Senin, 20 November 2006

Makna Wali dan Karomah Menurut KH Sholeh Darat

Oleh M. Rikza Chamami

Banyak diskusi tentang perwalian menjadi berhenti karena takut salah membahas. Atau diskusi perwalian menjadi dangkal karena bahan materi yang tersedia tidak terlalu banyak. Termasuk diskusi perwalian menjadi terhambat karena yang mengajak diskusi bukan wali dan dihentikan dengan kalimat la yarifu al-wali illa al-wali, tidak mengetahui kewalian seseorang kecuali seseorang wali.

Makna Wali dan Karomah Menurut KH Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Wali dan Karomah Menurut KH Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)


Makna Wali dan Karomah Menurut KH Sholeh Darat

Nampaknya memang suasana yang demikian butuh pencerahan. Satu sisi memang positif bahwa membincang soal wali bukan hanya sekedar bicara individu manusia saja. Akan tetapi lebih luas karena wali merupakan orang pilihan dan harus dihormati. Namun jika diskusi membahas wali itu berhenti, maka generasi yang akan datang tidak akan mendapat kisah tentang wali-wali dan bakal tersimpan rapat oleh generasi tua.

Bagaimana Syekh Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) memberi dasar tentang pemahaman wali dan karomahnya? Diantara penjelasan Mbah Sholeh Darat tentang wali dan karamah adalah dalam syarh nadzam Jauhar al-Tauhid Syekh Ibrahim Allaqani: .

Pondok Darussalam Jatibarang

Pondok Darussalam Jatibarang

Wali menurut Mbah Sholeh Darat adalah seorang arif billah (mengetahui Allah) sekedar derajat dengan menjalankan secara sungguh-sunggu taat kepada Allah dan menjauhi masiyat. Artinya para wali itu menjauhi segala macam kemaksiyatan berbarengan dengan selalu bertaubat kepada Allah. Sebab wali itu belum kategori mashumin (terjaga) seperti Nabi. Maka wali belum bisa meninggalkan masiyat secara penuh. Makanya mereka disebut waliyullah.

Keberadaan wali yang sedemikian agung ini mendapatkan keistimewaan dalam hidupnya. Mereka dalam hidupnya selalu mengingat dan menggantungkan diri, dan menyatukannya pada Allah. Hati selalu menghadap dan pasrah dengan taqdir Allah saja. Itulah definisi sederhana mengenai wali menurut Mbah Sholeh Darat.

Adapun karomah menurut Mbah Sholeh Darat sesuatu yang nulayani adat (berbeda dari sewajarnya) jika dilihat secara kasat mata. Mereka yang mendapat karomah selalu menunjukkan kepribadian baik dan meniru jejak Rasulullah dengan bekal syariah dan baik secara ideologi serta perilakunya.

Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya nampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah. Dan bagi pengikut ahlussunnah wal jamaah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karomah yang ada para wali ketika hidup maupun sudah wafat.

Para ulama muhaqqiqin menyampaikan: Barangsiapa yang tidak nampak karamanya setelah meninggal sebagaimana karamah ketika masih hidup, maka itu tidak benar. Imam Syaroni juga berpesan kepada para Syaikh: Sesungguhnya Allah SWT itu selalu membuat wakil berupa satu malaikat di dalam kuburnya para wali, yang bertugas mengabulkan seluruh hajat manusia.

Selain itu, seorang waliyullah juga terkadang keluar dari kuburnya untuk mengabulkan hajat manusia yang meminta hajat sebagaimana persaksian karomah para wali itu secara kasat mata (musyahada karamah al-auliya). Sebagaimana Sayyid Al Aidarusi Al Adnani, Shahib Al Tubani, Sayyid Abdul Qadir Al Jilani, Sayyid Ahmad Al Badawi.

Satu pertanyaan yang dimunculkan oleh Mbah Sholeh Darat dalam Kitab Sabil Al Abid adalah: Kenapa zaman akhir para wali banyak kelihatan karomahnya? Dan kenapa zaman Sahabat dan Tabiin tidak nampak wujud karomah wali?

Oleh Mbah Sholeh dijawab, bahwa zaman akhir ditunjukkan banyak karomah karena manusia di zaman akhir banyak kesalahan (dlaif) keyakinan agamanya. Maka mereka didampingi oleh para wali dengan karomahnya agar semakin kuat keyakinan agamanya dan patuh kepada orang shalih. Dengan demikian, generasi zaman akhir tidak mudah menghina para orang-orang sholih.

Berbeda dengan orang-orang zaman al-awwalin (periode Sahabat dan Tabiin) yang dalam hidupnya masih sangat yakin kepada orang-orang shalih. Sehingga karamah para wali tidak diperlihatkan. Apalagi pada zaman Sahabat, dimana Rasulullah SAW masih hidup bersama mereka.

Penjelasan Mbah Sholeh tentang wali ini merupakan dasar dari pemaknaan kata wali dan karomah cukup memberikan pencerahan. Penjelasan lengkap mengenai wali dalam karya tulis Mbah Sholeh Darat terdapat dalam Kitab Minhaj al-Atqiya fi Syarh Marifah al-Adzkiya il Thariqi al-Auliya (tebalnya kitab ini 516 halaman). Ini menjadi ibrah bahwa generasi masa kini hendaknya menghormati orang shalih dan selalu ingin dekat kepada orang terkasih. Derajat wali pada hakikatnya titipan dari Allah, bukan predikat yang dipasang secara mandiri dan diumumkan. Wallahu alam.***

Penulis adalah Wakil Ketua KOPISODA (Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat), Dosen UIN Walisongo Semarang.

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70411/makna-wali-dan-karomah-menurut-kh-sholeh-darat

Pondok Darussalam Jatibarang

Bukanlah blog resmi dari Pondok Darussalam Jatibarang atau situs yang diasuh oleh pesantren darussalam brebes, namun kami adalah santri Kalong / laju. Yang mendedikasikan diri agar pondok ini dikenal dunia luar..


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Darussalam Jatibarang dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock