Jumat, 02 Januari 2009

Foto yang Disangka Mbah Sholeh Darat Selama Ini Ternyata Keliru?

Jakarta, Pondok Darussalam JatibarangBagi kalangan santri atau pemerhati Islam di Nusantara, nama KH Sholeh Darat as-Samarani tentu tidak asing. Guru pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan pendiri Nahdlatul Ulama KH Muhammad Hasyim Asyari ini dibincangkan banyak kalangan, dikutip pendapat-pendapatnya, dan ditulis kiprah dan jasa-jasanya.

Mbah Sholeh Darat, demikian ia biasa dipanggil, selalu digambarkan dengan sosok berkacamata, mengenakan sorban putih di kepala, dan memakai baju hitam. Hal itu tampak dari foto Mbah Sholeh Darat yang dipasang di sejumlah situs di internet. Dengan mengetik kata kunci sholeh darat pada mesin pencarian Google, peselancar dunia maya akan disuguhi foto hitam-putih tersebut di deretan pertama.

Foto yang Disangka Mbah Sholeh Darat Selama Ini Ternyata Keliru? (Sumber Gambar : Nu Online)
Foto yang Disangka Mbah Sholeh Darat Selama Ini Ternyata Keliru? (Sumber Gambar : Nu Online)


Foto yang Disangka Mbah Sholeh Darat Selama Ini Ternyata Keliru?

Tak hanya di jagat internet, foto ini bahkan juga terpajang di sebagian rumah warga NU yang menaruh hormat dan mengagumi ulama yang produktif menulis kitab itu. Namun, siapa sangka gambar yang diyakini sebagai foto wajah Mbah Sholeh Darat itu ternyata dipertanyakan kebenarannya?

Pondok Darussalam Jatibarang

Dari informasi yang saya kumpulkan, foto itu bukan foto KH Sholeh Darat, tetapi foto KH M Minhajul Adzkiya, salah satu pendiri PCNU Kabupaten Cilacap pada tahun 1936, kata Fahrur Rozi, Wakil Ketua Pengurus Lakpesdam NU Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, kepada Pondok Darussalam Jatibarang beberapa waktu lalu lewat surat elektronik.

Ia mengaku sudah melakukan konfirmasi kepada keturunan pemilik foto tersebut, yaitu KH Suada Adzkiya (Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cilacap). KH Suada Adzkiya membenarkan bahwa gambar wajah yang selama ini diyakini sebagai Mbah Sholeh Darat adalah foto ayahnya.

Pondok Darussalam Jatibarang

KH M Minhajul Adzkiya meninggal pada tahun 1986 dan dimakamkan di Kroya, Cilacap, dan haulnya selalu diperingati setiap bulan Rabiul Awal. Foto itu terpampang di hampir semua rumah keluarga besar KH M Minhajul Adzkiya di Kroya.

Pondok Darussalam Jatibarang yang juga sempat percaya foto Mbah Sholeh Darat itu pun menelusuri kebenaran tersebut ke penulis biografinya, Mohammad Ichwan. Iya. Memang foto yang beredar di internet yang dikira sebagai foto Mbah Sholeh itu bukan foto beliau, jelas Ichwan yang kini serius mengumpulkan seluruh karya KH Sholeh Darat ini.

Di buku biografi yang ia tulis, Ichwan juga tidak menampilkan foto wajah Mbah Sholeh Darat, kecuali foto langgar kayunya. Ichwan lantas menceritakan kronologi kesalahpahaman itu berdasarkan penuturan keluarga Mbah Sholeh Darat yang ia terima.

Pada tahun 2010 ada wartawan dari Jakarta mewawancarai Pak M Ali, cucu Mbah Sholeh yang memangku Masjid Darat. Si wartawan diberi data banyak, termasuk nama kitab-kitab karya beliau. Salah satu kitab bernama Minhajul Atqiya, tuturnya. Nama lengkap kitab itu adalah Minhajul Atqiya fi Syarhi Marifatil Adzkiya, mirip dengan nama salah satu pendiri PCNU Kabupaten Cilacap di atas.

Si wartawan, tambahnya, ingin membuat tulisan tentang Mbah Sholeh beserta fotonya. Karena enggak ada, maka direka dari foto Pak Ali. Dikiranya Mbah Sholeh mirip cucu lelakinya itu sehingga entah dengan teknis montase apa, foto sang cucu lantas beredar di internet dengan caption foto Mbah Sholeh Darat. Anak-anak Pak Ali, semua sahabat saya, meyakini itu foto mirip Pak Ali," pungkasnya. Pak Ali yang wafat pada 17 September 2011 adalah putra Kiai Cholil bin KH Sholeh Darat.

Mbah Sholeh Darat bernama lengkap Muhammad Shalih bin Umar as-Shamarani. Ayahnya, Kiai Umar, adalah salah seorang pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro di Jawa bagian utara, Semarang. Ia lahir di Desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar 1820 M. Sedangkan informasi lainnya menyatakan bahwa, Kiai Shaih Darat dilahirkan di Bangsri, Jepara. Ia wafat di Semarang pada 18 Desember 1903 M/28 Ramadlan 1321 H.

Imbuhan Darat di belakang namanya digunakan lantaran ia tinggal di kawasan yang bernama Darat, suatu daerah di pesisir utara Semarang, tempat mendarat orang-orang dari luar Jawa. Kini daerah Darat termasuk wilayah Semarang Barat.

Ada belasan kitab karyanya yang berhasil dikumpulkan hingga sekarang, antara lain Majmuat Syariat al-Kafiyat lil Awam, Munjiyat: Metik Sangking Ihya Ulumid Din al-Ghazali, terjemah bahasa Jawa Al-Hikam karya Ibnu Athailah, Lathaifut Thaharah, Faidhur Rahman, Pasolatan, dan lain-lain. (Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66300/foto-yang-disangka-mbah-sholeh-darat-selama-ini-ternyata-keliru

Pondok Darussalam Jatibarang

Bukanlah blog resmi dari Pondok Darussalam Jatibarang atau situs yang diasuh oleh pesantren darussalam brebes, namun kami adalah santri Kalong / laju. Yang mendedikasikan diri agar pondok ini dikenal dunia luar..


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Darussalam Jatibarang dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock