridha Ilahi serta outputnya para peserta didik berakhlaqul karimah dan bermanfaat bagi dirinya, agama, keluarga dan bangsanya. Amin. Ayo Mondok! [Pondok Darussalam Jatibarang

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/full-day-school-di-pesantren-bukan-take-and-give.html

Minggu, 19 Mei 2013

Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak

Bantul, Pondok Darussalam Jatibarang. Gunungan wayang setinggi 11 meter direncanakan akan turut meramaikan pameran wayang yang dilaksanakan Pesantren Kaliopak, 27-30 November 2014.

Bahannya dari lilitan pelepah pisang dan anyaman bambu. Pembuatannya memakan waktu dua minggu lebih, kata M Imam, ketua pelaksana kegiatan, Selasa (25/11) malam, di Pesantren Kaliopak, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak (Sumber Gambar : Nu Online)
Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak (Sumber Gambar : Nu Online)


Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak

Sebelum berdiri di lokasi pameran, gunungan wayang ini diarak atau biasa disebut kiraban. Gunungan dikirab dari Mancasan ke Dusun Klenggotan, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

Pendirian gunungan yang merupakan rangkaian kegiatan Pekan Peringatan 11 Tahun Pengukuhan Wayang Pusaka Kemanusia Dunia ini bermaksud menandakan simbol gunungan secara filosofis. Pameran yang dilaksanakan berkat kerja sama Pesantren Kaliopak, Lesbumi, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini mengusung tema Ngaji Wayang.

Pondok Darussalam Jatibarang

Ngaji wayang maksudnya untuk memahami wayang lebih dalam, bukan sekadar melihat dari luar. Bahkan, wayang bisa untuk menginternalisasi diri kita sendiri, papar M Jadul Maula, pendiri Pesantren Kaliopak.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pameran ini menghadirkan karya dari 17 seniman. Di antaranya Agus Nuryanto, Ardian Kresna, Indiria Maharsi, Ki Suharno Cermo Sugondho, Nasirun, dan Yoyo. Karya lukis yang dihadirkan mencapai 24 karya. (Red: Mahbib)

Foto: Kitab gunungan wayang 11 meter

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55977/gunungan-wayang-11-meter-hiasi-pameran-wayang-di-kaliopak

Jumat, 07 September 2012

KH Mundziri Jepara: Gerhana Matahari Bukan Atraksi Tuhan

Pondok Darussalam Jatibarang - Gerhana matahari total tidak hanya fenomena alam. Meskipun terjadi sekali dalam ratusan tahun, hal itu tetap atas kehendak Allah sebagai tanda dan pengingat agar kita bersyukur atas nikmat cahaya matahari setiap saat.

KH Mundziri Jepara: Gerhana Matahari Bukan Atraksi Tuhan - Pondok Darussalam Jatibarang
KH Mundziri Jepara: Gerhana Matahari Bukan Atraksi Tuhan - Pondok Darussalam Jatibarang


KH Mundziri Jepara: Gerhana Matahari Bukan Atraksi Tuhan

Matahari adalah makhluk yang taat kepada Allah. Tidak pernah sekalipun ia padam seperti listrik, kecuali pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Demikian kata KH. Mundziri Jauhari dalam khutbah usai shalat gerhana matahari bersama ratusan warga nahdliyyin dan masyarakat Jepara lainnya di Majid Agung Jepara, Rabu pagi (9 Maret 2016).

Dalam khutbahnya selama 20 menit, Kiai Mundziri menyampaikan pesan dan kritik. Pesan yang disampaikan agar memperbanyak dzikir kepada Allah selama gerhana dan memperbanyak sedekah, baik yang rahasia maupun terbuka. Peristiwa gerhana adalah waktu mulia yang diberikan Allah kepada kita untuk bersyukur.

Hendaknya gerhana menjadikan kita lebih dekat dengan Allah, tidak hanya menyebut gerhana sebagai peristiwa alam biasa saja tanpa menyandarkannya kepada Allah. Menurut Mundziri, ini bagian dari praktik yang mendangkalkan akidah.

"Dan patut disayangkan, dua hari yang lalu, salah satu tokoh besar skala nasional menulis dengan judul yang sangat terang bahwa gerhana ini adalah atraksi Tuhan," ujarnya dalam khutbah.

Kita bertempat di bumi Allah Ta’ala, selama hidup kita makan rizki dari Allah. "Maka kita dituntut untuk selalu memuliakan Allah Ta’ala, bukan justru menyebut Allah seperti seorang akrobat yang suka beratraksi. Ini, nyuwun sewu, merupakan dosa yang amat besar," lanjut khutbahnya.

Sebelum rampung pukul 08.00 WIB, H. Ahmad Marzuki Bupati Jepara, juga berkesempatan memberikan tausiyah kepada hadirin sebagaimana pesan Kyai Mundziri. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/kh-mundziri-jepara-gerhana-matahari-bukan-atraksi-tuhan.html

Senin, 26 Maret 2012

Pesantren Kawah Candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin

Kudus, Pondok Darussalam Jatibarang. Meski disebut lembaga pendidikan tradisionalis, pesantren telah menjadi kawah candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin. Dari sini, pesantren banyak melahirkan generasi muslim yang modern, progresif dan toleran dalam keberagaman..

Demikian yang disampaikan Pengasuh Pesantren Nahdlatut Thalibin Tayu Pati KH Abu Ahmad Nadhif Abdul Mudjib pada seminar bertema Penguatan Islam toleran, Menepis Radikalisme, yang diselenggarakan Lembaga Pusat Kajian Multikultural (PUSAKA) di Aula Balai Desa Rendeng Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (28/12).

Pesantren Kawah Candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kawah Candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Kawah Candradimuka Islam Rahmatan lil Alamin

Gus Nadhif mengatakan pesantren sering dituding sebagai lembaga keagamaan konservatif dan statis, namun kenyataannya tetap eksis dalam dinamika modernitas. Pesantren telah mampu menunjukkan dirinya sebagai lembga yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dirinya sendiri.

Pondok Darussalam Jatibarang

Pesantren itu memiliki khazanah intelektual klasik, karya sarjana Islam terkemuka dan otoritatif di bidangnya masing-masing. Di dalamnya mengandung pikirn-pikiran pluralistik yang bersahaja, ujarnya.

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, lanjut dia, pesantren telah memainkan peran tranformasi sosial dan kultural. Pesantren selalu apresiatif terhadap kebudayaan lokal dengan bersikap akomodatifatas kebudayaan dan tradisi-tradisi lokal.

Pondok Darussalam Jatibarang

Ia memaparkan melalui ajaran-ajaran sufisme yang dikembangkan pesantren, praktik-praktik tradisi dan ekspresi budaya dalam mesyarakat bukan menjadi masalah sepanjang mendasarkan diri pada prinsip tauhid. Hal ini karena, pesantren melihat persoalan ini tidak dari format dan mekanisme formalistik melainkan subtansinya.

Makanya, kita menolak tegas sikap dan cara pandang kelompok puritan radikal yang memahami pandangan akomodatif tersebut sebagai bidah (sesat) dan musyrik, tegas Gus Nadhif.

Terkait adanya image pesantren sebagai sarang teroris, ia menyanggahnya. Menurutnya, adanya pesantren yang selama ini dituding mencetak kader teroris dikarenakan hanya menyatakan menganut dan mengajarkan Aswaja, tetapi hanya mengikuti para salafus sholih tanpa mengikuti mazhab tertentu.

Pesantren tersebut mendistorsi pengertian salafus sholih tanpa menyatakan diri mengikuti mazhab tertentu,terangnya.

Disamping Gus Nadhif, seminar yang dihadiri puluhan peserta dari kalangan ormas keagamaan dan pesantren ini menghadirkan juga ketua umum Asosia Tani Nusantara (ASTANU) Lukman Hakim sebagai pembicara kedua.(Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49071/pesantren-kawah-candradimuka-islam-rahmatan-lil-alamin

Pondok Darussalam Jatibarang

Minggu, 16 Oktober 2011

Uang Bagaikan Air, Jika Ditahan Dia Kotor. Kosongkan Dompet Agar Kembali Terisi!

Pondok Darussalam Jatibarang - Suatu hari istri dari KH Rahmat Abdullah (Almarhum) mengeluh tentang persediaan uang untuk kebutuhan rumah tangga yang tinggal sedikit, Ust Rahmat pun menjawabnya dengan tenang: "Santai aja ibu.. duit kalo tinggal dikit artinya mau dateng lagi "

Subhanallah, ungkapan yang sangat singkat, namun padat, begitulah kelebihan yang Allah berikan kepada para ulama, sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair "خير الكلام ما قل ودل / Sebaik-baik perkataan yang sedikit dan argumentatif "

Uang Bagaikan Air, Jika Ditahan Dia Kotor. Kosongkan Dompet Agar Kembali Terisi! - Pondok Darussalam Jatibarang
Uang Bagaikan Air, Jika Ditahan Dia Kotor. Kosongkan Dompet Agar Kembali Terisi! - Pondok Darussalam Jatibarang


Uang Bagaikan Air, Jika Ditahan Dia Kotor. Kosongkan Dompet Agar Kembali Terisi!

Ungkapan Ust Rahmat mengajarkan kita bahwa uang itu mengisi tempat yang kosong, karenanya jika Allah ingin kembali mengisi dompet kita, kosongkanlah sebagiannya untuk membantu sesama .

Pondok Darussalam Jatibarang

Uang itu bagaikan air yang didalam gelas, jika belum kita minum, maka air didalam botol tak akan bisa mengisinya. Uang itu bagaikan air jika ditahan dia kotor, adapun jika kita melepasnya maka ia akan bersih

Uang itu bagaikan air jika ia ditahan, maka ia akan mencari jalan keluarnya sendiri, karenanya Nabi saw berujar "ما حالطت الصدقة مالا إلا أفسدته "Tidaklah sedekah bercampur dengan harta, melainkan ia akan merusak harta tersebut ".

Pondok Darussalam Jatibarang

Ia akan mencari jalan keluarnya sendiri melalui "anak kita yang sakit sehingga harus ke dokter , handphone kita yang hilang, mobil kita yang rusak dan lain lain yang menguras harta kita.

Uang itu seperti udara ,ia selalu mengisi ruang yang kosong, karenanya berbagi dan kosongkanlah, biarlah Allah dengan caranya mengisi kehampaan itu. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/uang-bagaikan-air-jika-ditahan-dia-kotor-kosongkan-dompet-anda.html

Sabtu, 21 Mei 2011

Sedekah Atas Nama Orang yang Meninggal Itu Dianjurkan

Pondok Darussalam Jatibarang - Untuk Menjawab tuduhan kesamaan tradisi kematian umat Islam yang disamakan dengan tradisi di Hindu-Budha, ada penjelasan menarik dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Hijaz di Makkah dan Madinah dari Madzhab Syafiiyah, tentang sedekah atas nama orang yang sudah meninggal:

Sedekah Atas Nama Orang yang Meninggal Itu Dianjurkan - Pondok Darussalam Jatibarang
Sedekah Atas Nama Orang yang Meninggal Itu Dianjurkan - Pondok Darussalam Jatibarang


Sedekah Atas Nama Orang yang Meninggal Itu Dianjurkan

وَالتَّصَدُّقُ عَنِ الْمَيْتِ عَلَى وَجْهِ شَرْعِيٍّ مَطْلُوبٌ وَلَا يُتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ سَبْعَةَ أيَّامٍ او أَكْثَرَ او أَقَلَّ ، وَتَقْيِيدٌ بِبَعْضِ الْأيَّامِ مِنَ الْعَوَائِدِ فَقَطْ. كَمَا أَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدُ أَحْمَدُ دَحَلانَ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيْتِ فِي ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِي سابعٍ وَفِي تَمامِ الْعَشْرَيْنِ وَفِي الأربعين وَفِي المِائَةِ وَبَعْدَ ذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلًا فِي يَوْمِ الْمَوْتِ كَمَا أَفَادَ شَيْخُنَا يُوسُفُ السَنْبَلاَوِينِي (نهاية الزين باب الوصية للشيخ نووي البنتني)

“Bersedekah atas nama mayit dengan cara yang syar’i adalah dianjurkan, tanpa ada ketentuan harus 7 hari, lebih atau kurang dari 7 hari. Sedangkan penentuan sedekah pada hari-hari tertentu itu hanya merupakan kebiasaan masyarakat saja, sebagaimana difatwakan oleh Sayyid Ahmad Dahlan.

Sungguh telah berlaku di masyarakat adanya kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga kematian, hari ketujuh, dua puluh, empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya. Sebagaimana disampaikan oleh guru kami Syaikh Yusuf al-Sunbulawaini.”. (Nihayatuz Zain bab Wasiat karya Syeikh Nawawi Banten)

Kalau di sekitar Negeri Hijaz kala itu telah membolehkan sedekah pada hari-hari tertentu, akankah terkontaminasi budaya Hindu-Budha? Pernahkah Hindu-Budha masuk ke wilayah Hijaz?

Andaikata ada kemiripan, apakah dalam Hindu-Budha membaca Yasin dan Tahlil? Kalau semua hal yang sama dengan agama lain, maka dalam agama Hindu-Budha juga ada pernikahan. Apakah anda akan meninggalkan pernikahan karena di semua agama ada nikah? [Pondok Darussalam Jatibarang]

Ma'ruf Khozin, Aswaja NU Center Jatim

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/sedekah-atas-nama-orang-yang-meninggal-itu-dianjurkan.html

Rabu, 12 Januari 2011

Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran

Pondok Darussalam Jatibarang - Sikap penolakan Front Pembela Islam (FPI) Jawa Tengah kepada Ibu Sinta Nuriyah Wahid (istri Gus Dur) pada acara buka puasa bersama di Gereja Kristus Raja Ungaran yang kemudian digeser ke Gereja Yakobus Pudak Payung Semarang pada Kamis (16 Juni 2016) sore tadi, adalah berlebihan.

Hanya dengan alasan khawatir terjadi gangguan keamanan karena menolak doa bersama lintas agama, FPI hendak melakukan kontrol tanpa wewenang di Semarang hingga mengusir tamu kehormatan yang diundang. Demikian dikatakan oleh Ubbadul Adzkiya’, aktivis Lembaga Studi Sosial dan Agama (Elsa) Semarang, sore tadi.

Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran - Pondok Darussalam Jatibarang
Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran - Pondok Darussalam Jatibarang


Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran

Bahkan, FPI Ungaran juga mengancam akan membubarkan diskusi dalam nobar “Pulau Buru Tanah Air Beta” dan lounching buku karya Tsabit Azinar Ahmad berjudul “Sejarah Kontroversial dalam Perspektif Pendidikan” yang rencananya akan diselenggarakan di Rumah Simpul Buku, Sekarang, Semarang pada 17-18 Juni 2016 besok.

Bukan tidak mungkin, setelah mengusir Sinta Nuriyah, FPI akan memblokir jalan dan mengancam acara diskusi. “Bedah buku Tan Malaka juga ditolak oleh FPI Semarang karena dianggap buku komunis padahal mereka tidak membaca,” kata Nafiul Haris, jurnalis, kepada Pondok Darussalam Jatibarang.

Sementara itu, Banser Jateng menyatakan tetap mengawal Ibu Sinta Nuriyah hingga aman dari makar FPI. “Di mana pun tempatnya, apa pun bentuknya, dan kapan pun waktunya, dalam rangka untuk mengawal Ibu Nyai Shinta Nuriyah, istri guru kita, kyai kita, Kyai Abdurrahman Wahid, silaturrahim keilmuan, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah,” kata Hasyim As’ary, Kasatkorwil Banser Jawa Tengah. [Pondok Darussalam Jatibarang/ m abdullah badri]

Pondok Darussalam Jatibarang

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/awas-setelah-usir-sinta-nuriyah-fpi-semarang-akan-sasar-diskusi-di-ungaran.html

Pondok Darussalam Jatibarang

Senin, 26 Juli 2010

LBMNU Akan Selenggarakan Halaqah Gizi

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul (LBMNU) akan menggelar halaqah bertema Pentingnya Gizi dalam Menciptakan Generasi Berkualitas di gedung PBNU, Lantai 5, Jakarta Pusat, Kamis (14/3) siang.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj akan menjadi pembicara kunci pada forum ini. Para pembicara lainnya adalah Katib Aam PBNU KH Malik Madani, guru besar Fakultas Ekologi Manusia IPB Prof Dr Ir Hardiansyah, juga pejabat negara, seperti Dirjen Bina Gizi dan KIA Kemnterian Kesehatan RI dan Kepala BKKBN.

LBMNU Akan Selenggarakan Halaqah Gizi (Sumber Gambar : Nu Online)
LBMNU Akan Selenggarakan Halaqah Gizi (Sumber Gambar : Nu Online)


LBMNU Akan Selenggarakan Halaqah Gizi

Draf panduan kegiatan (TOR) yang diterima Pondok Darussalam Jatibarang menyebutkan, agenda ini dilatarbelakangi permasalahan gizi anak ketika bayi diharuskan untuk tidak mendapatkan air susu langsung dari ibunya (ASI). Hal ini bisa disebabkan sang ibu sedang mengidap penyakit tertentu yang dapat membahayakan bayi atau ibunya.

Makanan pengganti bagi bayi yang terganggu persoalan ASI ini sangat dibutuhkan untuk mencetak generasi mendatang yang berkualitas secara jasmani dan rohani. Anehnya, tidak sedikit masyarakat yang abai dengan gizi dan nutrisi selain ASI, baik yang sudah berbentuk susu formula atau yang lainnya.

Pondok Darussalam Jatibarang

Apalagi menyusui (radlaah) merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan dalam Islam. Setidaknya ada enam ayat al-Quran yang membicarakan perihal penyusuan anak, yaitu ayat 233 surat al-Baqarah, ayat 23 surat an-Nisa, ayat 2 surat al-Hajj, ayat 7 juga ayat 12 surat al-Qashash dan ayat 6 surat ath-Thalaq, demikian bunyi TOR.

Pondok Darussalam Jatibarang

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43023/lbmnu-akan-selenggarakan-halaqah-gizi

Pondok Darussalam Jatibarang

Selasa, 26 Mei 2009

Kiai Said Prihatin Kelompok Radikal Kini Makin Keras Hingga Islam Tampak Mengerikan

Pondok Darussalam Jatibarang - Fenomena keagamaan mutakhir, menunjukkan gejala semakin mengerasnya kelompok muslim radikal. Kelompok-kelompok Islam yang melakukan aksi politik dengan simbol agama, mengabaikan tradisi-tradisi yang selama ini menjadi strategi dakwah.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj mengungkapkan betapa pergerakan ormas-ormas Islam yang menyingkirkan tradisi, melupakan sejarah panjang dakwah Islam di negeri ini. Hal ini, disampaikan Kiai Said menjelang Peringatan Harlah Nahdlatul Ulama, di Kantor PBNU, Jakarta, pada Sabtu (28/01/2017). Peringatan Harlah NU akan diselenggarakan pada 30-31 Januari 2017.

"Mereka yang berdakwah dengan kekerasan dan memusuhi seni budaya, lupa dengan sejarah hadirnya Islam di bumi Nusantara. Dakwah Walisongo dengan cara damai, menggunakan rasa dan seni. Medianya berupa Wayang dan suluk-suluk yang menguatkan rasa," ungkap Kiai Said.

Kiai Said Prihatin Kelompok Radikal Kini Makin Keras Hingga Islam Tampak Mengerikan - Pondok Darussalam Jatibarang
Kiai Said Prihatin Kelompok Radikal Kini Makin Keras Hingga Islam Tampak Mengerikan - Pondok Darussalam Jatibarang


Kiai Said Prihatin Kelompok Radikal Kini Makin Keras Hingga Islam Tampak Mengerikan

Menurut Kiai Said, memahami cara dakwah Walisongo harus bertahap hingga komprehensif. "Dakwah para Wali itu merangkul, bukan memukul. Misalnya, mereka yang suka slametan diajak slametan dulu, yang kemudian diisi dengan ritual Islam, membaca ayat-ayat al-Qur'an dan shalawat. Wayang juga sama, ada pesan tentang syahadat dan ajaran Islam," jelas Kiai Said.

Pondok Darussalam Jatibarang

Kiai Said berpesan, agar pendakwah Islam haruslah belajar dari Walisongo. "Strategi Wali Songo dan kiai-kiai pesantren berhasil mengislamkan orang kafir. Ini sudah terbukti. Bukan malah mengkafir-kafirkan orang," terang Kiai Said.

Dalam uraiannya, Kiai Said menjelaskan tentang pentingnya fiqih, akhlak dan tasawuf sebagai rangkaian yang tidak bisa putus. Menurut Kiai Said, dengan memahami hukum Islam, teladan sikap Rasulullah dan puncak spiritualitas, maka Islam akan menjadi agama yang sejuk dan ramah, bukan agama yang mengerikan. [Pondok Darussalam Jatibarang]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kiai-said-prihatin-kelompok-radikal-kini-makin-keras.html

Pondok Darussalam Jatibarang

Senin, 24 September 2007

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Warna lokal atau penyebaran Islam dengan menghargai budaya setempat agar mudah diterima oleh masyarakat ternyata bukan monopoli Islam Indonesia. Marokko, salah satu negera dengan penduduk mayoritas muslim juga sangat menghargai tradisi lokal.

Informasi ini dikemukakan oleh Nasrullah Jasam, MA, alumni Ponpes Assidiqiyah Jakarta yang kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Abdul Malik Sadi Tetauan Marokko, saat berkunjung ke Pondok Darussalam Jatibarangpekan lalu.

Diceritakan oleh Nasrullah bahwa banyak tradisi Islam di Marokko yang mirip dengan Indonesia seperti dalam ritual orang meninggal seperti peringatan tujuh hari, 40 hari sampai dengan haul. Contoh lain, kalau di Indonesia ada istilah bubur merah, bubur putih, di Marokko pada momen-moment tertentu ada makanan tertentu, dan hanya keluar pada saat itu. Pada hari Jumat, mereka makan kus-kus, makanan seperti tumpeng. Pada bulan Ramadhan, di Indonesia ada makanan tertentu, hal yang sama juga terjadi di Marokko.

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko (Sumber Gambar : Nu Online)


Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko

Jadi ada benang merah. Kalau memang Syeikh Maghribi itu betul dari Marokko mungkin bisa terlacak, tapi sampai sekarang asal Islam di Indonesia masih kontraversi, jadi saya kira hampir sama dengan Indonesia, tidak puritan seperti di Arab Saudi, sangat kultural dan ramah terhadap budaya lokal, tandasnya.

Dijelaskannya bahwa wilayah Marokko merupakan wilayah yang terarabisasi atau mustarob, bukan Arab murni, sama juga dengan Mesir dan Aljazair. Ketika Islam masuk dan ingin diterima secara ramah, maka konsekuensinya seperti yang terjadi di Indonesia dimana kulitnya tidak dipertahankan tetapi substansi ajarannya tidak dirubah.

Seperti juga di Indonesia, tasawwuf juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, Nasrullah menuturkan bahwa secara pribadi ia pernah mengikuti ritual tasawwuf di Marokko, yaitu tarekat Kodiriah Buziziyah. Pada bulan maulud yang di Indonesia dirayakan dengan meriah, hal yang sama juga dilakukan di Marokko, ada tarekat yang melakukan semacam kholwat selama 30 hari, ada yang menghadiahi sapi yang besar dan gemuk.

Pondok Darussalam Jatibarang

Justru model seperti ini banyak menarik orang-orang bule, karena Marokko kan berdekatan dengan Eropa, untuk belajar Islam. Jadi nuansa mistiknya kuat. Katakanlah daerah-daerah seperti Marakhes, kalau kita ke sana kita rasakan mistisnya sangat kuat, imbuhnya.

Kebebasan Beragama Dihargai

Dalam beberapa aspek, kebebasan dalam menjalankan agama juga dihargai. Setiap warga negara diajarkan tentang ajaran Islam, tetapi negara tidak memaksakannya. Alumni Ponpes Assidiqiyah tersebut memberi contoh meskipun ia kuliah di fakultas Ushuluddin yang notabene merupakan fakultas agama, tetapi mahasiswa tidak diwajibkan untuk berjilbab dan jika berjilbab, ini merupakan atas kesadaran pribadinya, bukan atas paksaan. Saat ini, para pemikir Marokko sangat bangga bahwa Islam di Marokko paling moderat. Terlepas dari fihak lain setuju atau tidak, imbuhnya.

Hari Raya Selalu Bersamaan

Pondok Darussalam Jatibarang

Jika di Indonesia, berlebaran bisa diawali pada hari yang berbeda, jangan harap hal tersebut terjadi di Marokko. Meskipun ada pendapat yang berbeda tentang penentuan hari lebaran, tetapi ketika pemerintah memutuskan, semua warga negara mengikutinya. Ini memang berkaitan dengan perangkat UU yang memungkinan negara bisa menentukan kapan puasa diawali dan diakhiri. Dalam UU Marokko, setiap warga negara wajib berpuasa Ramadhan, sebagai konsekuensinya, jika ia berlebaran duluan sementara negara masih belum memutuskan puasa diakhiri, ia bisa dijerat UU.

Ada komitmen bahwa pemimpin spiritual adalah raja sebagai amirul mukminin dan kebijakan harus keluar dari sana. Jadi saya kira kewibawaan pemerintah yang membedakan. Kalau di Indonesia, sebagai contoh dalam kasus lebaran. Kalau ada ormas yang menyatakan lebaran berbeda, Depag tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang perangkat hukumnya tidak ada. Tapi kalau disana tidak, kalau diputuskan hari ini, ya harus hari ini karena memang UU-nya jelas. Ini peranan pemerintah yang paling signifikan, tandasnya.

Dijelaskannya secara umum, penduduk Marokko mengikuti mazhab Maliki, baik para pengikut salafy atau tradisional. Hal ini terefleksikan dari wudhunya, bahkan dari wiridan yang mereka baca setiap sholat sampai dengan sholat taraweh semuanya sama, mungkin hanya lagunya saja yang berbeda.

Kesempatan Beasiswa

Sampai sekarang, baru sekitar 40-an mahasiswa Indonesia yang belajar disana. Sebagian besar belajar pada tingkat pascasarjana dengan komposisi 20 persen belajar S1, 30 persen belajar S2 dan 50 persen studi doktoral.

Pemerintah Marokko memberikan jatah 15 orang untuk beasiswa disana Marokko, tapi selama ini tidak berjalan lancar karena ada tumpang tindih dalam pengelolaannya. Depag menerima dan yang daftar sendiri juga diterima. Namun kebijakan ini sudah diperbaiki dengan kebijakan satu pintu melalui kedutaan Marokko di Indonesia tetapi difasilitasi oleh Depag.

Sayangnya, karena komunitas NU masih kecil, mereka belum melembaga seperti di Mesir dengan KMNU-nya. Karena komunitas NU-nya terlalu kecil, kalau kita membentuk nanti malah menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dari teman-teman yang berhaluan lain. Jadi kita tetap personal saja, tetapi sering mengadakan halaqah, umpamanya informasi tentang NU bisa kita baca dari Pondok Darussalam Jatibarang, gusmus.net, atau gusdur.net, paparnya. (mkf)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/8971/ada-benang-merah-antara-islam-indonesia-dengan-marokko

Pondok Darussalam Jatibarang

Rabu, 29 November 2006

IPNU-IPPNU Sleman Gelar Pendidikan Kader Perintis

Sleman, Pondok Darussalam Jatibarang. Kondisi IPNU-IPPNU Sleman hari ini cukup menghawatirkan, karena jajaran pengurus untuk periode saat ini mayoritas diisi oleh para pelajar pendatang, bukan pelajar asli Sleman.

Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi IPNU-IPPNU Sleman mengadakan acara Pendidikan Kader Perintis (PKP) untuk seluruh MWC yang ada Kabupaten Sleman.

IPNU-IPPNU Sleman Gelar Pendidikan Kader Perintis (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Sleman Gelar Pendidikan Kader Perintis (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU-IPPNU Sleman Gelar Pendidikan Kader Perintis

Demikian disampaikan oleh Biki Uthbek Mubarok, Ketua IPNU Sleman (23/8), menjelang acara Pendidikan Kader Perintis yang akan berlangsung selama tiga hari, yakni mulai tanggal 23-25 Agustus 2013.

Pondok Darussalam Jatibarang

Acara ini diselenggarakan di SD NU Yogyakarta yang terletak di jalan Jl. Ringroad Barat, Nogotirto, Sleman.

Ditanya mengenai tujuan diadakannya acara tersebut, Uthbek, demikian rekan-rekanita akrab memanggilnya, mengungkapkan bahwa agar regenerasi NU tidak macet di tengah jalan.

Pondok Darussalam Jatibarang

IPNU-IPPNU itu kan merupakan sebuah organisasi pengkaderan NU. Bisa dikatakan IPNU-IPPNU adalah cikal bakalnya NU. Kalau pengkaderan IPNU-IPPNU sudah nggak karuan, bagaimana dengan NU ke depannya. Jadi regenerasi di tubuh IPNU-IPPNU jangan mandek di tengah jalan, ujarnya.

Terkait dengan harapan diadakannya acara tersebut, Ketua IPNU Sleman yang sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengungkapkan ada beberapa hal.

Harapan saya ke depannya dengan diadakannya acara ini, untuk yang pertama adalah agar nantinya kader-kader yang dihasilkan dari acara ini mampu mengawal MWC di masing-masing kecamatan dan bisa mengajak pelajar-pelajar NU di Sleman untuk masuk ke dalam IPNU-IPPNU. Kedua, dengan adanya acara ini semoga menjadi ajang untuk mempertahankan regenerasi di tubuh NU. Ketiga, nantinya diharapakan dari acara ini akan muncul kader-kader unggulan NU untuk memperbaiki SDM NU, ujarnya panjang lebar.

Dalam acara yang dimulai Jumat siang sekitar pukul 14.00 WIB, peserta diberikan materi-materi terkait dengan manajemen organisasi, publik manajeman, leadership, analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat), konsep bela negara dalam pandangan aswaja, dan strategi dan taktik organisasi. Rencananya, kader-kader tersebut akan secara langsung dilantik oleh KH Nurjamil Dimyati, Ketua PCNU Sleman, Ahad siang.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor : Rokhim

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46607/ipnu-ippnu-sleman-gelar-pendidikan-kader-perintis

Pondok Darussalam Jatibarang

Jumat, 13 Oktober 2006

KH Yusuf Hasyim Meninggal Dunia

Jombang, Pondok Darussalam Jatibarang. KH Yusuf Hasyim atau lebih dikenal dengan Pak Ud, Ahad (14/1) malam, sekitar pukul 19.00 WIB, meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama hampir dua minggu di RSUD dr Sutomo, Surabaya. Putra terakhir Hadratus Syeikh KH Hasyim Asyary dipanggil kehadirat-Nya pada usia ke-78 dan akan di makamkan di makam keluarga Tebuireng, Jombang.

Pak Ud dirawat di rumah sakit dr Soetomo sejak Selasa (2/1) lalu dan langsung ditangani oleh dua dokter spesialis RSUD dr Soetomo, masing-masing Prof Hernowo (ahli internis) dan Prof Dr Aboe Amar Yusuf (ahli syaraf) yangadalah mantan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur. Dugaan sementara, terjadi penyumbatan pada tulang belakang. Untuk membuktikannya masih memerlukan foto rontgen, namun hal itu belum bisa dilakukan karena belum memungkinkan.

Sejak beberapa waktu terakhir, Komandan Banser Nasinalpertama itu seringkali mengalami kesulitan buang air besar. Dimungkinkan, selain karena faktor usia yang sudah sepuh, dan juga karena seringnya terjatuh

KH Yusuf Hasyim Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Yusuf Hasyim Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)


KH Yusuf Hasyim Meninggal Dunia

Menurut Irfan Yusuf, salah seorang putra yang rajin menunggui, ayahnya sempat terjatuh cukup parah ketika berlangsung Muktamar NU di Semarang (1979). Sejak itu kesehatannya lambat laun semakin melemah. Dalam Munas dan Kombes NU di Surabaya (Juli 2006) lalu, Pak Ud sempat hadir, meski harus dipapah oleh para santri. Dalam acara itu, ia juga sempat terjatuh ketika hendak makan.

Kesehatan Pak Ud sebelumnya sempat membaik ketika berada di Graha Amerta Dr Soetomo. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Karena tekanan darahnya terus memburuk, akhirnya harus dipindahkan ke ruang ICU.

Kiai Muchid Muzadi salah seorang murid Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asyari yang lebih tua 5 tahun dari Pak Ud bercerita, dua minggu sebelum sakit Pak Ud sempat memintanya untuk datang. Mungkin karena dia merasa kesepian, katanya ketika dihubungi Pondok Darussalam Jatibarang. (sbh/nam)

Pondok Darussalam Jatibarang

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/5837/kh-yusuf-hasyim-meninggal-dunia

Pondok Darussalam Jatibarang

Pondok Darussalam Jatibarang

Sabtu, 17 September 2005

Dosen UNU Indonesia Menangi Proposal Riset soal Teknologi Nano

Jakarta, Pondok Darussalam Jatibarang. Terpilih atau lolos dalam suatu perlombaan atau pemilihan, mungkin menjadi harapan bagi semua orang yang mengikuti suatu pemilihan atau perlombaan. Tetapi ada juga peserta pemilihan atau lomba yang setelah terpilih justru merasa terkejut.

Hal itulah yang dirasakan Suryandaru, ST MT, yang proposal penelitiannya berjudul Pengolahan Limbah Seng Menjadi Nano Sengosida sebagai Aplikasi Kemasan Anti Bakteri dan Kosmetik disetujui oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Kemendikti).

Dosen UNU Indonesia Menangi Proposal Riset soal Teknologi Nano (Sumber Gambar : Nu Online)
Dosen UNU Indonesia Menangi Proposal Riset soal Teknologi Nano (Sumber Gambar : Nu Online)


Dosen UNU Indonesia Menangi Proposal Riset soal Teknologi Nano

Waktu menerima kabar bahwa proposal saya lolos, ini kayaknya mustahil karena bersaing dengan peneliti dan dosen dari seluruh Indonesia, papar dosen Teknik Industri di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia saat dihubungi Pondok Darussalam Jatibarangbaru-baru ini.

Pondok Darussalam Jatibarang

Penelitian yang diajukan pria yang biasa dipanggil Ndaru ini berkaitan dengan pengolahan limbah seng yang diproses dengan teknologi yang akan menghasilkan nano seng. Karena seng sudah bersifat nano, maka bisa berubah sifat seperti itu. Nano seng dapat dimanfaatkan sebagai anti bakteri dan bahan kosmetik. Dengan kata lain Ndaru memanfaatkan rekayasa material.

Ndaru terinspirasi mengajukan penelitian tersebut karena ingin membuat nilai tambah yang tinggi dari barang-barang yang sudah dibuang.

Dosen muda kelahiran Belitung, 25 Maret 1989 merencanakan dalam proses penelitiannya akan melibatkan mahasiswa tempat dia mengajar.

Pondok Darussalam Jatibarang

Ini sangat penting sebagai proses transfer ilmu. Saya sebagai dosen yang juga melakukan penelitian. Jadi bagaimana melibatkan mahasiswa agar memahami pembelajaran dan tahapan-tahapan dalam penelitian, tambah Ndaru yang hobi bermain catur bahkan sempat menjadi juara nasional saat duduk di bangku SMA.

Ndaru yang juga sering diundang sebagai tenaga ahli untuk pendidikan membuat biogas, memang tertarik dengan teknologi yang mungkin bagi kebanyakan orang sangat rumit. Menurut Ndaru, walaupun rumit teknologi tersebut penuh nilai manfaat bagi masyarakat.

Terkait dengan prestasi dan kesibukannya, Ndaru mendorong dosen-dosen lain, terutama di UNU Indonesia untuk melakukan penelitian. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66257/dosen-unu-indonesia-menangi-penelitian-riset-soal-teknologi-nano

Pondok Darussalam Jatibarang

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Darussalam Jatibarang dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock